Tim Investigasi Diterjunkan untuk Selidiki Kasus Keracunan MBG di Kefamenanu
Plh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Basilius Haumein, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim investigasi untuk meneliti dugaan keracunan yang dialami 14 siswa SD di Kefamenanu. Para siswa tersebut berasal dari tiga sekolah dasar di Kota Kefamenanu dan diduga mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Tim investigasi terdiri dari tenaga kesehatan dari Laboratorium Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas Sasi. Langkah pertama yang dilakukan adalah penanganan terhadap pasien yang diduga mengalami keracunan. Selain itu, mereka juga melakukan deteksi terhadap kemungkinan kasus susulan.
Langkah berikutnya adalah pengambilan sampel makanan dan muntahan dari para siswa untuk dikirim ke laboratorium guna diperiksa. Sampel tersebut telah dikirim ke Laboratorium Provinsi NTT di Kupang pada Kamis sekira pukul 18.12 WITA. Basilius menyatakan bahwa pihaknya akan segera mengkonfirmasi hasil pemeriksaan dari laboratorium tersebut, karena hasilnya akan menjadi rujukan bagi tindakan selanjutnya.
Data Awal dan Perkembangan Kasus
Basilius menjelaskan bahwa laporan awal terkait siswa yang diduga mengalami keracunan masuk melalui layanan call center 112. Saat itu, hanya terdapat tiga orang. Namun, jumlah ini berkembang menjadi 12 orang pada siang hari setelah diperiksa di RSUD Kefamenanu.
Data awal mencatat 12 orang dengan rincian 9 orang dari SDK Peboko, 2 orang dari SDN Gua Aplasi, dan 1 orang dari SDK Kefamenanu 1. Setelah itu, terdapat tambahan dua orang pasien. Seorang anak masuk ke RSUD Kefamenanu pada sore hari dengan gejala serupa, sedangkan satu orang lainnya dilarikan ke rumah sakit pada malam hari.
Sebanyak 14 siswa tersebut telah ditangani oleh tim medis dan kini sudah kembali ke rumah masing-masing. Rincian siswa yang diduga mengalami keracunan terdiri dari 11 anak dari SDK Peboko, 2 anak dari SDN Gua Aplasi, dan 1 anak dari SDK Kefamenanu 1. Basilius menegaskan bahwa tidak ada siswa PAUD yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG.
Penyediaan Makanan MBG Dihentikan Sementara
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kefamenanu Tengah II, Adipontius A.Tefi, mengungkapkan bahwa pihaknya sementara waktu menghentikan operasional penyediaan makanan MBG di sejumlah sekolah di Kota Kefamenanu. Hal ini dilakukan setelah adanya kejadian menonjol yang menyebabkan beberapa murid masuk ke rumah sakit.
Adipontius menyatakan bahwa pihaknya menunggu arahan dari Korwil dan atasan untuk menentukan kapan operasional kembali dimulai. Selain itu, mereka masih menantikan hasil pemeriksaan sampel makanan dan muntahan dari siswa di laboratorium di Kupang.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya baru saja selesai melakukan pertemuan bersama Korwil, Dinas Kesehatan, dan sejumlah pihak lainnya membahas kejadian tersebut. Menurut data terakhir hingga malam hari, jumlah siswa yang dilarikan ke RSUD Kefamenanu mencapai 14 orang.
Gejala yang Dialami Siswa
Sebelumnya, sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu usai diduga mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, NTT, pada Kamis, 27 November 2025. Pantauan menunjukkan sejumlah siswa PAUD dan SD berada di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Kefamenanu.
Beberapa anak telah dipulangkan setelah menerima perawatan medis di UGD. Belasan orang anak diduga mengalami keracunan atau alergi usai mengonsumsi MBG. Para kepala sekolah, guru-guru, dan orang tua/wali murid tampak hadir di UGD. Beberapa wajah dan tubuh anak-anak di UGD terlihat memerah, sementara petugas medis tampak sibuk memberikan perawatan kepada mereka.
Siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengalami gejala mual, muntah, sakit kepala, dan lemas usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya, para siswa mengonsumsi menu seperti nasi kuning, daun ubi tumis, ikan goreng tepung, tahu goreng, dan buah semangka.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."









