"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Startup Tiongkok Dapat 2.300 GPU NVIDIA Melalui Indosat Di Tengah Larangan AS

Perusahaan Rintisan China Akses GPU NVIDIA Melalui Indosat

Perusahaan rintisan asal Tiongkok, INF Tech, dikabarkan berhasil mengakses sekitar 2.300 GPU NVIDIA melalui PT Indosat Tbk (ISAT) di tengah ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Hal ini menunjukkan adanya kelemahan dalam pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh pemerintah AS terhadap perusahaan teknologi Tiongkok.

Menurut laporan dari Wall Street Journal, Presiden AS telah melarang NVIDIA menjual chip Blackwell terbaru mereka ke Tiongkok. Namun, investigasi tersebut menemukan bahwa perusahaan Tiongkok masih bisa memperoleh chip tersebut melalui berbagai cara, termasuk melalui perusahaan yang berbasis di Indonesia.

Proses Penjualan GPU

Jejak transaksi ini dimulai di California, di mana NVIDIA menjual chip terbarunya ke Aivres, mitra mereka yang membangun server AI dan bermarkas di AS. Aivres diduga memiliki saham sebagian dari Inspur, perusahaan teknologi Tiongkok yang masuk daftar hitam pemerintah AS karena hubungannya dengan militer Tiongkok. Meskipun demikian, Aivres tidak terikat oleh pembatasan ekspor asing selama mematuhi aturan ekspor AS, karena statusnya sebagai perusahaan domestik.

Indosat kemudian membeli 32 rak server Nvidia GB200 dari Aivres. Setiap rak berisi 72 chip Blackwell, sehingga total mencapai 2.304 GPU. Nilai kesepakatan ini mencapai sekitar US$100 juta atau Rp1,67 triliun (kurs: Rp16.701).

Keterlibatan INF Tech dan Universitas Fudan

Menurut sumber Wall Street Journal, saat Indosat membeli GPU tersebut, Aivres telah menemukan klien untuk Indosat, yaitu INF Tech, startup yang mengembangkan AI untuk aplikasi keuangan dan kesehatan. INF Tech didirikan oleh Qi Yuan, warga negara AS kelahiran Tiongkok yang juga memimpin institut AI di Universitas Fudan. Perwakilan universitas tersebut hadir dalam negosiasi antara INF Tech dan Indosat, meskipun INF Tech yang menandatangani kontrak. Server-server tersebut telah terpasang di situs Indosat di Jakarta sejak Oktober 2025.

INF Tech menyatakan kepada Wall Street Journal bahwa mereka tidak melakukan penelitian dengan aplikasi militer dan mematuhi kontrol ekspor AS. Sementara itu, CEO Indosat, Vikram Sinha, menegaskan bahwa perusahaan bekerja dengan perusahaan multinasional. “Setiap pelanggan di luar Indonesia melalui regulasi yang sama, baik perusahaan AS maupun China. Jika memenuhi semua regulasi, kami mendukungnya,” kata Vikram.

Perspektif Pemerintah AS

Tom’s Hardware melaporkan bahwa karena Indosat, INF Tech, dan Universitas Fudan tidak termasuk dalam Daftar Entitas AS, kesepakatan ini dianggap sah. Namun, hal ini memicu kekhawatiran di kalangan penentang akses perusahaan Tiongkok ke perangkat keras AS. Mereka berargumen bahwa meskipun perusahaan-perusahaan ini tidak bekerja sama dengan Partai Komunis Tiongkok (PKC) atau militer saat ini, pemerintah Beijing bisa memaksa kerjasama kapan saja.

Aturan AI Diffusion dari pemerintahan Biden seharusnya mencegah hal ini, tetapi Presiden Trump tidak menerapkannya. Di sisi lain, NVIDIA mendorong kontrol ekspor yang lebih longgar untuk mempertahankan kepemimpinan AS.

Tanggapan dari NVIDIA

Juru bicara NVIDIA menyatakan tim kepatuhan mereka telah mengevaluasi dan menyetujui mitra sebelum pengiriman chip. “Kami mendukung visi pemerintahan Trump untuk mengamankan kepemimpinan AI AS dan menciptakan lapangan kerja Amerika,” katanya.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *