Disleksia: Berpikir Berbeda Bukan Kesalahan
Sejak kecil, saya sering bertanya-tanya: “Kenapa saya tidak pernah benar-benar cocok di mana pun?” Pertanyaan itu melekat, bukan karena saya ingin berbeda, tetapi karena kenyataan memaksa saya melihat bahwa cara saya merasakan dunia tidak sama dengan anak-anak lain. Saya tumbuh dengan disleksia dan ADHD, dua kata yang belum saya mengerti waktu itu, tapi sangat saya rasakan dampaknya. Di sekolah, saat anak lain membaca lancar, huruf-huruf di buku saya menari tanpa henti. Saat guru menjelaskan, pikiran saya sudah melompat ke tempat lain yang bahkan tidak saya pilih. Saya bingung, orang lain pun bingung melihat saya. Hasilnya? Saya dilabeli “malas,” “nakal,” “tidak fokus,” atau “anak yang tidak mau berusaha.”
Pengalaman ini tidak jauh berbeda dengan kisah David Maslach, seorang profesor yang baru menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa ADHD dan disleksia ringan menjelaskan cara berpikirnya yang berbeda. Kisahnya bukan cerita asing; kisah itu adalah kisah saya, kisah banyak anak Indonesia, kisah ribuan pikiran yang dibentuk oleh otak yang bekerja dengan cara yang unik.
Otak yang Berbeda, Kekuatan yang Tidak Terlihat
Neuroscience modern menunjukkan fakta yang menarik: otak ADHD dan disleksia bukan otak yang “kurang,” tetapi otak yang terhubung secara berbeda. Studi dari Harvard dan Yale menyebutkan, disleksia cenderung memiliki kekuatan dalam big-picture thinking, kemampuan melihat pola tersembunyi, berpikir visuospasial, dan inovasi. Sementara ADHD sering dikaitkan dengan kreativitas tinggi, kemampuan berpikir cepat, fleksibilitas kognitif, serta energy burst yang membantu seseorang mengejar ide sampai tuntas. Thomas Armstrong menyebut kelompok ini sebagai “neurodiverse minds,” otak-otak yang memperkaya cara manusia melihat dunia.
Namun, realitas pendidikan di lapangan masih sering bertolak belakang dengan pemahaman ilmiah itu. Di banyak sekolah, terutama di Indonesia, anak dengan otak berbeda masih harus berjuang dua kali: berjuang memahami materi, dan berjuang melawan stigma. Saya menyaksikan sendiri, dari “Dyslexia Keliling Nusantara” yang saya jalankan sejak 2017, bagaimana anak-anak dengan disleksia atau ADHD sering dipaksa menyesuaikan diri dengan kurikulum yang tidak dirancang untuk mereka. Ada anak yang duduk di pojok kelas karena gurunya lelah memanggilnya. Ada yang dianggap keras kepala karena tidak merespons instruksi verbal. Ada yang setiap hari pulang dengan nilai buruk dan rasa gagal yang makin menumpuk.
Mereka Tidak Bodoh, Hanya Dipaksa Belajar Dengan Cara Yang Bukan Milik Mereka
Padahal ketika saya bekerja lebih dekat dengan mereka, satu hal jadi sangat jelas : mereka tidak bodoh. Mereka hanya dipaksa belajar dengan cara yang bukan milik mereka. Saya sendiri pernah merasakannya. Membaca bagi saya adalah perjuangan fisik. Paragraf terlihat padat dan melelahkan. Huruf berubah posisi seperti sedang bermain petak umpet. Di satu sisi, ADHD saya membuat saya susah duduk diam, tapi di sisi lain, saya bisa bekerja sepanjang malam saat minat saya tersentuh. Saya sulit mengikuti instruksi verbal yang panjang, tapi saya bisa melihat pola perilaku anak-anak special needs dengan ketepatan yang sulit dijelaskan. Saya tidak baik dalam membaca cepat, tetapi saya sangat cepat dalam memahami emosi, konteks, dan puzzle besar di balik suatu permasalahan.
Orang bilang saya lambat, tapi saya justru mampu bertahan lebih lama.
Orang bilang saya tidak fokus, tapi saya bisa hyperfocus ketika hal itu penting bagi saya.
Orang bilang saya salah, tapi kenyataannya saya hanya berbeda.
Mengubah Pandangan, Menyambut Potensi
Kita harus mulai mengubah cara kita melihat anak-anak seperti ini. Bukan dengan kacamata “kekurangan,” tapi dengan kacamata potensi. Howard Gardner dengan teori kecerdasan majemuknya telah menegaskan bahwa kecerdasan tidak tunggal. Ia beragam dan setiap anak memiliki kombinasi yang unik. Dunia hanya terlalu sibuk merayakan kecerdasan linguistik dan logika-matematis sehingga lupa menghargai kecerdasan kreatif, kinestetik, interpersonal, visual, dan lainnya.
Saya melihat sendiri bagaimana anak disleksia menjadi jago menggambar blueprint bangunan. Anak ADHD yang dianggap “tidak bisa diam” ternyata punya ide bisnis yang luar biasa. Anak yang dianggap lamban ternyata mampu membuat model 3D dengan ketelitian yang tinggi. Mereka hanya perlu ruang, metode belajar yang tepat, dan lingkungan yang menerima. Dan ketika lingkungan menerima, sesuatu yang indah terjadi: anak-anak ini mulai percaya pada diri mereka sendiri. Mereka mulai menemukan dunia mereka. Mereka mulai menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan mereka sejak awal yang salah adalah cara dunia memahami mereka.
Dunia Butuh Orang yang Berpikir Berbeda
Lalu apakah ADHD, disleksia, atau IQ tinggi membuat seseorang tidak cocok dengan dunia? Tidak. Yang benar adalah: dunia sering terlambat memahami orang-orang seperti kita karena kita melihat masa depan duluan. Kita mendeteksi pola sebelum orang lain sadar. Kita memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan mayoritas manusia. Dunia butuh orang yang berpikir berbeda. Orang seperti Elon Musk, Richard Branson, dan banyak inovator besar lainnya justru memiliki ADHD atau disleksia. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan dibuat bukan oleh pikiran yang seragam, tapi oleh pikiran yang berani menyimpang dari jalur umum.
Percayalah, Kamu Tidak Sendirian
Jadi untuk kamu yang membaca ini, terutama yang sering merasa tersisih, merasa gagal, atau merasa tidak cukup baik karena otakmu bekerja tidak seperti orang lain percayalah: kamu tidak sendirian. Kamu sedang berjalan di jalan yang belum banyak dilewati, bukan jalan yang salah. Kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk berharga. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri, dan menemukan tempat di mana cara berpikir kita dianggap kekuatan, bukan masalah. Dan dunia sedang bergerak ke arah itu. Sedikit demi sedikit. Berikan waktu. Berikan ruang. Dan jangan berhenti berjalan.
“Saya bukan rusak. Saya hanya berbeda. Dan dalam perbedaan itu, saya menemukan diri saya.” Imam Setiawan
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











