"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Mengapa Motivasi Bisa Jadi Beban?

Fenomena Motivasi yang Malah Menyebabkan Tekanan

Lini masa media sosial penuh dengan berbagai diskusi mengenai fenomena motivasi yang justru membuat seseorang merasa tertekan. Topik ini menarik perhatian banyak orang setelah seorang pengguna media sosial membagikan unggahan yang menunjukkan pesan WhatsApp dari ibunya. Pesan itu menceritakan kisah sukses seorang anak tukang bangunan yang berhasil lulus S1 dan S2 di ITB melalui jalur fast track. Pemilik akun merasa bahwa pesan tersebut justru tidak memberikan motivasi, tetapi justru membuatnya meragukan diri.

Banyak warganet mengaku mengalami situasi serupa. Mereka merasa bahwa nasihat bernada motivasi justru terasa seperti tekanan baru. Pertanyaannya adalah: mengapa motivasi kadang malah membuat seseorang semakin tertekan?

Alasan Motivasi Berbalik Jadi Tekanan

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal menjelaskan bahwa motivasi tidak selalu berdampak positif. Dalam beberapa kasus, dorongan yang dimaksudkan untuk menyemangati justru bisa menimbulkan perasaan gagal, cemas, atau tidak berharga. Hal ini terjadi ketika motivasi disampaikan tanpa memahami kondisi emosional penerima atau jika pesan tersebut mengandung tekanan dan ekspektasi tinggi.

Menurut Danti, ada beberapa penyebab utama motivasi bisa berbalik jadi tekanan:

  1. Tujuan yang tidak realistis

    Motivasi sering kali mendorong seseorang menetapkan target yang terlalu tinggi dalam waktu singkat. Ketika target mustahil dicapai, kegagalan itu dapat diartikan sebagai bukti ketidakmampuan diri. Hal ini membuat seseorang semakin kehilangan semangat, bukan bertambah termotivasi.

  2. Terjebak dalam perbandingan sosial

    Kisah sukses orang lain, baik teman, keluarga, maupun figur publik, dapat memicu rasa minder jika dijadikan standar yang harus dicapai. Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan titik start yang berbeda. Motivasi dalam bentuk perbandingan kerap menciptakan tekanan tambahan dan membuat usaha diri sendiri terasa tidak berarti.

  3. Terlalu fokus pada hasil, bukan proses

    Motivasi yang menekankan pencapaian eksternal, seperti pujian atau prestasi, dapat membuat proses terasa sebagai beban. Ketika hasil tidak sesuai harapan, seluruh energi mental runtuh. Menurut Danti, hal ini yang menyebabkan motivasi ekstrinsik sering tidak stabil.

  4. Bekerja terlalu keras hingga burn out

    Dorongan untuk terus produktif, termasuk dalam budaya hustle, membuat banyak orang mengabaikan waktu istirahat. Kondisi ini menyebabkan burn out, yaitu kelelahan fisik dan mental yang parah, yang otomatis menurunkan motivasi.

Dinamika Psikologis di Balik Turunnya Motivasi

Danti menjelaskan, ada dua faktor psikologis yang sangat berperan dalam menjaga motivasi seseorang tetap sehat dan stabil:

  1. Efikasi diri (self-efficacy)

    Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menyelesaikan suatu tugas. Efikasi diri rendah membuat seseorang merasa ragu, mudah menyerah, dan menghindari tantangan. Di titik itu, motivasi apa pun justru terasa menyakitkan. Sementara itu, orang dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih tenang dan gigih menghadapi tantangan.

  2. Locus of control

    Locus of control adalah keyakinan seseorang mengenai siapa atau apa yang mengendalikan hasil hidupnya. Ada dua jenis keyakinan ini:

  3. Internal locus of control, yaitu meyakini bahwa usaha diri sendiri mempengaruhi hasil.
  4. External locus of control, yaitu ketika seseorang meyakini hasil hidup bergantung pada keberuntungan, nasib, atau orang lain.

Menurut Danti, motivasi lebih mudah runtuh jika seseorang memiliki external locus of control karena ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Jika seseorang percaya bahwa apa pun usahanya, hasilnya tidak akan berubah, motivasi justru terasa seperti tekanan.

Menyikapi Motivasi yang Membuat Down

Untuk membangun motivasi yang lebih sehat, Danti menekankan dua hal besar, yaitu meningkatkan efikasi diri dan membangun internal locus of control. Keduanya dapat dilatih melalui langkah-langkah berikut:

  1. Meningkatkan efikasi diri

    Untuk mengembangkan efikasi diri, Danti menyarankan untuk menguasai tugas-tugas kecil secara konsisten. Pecah tugas besar menjadi bagian kecil agar Anda bisa merasakan keberhasilan setiap hari. Keberhasilan kecil ini adalah bukti konkret bagi otak bahwa seseorang mampu. Melihat orang lain yang mirip dengan diri kita berhasil juga dapat menambah keyakinan. Namun, Danti mengingatkan agar membedakan antara inspirasi dan perbandingan destruktif. Fokusnya harus pada proses, bukan pada hasil akhir seseorang. Selain itu, dukung diri sendiri dengan kata-kata realistis. Alih-alih berkata “aku pasti gagal”, gunakan afirmasi netral dan berorientasi proses seperti “aku akan mencoba selangkah demi selangkah”.

  2. Membangun internal locus of control

    Ia juga menyarankan untuk mengidentifikasi bagian dari masalah yang bisa diperbaiki melalui usaha pribadi. Hal-hal seperti cuaca, perilaku orang lain, atau keberuntungan bukan bagian dari kendali internal. Mencatat apa yang terjadi, apa yang sudah dilakukan dengan baik, dan apa yang bisa diperbaiki, juga perlu dipertimbangkan. Dengan cara ini, kegagalan menjadi bahan evaluasi, bukan hukuman. Terakhir, Danti menegaskan bahwa motivasi perlu datang dari nilai dan keinginan pribadi, bukan tekanan sosial. Pertanyaan pentingnya adalah, apakah saya menginginkan ini, atau saya merasa saya seharusnya menginginkannya?

Meski membangun motivasi yang sehat butuh waktu, Danti menegaskan bahwa ini sangat mungkin dilakukan. Dengan efikasi diri yang kuat dan locus of control yang lebih internal, seseorang akan lebih stabil dan tidak mudah jatuh saat mendapatkan dorongan dari luar.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *