Nurul Akmal, Atlet Angkat Besi Aceh yang Merasa Tidak Adil
Nurul Akmal, atlet angkat besi asal Aceh, resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu bersama 5.486 tenaga honorer Aceh. Namun, meskipun mendapatkan status kerja yang lebih stabil, ia merasa kecewa karena pengangkatan ini tidak menjamin masa tua yang aman.
Sebagai peraih medali emas dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), Nurul berharap prestasinya dapat diakui dengan pengangkatan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) tetap. Ia menyatakan bahwa kontribusinya mengharumkan nama Indonesia seharusnya mendapat apresiasi lebih besar.
“Keinginan ya ada, tapi kembali lagi ke Pemerintahan Aceh. Sudah beberapa kali di-up (disuarakan) tetapi enggak ada hasilnya juga,” ujarnya. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah dalam memperjuangkan nasib atlet berprestasi seperti dirinya.
Kekecewaan atas Status PPPK Paruh Waktu
Meski bersyukur atas kepastian status kerjanya, Nurul mengaku harapan untuk menjadi pegawai tetap belum terwujud. Ia merasa bahwa prestasinya selama ini tidak cukup untuk mendapatkan perlakuan yang adil dari pemerintah.
“Kayak enggak adil saja sih, kek enggak bisa terima gitu. Cuma mau gimana lagi, takutnya nanti enggak dapat apa-apa kalau banyak kali protes dan menuntut,” katanya. Nurul juga menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak puas dengan status PPPK paruh waktu, termasuk dirinya sendiri.
Ia khawatir tentang masa depannya setelah pensiun. “Entah lah, mau pasrah tapi saya juga mikir masa tua saya bagaimana nanti begitu,” tambahnya.
Minta Direkomendasikan ke Pemerintah Pusat
Sebelum menerima SK PPPK paruh waktu, Nurul sudah meminta agar Pemerintah Aceh memperjuangkan dirinya ke pemerintah pusat agar diangkat menjadi ASN. Ia berharap pemerintah pusat memberikan kebijakan khusus bagi atlet berprestasi internasional seperti dirinya.
“Kenapa enggak diperjuangkan ke pusat sana, kementerian begitu, rekomendasi untuk saya yang betul-betul bawa nama Aceh,” ujarnya. Meski merasa tidak bisa menolak, Nurul berharap suatu hari nanti ia bisa mendapatkan perlakuan yang lebih baik.
Siapa Nurul Akmal?
Nama Nurul Akmal mulai dikenal setelah tampil di final kelas 87 kilogram dalam Olimpiade Tokyo 2020. Ia adalah putri dari seorang petani di Desa Serba Jaman Tunong, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara.
Nurul mulai berlatih angkat besi sejak tahun 2010 saat ia duduk di kelas 1 SMA. Awalnya, ia ditemukan oleh perwakilan pelatihan karena potensinya dalam mengangkat padi. Dari situ, ia dilatih dan dibina di Diklat Tunas Bangsa, dengan semua biaya ditanggung oleh Dispora Aceh.
Sebelum Olimpiade 2020, Nurul telah berpartisipasi dalam berbagai turnamen internasional. Misalnya, pada 2017, ia bertanding di Summer Universiade di Taiwan dan menempati posisi ke-6 pada nomor +90 kg putri. Di tahun yang sama, ia meraih medali perak di ajang Islamic Solidarity Games di Baku, Azerbaijan.
Pada 2018, Nurul ditunjuk menjadi wakil Indonesia di Asian Games. Saat test event Asian Games 2018, ia berhasil meraih medali emas di kelas 75+ kg dengan total angkatan 250 kg. Di 2019, ia meraih medali perunggu di kelas 87+ kg di ajang Piala Qatar Internasional.
Setelahnya, Nurul memastikan tiket ke Olimpiade Tokyo 2020 setelah menempati peringkat ke-6 di Kejuaraan Asia di Uzbekistan. Ia menjadi atlet pertama dari Aceh yang tampil di Olimpiade sejak 33 tahun silam. Kali terakhir ada atlet asal Aceh yang tampil di Olimpiade adalah Alkindi pada cabang anggar Olimpiade 1988 Seoul, Korea Selatan.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











