"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Mengenal Wehea–Kelay Kaltim, Rumah Orangutan dan Satwa Langka

Keanekaragaman Hayati di Bentang Alam Wehea-Kelay

Bentang alam Wehea-Kelay, yang terletak di Kabupaten Kutai Timur hingga Berau di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), merupakan kawasan penting yang menjadi rumah bagi berbagai satwa langka dan flora. Pada 30 Juni 2015, kawasan ini ditetapkan sebagai rumah pelestarian satwa-satwa yang terancam punah, khususnya Orangutan. Selain itu, Wehea-Kelay juga ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay yang digelar di hotel Mercure, Kota Samarinda, pada Rabu (14/1/2026), ditemukan sejumlah satwa langka yang berhasil diidentifikasi. Beberapa di antaranya adalah Orangutan Kalimantan, Lutung Kutai, Rangkong Gading, Trenggiling, Beruang Madu, Bangau Storm, Macan Dahan, dan Kucing Merah. Penelitian tematik biodiversitas yang berlangsung sepanjang 2025 mencatat sedikitnya 1.618 jenis flora dan fauna. Komposisinya mencakup 38 persen mamalia terestrial, 47 persen jenis burung, 20 persen reptil, dan 70 persen amfibi. Selain itu, teridentifikasi 88 jenis serangga dari kelompok kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 jenis tumbuhan hutan.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan bahwa riset dilakukan melalui pemantauan lapangan, termasuk penggunaan kamera jebak dan perekam suara satwa. Dibandingkan pendataan serupa pada 2016 yang mencatat 1.343 jenis, studi terbaru ini menunjukkan penambahan 275 jenis flora dan fauna. Hal ini disebabkan oleh metode yang lebih baik dan komitmen pihak-pihak yang berkepentingan di Wehea-Kelay terkait dengan pelestarian keanekaragaman hayati.

Peran Penting dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Herlina Hartanto, menjelaskan bahwa kolaborasi pengelolaan Wehea-Kelay dimulai sejak 2015, berfokus pada perlindungan koridor jelajah orangutan yang mengikuti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan hulu Sungai Telen. Kawasan ini juga berperan sebagai penyangga utama Sungai Mahakam dan Sungai Segah, dengan lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai yang menopang kebutuhan air masyarakat Berau dan Kutai Timur.

Sekitar 80 persen wilayahnya masih berupa hutan alami yang diperkirakan menyimpan 191 juta ton setara karbondioksida, menjadikannya kawasan penting bagi mitigasi perubahan iklim. Studi terakhir menunjukkan ada penambahan temuan jenis flora dan fauna dari pendataan awal, yang menandai dampak positif pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay.

Selain konservasi, pengelolaan kawasan juga diarahkan pada pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui riset bioprospeksi. Sejumlah tumbuhan hutan yang dikaji diketahui berpotensi dikembangkan untuk produk kesehatan dan bernilai ekonomi.

Pengelolaan Berbasis Kolaborasi

Saat ini, pengelolaan Wehea-Kelay melibatkan 23 pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, hingga masyarakat adat. Pola kerja sama ini dinilai dapat menjadi model pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia. Direktur Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menilai praktik kolaboratif di Wehea–Kelay layak direplikasi di wilayah lain.

Potensi Ekowisata dan Wisata Budaya

Wehea-Kelay juga merupakan tempat tinggal masyarakat adat Dayak Wehea. Ketua Forum KEE Wehea-Kelay, Rafiddin Rizal, dalam webinar Pengembangan Ekowisata Alam dan Primata di Bentang Alam Wehea-Kelay Kalimantan Timur, menyebutkan kawasan ini berpotensi untuk pengembangan ekowisata berbasis lanskap. Masyarakat adat Dayak Wehea mampu mengembangkan potensi wisata di daerahnya melalui budaya.

Salah satu pengembangan ekowisata yang telah berlangsung hingga kini adalah pesta adat Lom Plai yang dilakukan setiap April. Lom Plai ini telah masuk menjadi kalender wisata tahunan di Kabupaten Kutai Timur. Upacara ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Wehea setelah mereka selesai panen padi. Tujuan diadakan Lom Plai adalah sebagai pengungkapan rasa syukur atas panen yang telah mereka dapatkan. Upacara ini juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan peringatan pengorbanan dari Long Diang Yung (putri tunggal Ratu Diang Yung, penguasa suku Wehea) yang rela mengorbankan dirinya untuk masyarakat yang sedang dilanda kelaparan dan kekeringan.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *