Performa Buruk Dua Striker Asing Persebaya Surabaya Mengundang Kritik
Dua pemain asing Persebaya Surabaya, Mihailo Perovic dan Diego Mauricio, kini menjadi sorotan tajam dari Bonek, pendukung setia klub. Performa mereka di putaran pertama Super League 2025/2026 dinilai tidak memenuhi ekspektasi, sehingga posisi keduanya semakin terancam. Hal ini semakin diperparah dengan kemungkinan besar Persebaya Surabaya melakukan perombakan skuad pada bursa transfer paruh musim.
Persebaya Surabaya sedang dalam situasi yang menuntut perubahan setelah menunjukkan performa yang tidak konsisten dalam 12 laga pertama. Manajemen diyakini sedang mengevaluasi lini depan yang dianggap kurang efektif dan gagal memberikan kontribusi signifikan.
Mihailo Perovic, yang diharapkan menjadi mesin gol, justru tampil jauh di bawah ekspektasi. Dari 12 pertandingan yang telah ia mainkan, ia hanya mencetak dua gol. Catatan tersebut sangat kontras dengan statusnya sebagai bomber utama yang seharusnya menjadi andalan di setiap laga. Minimnya ketajaman Perovic semakin terasa karena statistik penunjangnya juga tidak menggambarkan pemain dengan pengaruh besar.
Perovic mencatatkan 929 menit bermain dengan expected goals (xG) sebesar 3,43, tetapi hanya mampu mengonversinya menjadi dua gol. Total attempts-nya hanya 13, yang menunjukkan betapa jarangnya ia berada di posisi berbahaya dalam skema serangan Persebaya Surabaya. Ia bahkan tidak memberikan assist, hanya menyumbang dua keypass, dan akurasi umpannya sebesar 80 persen. Performa tersebut semakin menegaskan bahwa kontribusi pemain berusia 31 tahun itu di lini serang sangat minim.
Situasi semakin rumit karena Perovic juga kalah dalam intensitas duel. Jumlah pelanggaran yang dilakukan maupun terima menunjukkan agresivitasnya tidak memberi dampak positif bagi tim. Dia melakukan 15 pelanggaran dan hanya tujuh kali dilanggar, menandakan bahwa ia tidak mampu memberikan dampak nyata di lapangan.
Di sisi lain, Diego Mauricio justru lebih mengenaskan karena minimnya menit bermain. Striker asal Brasil itu baru diturunkan dalam dua laga dengan total hanya 33 menit berada di lapangan. Dengan durasi yang singkat tersebut, kontribusinya praktis tidak bisa memberi warna apa pun pada permainan Persebaya Surabaya. Ia mencatat xG 0,05, tanpa gol, hanya satu attempts, dan tidak membuat assist.
Akurasi umpannya pun cuma 67 persen, mengindikasikan bahwa ia belum menyatu dengan ritme permainan tim. Tanpa keypass dan tanpa keterlibatan dalam situasi berbahaya, Mauricio semakin sulit menunjukkan kapasitasnya sebagai finisher. Meski dia tidak melakukan pelanggaran, hanya sekali dilanggar, dan tidak mendapat kartu kuning ataupun merah, kedisiplinan saja tidak cukup untuk menyelamatkan posisinya.
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa perbaikan, Persebaya Surabaya berpotensi makin tertinggal dalam persaingan menuju papan atas. Mayoritas tim yang kini menduduki posisi terbaik di klasemen mampu tampil konsisten karena punya bomber tajam yang bisa membalikkan keadaan kapan saja. Persebaya Surabaya justru berada dalam situasi sebaliknya karena lini depannya tidak mampu memaksimalkan peluang di depan gawang.
Situasi tersebut membuat tekanan semakin besar terhadap manajemen untuk mengambil langkah strategis di jeda kompetisi. Ekspektasi publik pun mendorong adanya evaluasi serius terhadap dua striker tersebut. Perombakan menjadi opsi paling realistis jika Persebaya Surabaya ingin menjaga peluang bersaing di jalur juara pada putaran kedua.
Keputusan untuk mendatangkan penyerang baru bisa menjadi titik balik sekaligus sinyal perubahan besar di tubuh Green Force. Persebaya Surabaya sudah beberapa kali melakukan gebrakan transfer pada momen krusial, dan situasi sekarang tampak mengarah ke hal serupa. Dramanya kini tinggal menunggu apakah Perovic dan Mauricio akan dipertahankan atau dilepas untuk memberi ruang bagi wajah baru.
Keduanya masih punya kesempatan untuk memperbaiki performa, tetapi jendela transfer semakin mendekat dan waktu tidak berpihak pada mereka. Bonek sudah mulai bersuara lantang karena merasa duet striker asing itu tidak memberi efek signifikan pada produktivitas tim. Harapan besar yang sebelumnya disematkan berubah menjadi tuntutan agar manajemen segera bergerak mencari opsi lebih baik.
Jika Persebaya Surabaya ingin tampil lebih menggigit di putaran kedua, langkah pembenahan di sektor depan hampir pasti harus dilakukan. Klub sebesar Persebaya Surabaya tidak bisa terus membiarkan lini serang mandul di saat persaingan semakin ketat. Kini publik menanti arah keputusan manajemen di bursa transfer paruh musim. Apakah dua striker yang dianggap bapuk itu benar-benar didepak atau justru diberi satu kesempatan lagi untuk membuktikan diri.











