Perang Pemakzulan di Tubuh PBNU: Gus Yahya Menolak Mundur
Pada hari Kamis, 20 November 2025, sebuah rapat yang digelar oleh Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Aston Jakarta menghasilkan beberapa putusan yang mengejutkan. Salah satu poin utama dalam risalah rapat tersebut adalah permintaan agar Ketua Umum PBNU periode 2022-2027, Yahya Cholil Staquf atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Yahya, mengundurkan diri dari jabatannya dalam waktu tiga hari sejak keputusan tersebut diterima.
Gus Yahya menolak keras permintaan ini dan menilai bahwa keputusan yang diambil oleh Syuriah PBNU, khususnya Rais Aam Miftachul Akhyar, merupakan langkah sepihak tanpa melalui proses musyawarah yang wajar. Ia menyatakan bahwa keputusan tersebut tidak mewakili keinginan seluruh anggota organisasi, melainkan hanya hasil dari kelompok tertentu yang ingin menggulingkannya.
Alasan Pemakzulan Gus Yahya
Menurut informasi yang beredar, ada tiga alasan utama yang menjadi dasar pemakzulan Gus Yahya. Pertama, kehadiran akademikus zionis Peter Berkowitz dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) dinilai melanggar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Berkowitz pernah menulis buku yang membela Israel terhadap berbagai kritik hukum internasional, sehingga dianggap memiliki afiliasi dengan jaringan zionisme internasional.
Kedua, pelaksanaan AKN NU dengan narasumber yang berafiliasi dengan zionisme di tengah kontroversi global terhadap Israel dinilai bertentangan dengan Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025. Pasal 8 huruf a dalam peraturan ini menyebutkan bahwa pemberhentian tidak dengan hormat dilakukan jika fungsionaris melakukan tindakan yang mencemarkan nama baik organisasi.
Ketiga, adanya indikasi pelanggaran terhadap tata kelola keuangan di lingkungan PBNU. Rapat menilai bahwa praktik keuangan tersebut melanggar hukum syara’, ketentuan peraturan perundang-undangan, serta Anggaran Rumah Tangga NU.
Reaksi Gus Yahya
Gus Yahya mengungkapkan bahwa sejak awal pertemuan Syuriah, sudah ada keinginan untuk memberhentikan dirinya dari kursi Ketua Umum PBNU. Ia menilai bahwa upaya pemakzulan ini adalah bagian dari strategi yang dirancang oleh pihak-pihak tertentu untuk membenarkan tindakan mereka tanpa memberikan kesempatan bagi dirinya untuk memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa keputusan yang diambil oleh Syuriah PBNU, terutama Rais Aam, adalah keputusan sepihak. “Saya katakan tadi, keputusannya keputusan sepihak oleh Syuriah dalam hal ini Rais Aam,” ujarnya dengan tegas.
Proses Musyawarah yang Diperlukan
Meski telah ada risalah rapat harian yang beredar, Gus Yahya tetap bersikeras bahwa keputusan tersebut tidak mewakili suara seluruh anggota PBNU. Ia menekankan bahwa setiap keputusan penting harus melalui proses musyawarah yang wajar, bukan hanya keputusan sepihak oleh sekelompok orang.
Selain itu, ia juga menyoroti bahwa tindakan yang diambil oleh Syuriah PBNU bisa saja merusak citra organisasi. Ia menilai bahwa tindakan seperti ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh Nahdlatul Ulama.
Langkah Selanjutnya
Dalam risalah rapat harian yang beredar, Syuriah PBNU memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya pengambilan keputusan kepada Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam. Namun, Gus Yahya tetap menolak untuk mundur dan siap menghadapi segala konsekuensi dari keputusan yang diambil oleh pihak lain.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











