Guillermo del Toro Mengagumi Avatar sebagai Mahakarya Mutlak
Guillermo del Toro, sutradara ternama yang dikenal dengan karya-karyanya seperti Pan’s Labyrinth dan The Shape of Water, mengungkapkan kekagumannya terhadap film-film Avatar. Dalam sebuah wawancara, ia menyentuh sampul DVD Avatar dengan penuh perhatian, seolah sedang mengingat kembali dunia yang pernah ia kunjungi lebih dulu daripada siapa pun.
“Saya sudah melihat ketiga Avatar. Semuanya adalah mahakarya mutlak,” katanya dengan mata yang menyala-nyala. “Saya tahu ke mana arahnya, dan saya pikir itu akan mengejutkan banyak orang.”
Pujian ini bukan hanya dari seorang penggemar, tetapi dari seseorang yang memiliki penghargaan tinggi terhadap seni dan kreativitas. Del Toro menganggap James Cameron sejajar dengan para pencipta mitologi besar seperti George Lucas. Menurutnya, hanya sedikit sineas Amerika yang mampu membangun dunia seluas dan sedalam Pandora.
Sejarah Kekuatan antara Del Toro dan Cameron
Pujian Del Toro kepada Cameron tidak hanya berasal dari rasa hormat antar-sineas. Ada sejarah panjang yang menghubungkan keduanya. Pada tahun 1997, ayah Del Toro, Federico del Toro, diculik di Guadalajara, Meksiko, dan ditahan selama 72 hari. Saat itu, Del Toro masih seorang sutradara muda yang tidak punya cukup uang untuk membayar tebusan.
Dalam keputusasaan, ia menelepon seorang sahabat: James Cameron. Cameron langsung bertindak cepat. Ia tidak hanya menawarkan membayar seluruh tebusan, tetapi juga mengirim negosiator sandera profesional dari Inggris—biaya yang mencapai seperempat juta dolar AS. Cameron menanggung semuanya terlebih dahulu, lalu keluarga Del Toro membayarnya kembali setelah krisis berlalu.
“Jim adalah saudaraku,” kata Del Toro. “Saya meneleponnya, dan dia berkata: ‘Ikuti instruksi negosiator. Kami akan menanganinya.’”
Ayah Del Toro akhirnya dibebaskan dengan selamat. Kejadian itu mengubah hidup sang sutradara selamanya, membuatnya memindahkan keluarga ke Amerika Serikat dan menjadikan Cameron bukan hanya teman, tetapi saudara.
Avatar: Fire and Ash, Film Ketiga yang Dinanti
Film ketiga dari seri Avatar, yang berjudul Avatar: Fire and Ash, dijadwalkan dirilis pada 19 Desember 2025. Dalam babak ini, suku Na’vi akan berhadapan dengan ancaman baru: Ash People, klan yang lebih kelam dan dikabarkan bersekutu dengan musuh lama keluarga Jake Sully, Kolonel Quaritch.
Del Toro menyatakan bahwa arah cerita film ketiga akan “mengguncang banyak orang”—sebuah pernyataan yang semakin memantik rasa penasaran publik. Bagi Del Toro, Avatar bukan hanya film. Ia adalah proyek raksasa yang lahir dari ketekunan seorang pria yang tidak pernah puas.
Mitologi Besar yang Dibangun oleh Dua Saudara
Kini, puluhan tahun kemudian, Del Toro kembali memandang hasil karya Cameron—bukan sekadar sebagai penonton, tetapi sebagai seseorang yang mengenal kedalaman ambisi di baliknya. Ucapan Del Toro—“semuanya mahakarya”—datang seperti restu dari seorang saudara yang sejak lama menyaksikan perjalanan panjang itu.
Dengan rilis Avatar: Fire and Ash yang semakin dekat, kata-kata Del Toro menjadi gema yang menggantung di udara: sebuah janji bahwa dunia Pandora masih menyimpan sesuatu yang tak pernah kita duga.











