"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Tangis Richa Novisha Pecah di Makam Gary Iskak, Lemas Nyaris Ambruk: Mengapa Aku Tak Boleh Menangis?

Perasaan Duka yang Mendalam dalam Pemakaman Gary Iskak

Prosesi pemakaman aktor Gary Iskak di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Sabtu (29/11/2025) sore, menjadi momen penuh kesedihan bagi keluarga, kerabat, dan para pelayat. Gary, yang berusia 51 tahun, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal yang menimpanya saat berkendara motor RX King menuju Bintaro sekitar pukul 00.30 WIB. Kecelakaan tersebut menyebabkan kendaraannya hilang kendali dan menabrak pohon di Jalan Kesehatan, Jakarta Selatan. Benturan keras di bagian kepala membuatnya mengalami pendarahan hebat hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan intensif di RS Suyoto.

Selama prosesi pemakaman, suara tangis haru terdengar dari keluarga, kerabat, hingga para pelayat yang hadir. Jenazah Gary tiba di area pemakaman sekitar pukul 16.00 WIB setelah sebelumnya disemayamkan di rumah duka di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Keranda jenazah diangkat dengan hati-hati oleh keluarga, termasuk sepupunya, Pasha Van Krab, yang turut memimpin rangkaian doa. Di tengah keramaian keluarga, perhatian banyak orang tertuju kepada Richa Novisha atau Icha, istri Gary, yang sejak awal mencoba terlihat tegar.

Dengan balutan busana serba hitam, Icha berdiri di samping liang lahat sambil memegang erat foto sang suami dan menggenggam tangan putrinya. Namun ketegaran yang ia pertahankan sejak pagi mendadak runtuh ketika jenazah Gary mulai diturunkan ke liang lahat. Bibirnya tampak bergetar, air matanya mengalir deras, dan beberapa kali ia terlihat tidak mampu menahan sesenggukan. Anak-anak dan keluarga langsung memeluknya, berusaha memberi kekuatan saat emosinya benar-benar tidak bisa ia kendalikan.

Ketika Pasha mengumandangkan azan serta komat di sisi makam, Richa kembali tampak berusaha menahan tangis yang hampir pecah. Keningnya mengerut, matanya terpejam kuat, dan tubuhnya sempat kehilangan keseimbangan karena terpukul oleh rasa kehilangan. Meski begitu, ia tetap bertahan mengikuti seluruh prosesi hingga akhirnya tiba waktunya menaburkan bunga ke atas pusara sang suami. Dengan tangan yang bergetar, Icha menaburkan bunga sambil melafalkan doa serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Tak lama kemudian, ia berjongkok di dekat nisan, mengusap permukaan nisan dan taburan bunga dengan penuh kesedihan. Dalam diamnya, ia memandangi makam Gary cukup lama, seakan mencoba meresapi kenyataan pahit yang baru saja terjadi. Seorang kerabat lalu menghampiri dan berusaha menenangkannya, karena Icha kembali menangis terisak tanpa mampu mengendalikan emosinya. Tangisnya makin terdengar saat ia memeluk kerabat tersebut selama beberapa menit. Ia seolah melepaskan seluruh rasa kehilangan yang selama ini ia tahan.

Di tengah suasana yang sunyi, Icha akhirnya mengucapkan kalimat perpisahan yang pelan namun sangat menyayat hati. “Selamat jalan ya pah,” ucapnya lirih, mencerminkan duka mendalam yang sulit ia sembunyikan.

Nyaris Ambruk

Saat berjalan meninggalkan makam sejauh sekitar 50 meter, Icha kembali didera histeris. Tubuhnya tampak lemas hingga harus bersandar pada salah seorang teman. Nafasnya tersengal, tangisnya pecah, dan beberapa kali ia hampir jatuh sebelum kembali ditopang keluarga. “Gak apa-apa kan aku nangis?” tanyanya dengan suara bergetar. “Gak apa-apa, it’s okay, silakan nangis,” jawab temannya sembari memeluknya.

Usai menenangkan diri, Richa memilih tidak memberikan keterangan kepada media. Ia dibawa menuju kendaraan oleh keluarga dan kerabat terdekat. Kepergian Gary meninggalkan duka mendalam bagi dunia hiburan Indonesia. Aktor yang dikenal lewat berbagai sinetron dan film ini meninggalkan seorang istri dan anak-anak yang kini harus melanjutkan hidup tanpa sosok ayah dan suami yang dikenal hangat dan rendah hati itu. Dunia hiburan pun kehilangan salah satu aktor yang telah berkarya lebih dari dua dekade.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *