Persebaya Surabaya Masuk Pekan Krusial Tanpa Pelatih Kepala
Persebaya Surabaya memasuki pekan krusial dengan satu tugas utama yang belum selesai: mencari pelatih kepala baru. Setelah berpisah dengan Eduardo Perez pada 22 November lalu, posisi pelatih utama masih kosong hingga pertengahan Desember. Situasi ini membuat suporter, terutama Bonek, mulai mempertanyakan arah klub, terutama karena tim sedang membutuhkan stabilitas.
Di media sosial, desakan suporter semakin keras, menuntut manajemen segera mengumumkan pelatih baru. Beberapa suporter bahkan menyebut nama-nama pelatih yang mereka harapkan bisa datang ke Surabaya. Nama Benjamin Mora menjadi salah satu yang paling sering disebut oleh suporter. Pelatih asal Malaysia itu dikenal memiliki rekam jejak kuat bersama Johor Darul Ta’zim (JDT). Beberapa Bonek menilai Mora cocok dengan karakter permainan Persebaya yang agresif dan cepat.
Selain Mora, ada pula rumor mengenai pelatih asal Eropa Timur yang disebut-sebut sedang dalam tahap komunikasi. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari manajemen. Bonek terus menuntut transparansi, terutama karena tim sedang berada dalam periode penting.
Di tengah tekanan itu, Uston Nawawi tetap menjalankan tugas sebagai pelatih karteker. Ia memimpin tim hampir satu bulan, melewati batas waktu ideal seorang karteker dalam sebuah klub profesional. Namun Uston memilih tidak ambil pusing soal belum jelasnya pelatih kepala baru. “Kalau untuk itu (pelatih kepala baru) saya belum tahu. Yang terpenting saya bersama staf yang lain mempersiapkan tim pertandingan selanjutnya,” kata Uston.
Laga melawan Borneo FC pada Sabtu (20/12/2025) menjadi pertandingan terakhirnya sebagai karteker. Uston ingin memastikan tim tetap fokus meski situasi internal belum sepenuhnya stabil. Ia menilai bahwa pemain tetap memiliki motivasi tinggi untuk tampil maksimal. Tekanan dari suporter juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
“Jadi kalau kami gak mau didemo, gak mau ditekan oleh Bonek Bonita, ya kami harus berikan kemenangan,” ujar Rachmat Irianto. Pernyataan itu menunjukkan bahwa para pemain memahami betul ekspektasi besar dari suporter.
Kondisi Tim Persebaya Jelang Pertandingan
Di tengah isu pelatih baru, Persebaya Surabaya tetap fokus mempersiapkan diri menghadapi Borneo FC. Kabar baik datang dari pulihnya dua pemain penting, Risto Mitrevski dan Koko Ari Araya. “Kondisi pemain cedera sudah berangsur-angsur membaik,” kata Uston. Keduanya berpeluang tampil setelah absen cukup lama karena cedera.
Namun Persebaya tetap kehilangan dua pilar, Bruno Moreira dan Francisco Rivera, yang absen karena sanksi. Situasi ini membuat Persebaya harus memaksimalkan pemain yang tersedia. “Kami masih ada 24-25 pemain, ya semuanya harus siap,” ujar Uston. Persebaya ingin memanfaatkan keuntungan bermain di kandang untuk mengakhiri tren imbang. Atmosfer Gelora Bung Tomo diharapkan menjadi energi tambahan bagi para pemain. Rachmat Irianto menegaskan bahwa tim harus tampil habis-habisan.
Kondisi Borneo FC Jelang Laga
Sementara itu, Borneo FC datang ke Surabaya dengan kondisi yang tidak sepenuhnya ideal. Pesut Etam baru saja menelan dua kekalahan beruntun setelah sebelumnya mencatat 11 kemenangan beruntun. Kekalahan dari Bali United dan Persib Bandung membuat posisi mereka di puncak klasemen mulai terancam. Persija Jakarta dan Persib kini semakin mendekat dengan selisih poin tipis.
Salah satu pemain kunci, Fajar Fathurrahman, menegaskan bahwa tim tidak boleh larut dalam kekecewaan. “Setiap tahun pasti ada situasi seperti ini. Tapi Borneo tetaplah Borneo,” ujarnya. Ia menilai bahwa kekalahan harus dijadikan bahan evaluasi. “Namun itu tidak bisa dijadikan alasan. Kami akan tetap bermain sesuai instruksi pelatih,” katanya.
Dengan kondisi kedua tim yang sama-sama berada dalam tekanan, laga ini diprediksi berlangsung ketat. Persebaya membutuhkan kemenangan untuk meredam kritik suporter dan mengembalikan kepercayaan diri tim.











