Persebaya Surabaya Kembali Jadi Pusat Perhatian
Persebaya Surabaya kembali menjadi pusat perhatian dalam bursa transfer paruh musim Super League. Hal ini terjadi setelah eks anak emas Benjamin Mora, yaitu Levy Madinda, memberikan kode keras yang memicu reaksi cepat dari Bonek Mania.
Kode tersebut muncul melalui kolom komentar di unggahan Instagram resmi Persebaya Surabaya. Pada Senin, 15 Desember 2025, saat Persebaya mengumumkan kembalinya Risto Mitrevski setelah cedera panjang, Levy Madinda menulis “Brate Moi.” Dua kata singkat itu langsung menarik perhatian publik dan memicu spekulasi liar.
- Beberapa Bonek Mania menganggap komentar tersebut sebagai kode tersembunyi. Mereka menghubungkan nama Levy Madinda dengan Benjamin Mora.
- Seorang pengguna media sosial menulis, “Wow Madinda, mantan pemain JDT dan calon pelatih pernah melatih JDT.”
- Komentar lain menimpali dengan singkat, “Lolo,” yang menunjukkan antusiasme.
- Ada juga Bonek yang langsung menyuarakan harapan, seperti tulisan “Gass Psby.”
Reaksi spontan ini menunjukkan besarnya ekspektasi publik terhadap Benjamin Mora. Nama pelatih asal Meksiko ini dianggap memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemar sepak bola Indonesia.
Hubungan Levy Madinda dan Benjamin Mora memang memiliki sejarah kuat. Keduanya pernah bekerja sama di Johor Darul Takzim. Kerja sama tersebut berhasil mempersembahkan trofi Piala Super Malaysia musim 2021/2022. Prestasi ini membuat Madinda dijuluki anak emas Mora. Tak heran, setiap gerak-geriknya kini dikaitkan dengan sang pelatih.
Meski begitu, Bonek Mania diingatkan untuk tetap tenang. Ada kemungkinan komentar tersebut bersifat personal. Levy Madinda diketahui pernah menjadi rekan setim Risto Mitrevski di Sabah FA. Hubungan pertemanan itu bisa menjadi alasan dukungan tulus.
Situasi ini membuat rumor semakin menarik. Apakah kode keras itu disengaja atau sekadar salah tafsir publik?
Di sisi lain, Persebaya Surabaya memang sedang berburu pelatih anyar. Proses pencarian belum menunjukkan perkembangan signifikan. Sebelumnya, Green Force sempat dikaitkan dengan Bernardo Tavares. Namun, upaya tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Kegagalan itu membuka ruang bagi kandidat lain. Nama Benjamin Mora kemudian mencuat ke permukaan. Pelatih asal Meksiko ini tergolong jarang berkiprah di Liga Indonesia. Profilnya dianggap unik dan berbeda.
Pecinta sepak bola nasional tentu tak asing dengan rekam jejak Mora. Namanya pernah santer dikaitkan dengan Persib Bandung. Saat itu, Persib sedang mencari pengganti Robert Alberts. Kans Mora dinilai besar setelah ia mengikuti Instagram resmi Persib.
Isu tersebut sempat memanaskan bursa rumor. Namun, Persib akhirnya menunjuk Luis Milla sebagai pelatih baru. Benjamin Mora juga sempat masuk radar Persis Solo. Isu tersebut berkembang pada tahun 2023. Sayangnya, Persis gagal mengamankan jasanya. Mora memilih melanjutkan karier ke klub Kanada, Atlas.
Kini, namanya kembali dikaitkan dengan klub Super League. Persebaya Surabaya menjadi tujuan yang paling sering disebut. Akun Instagram @gossindo_ mengunggah rumor tersebut pada Minggu, 14 Desember 2025. “RUMOR: Benjamin Mora On Persebaya Surabaya,” tulis akun tersebut.
Sehari sebelumnya, akun @transfernews_ft juga mengunggah petunjuk serupa. “Rumornya akan melatih salah satu klub BRI Super League Indonesia,” tulis akun itu. Isu tersebut mendapat penguatan dari langkah terbaru Mora. Ia resmi berpamitan dari klub Liga Meksiko, Queretaro FC.
Unggahan perpisahan itu muncul di Instagram pribadinya pada 18 November 2025. “Gracias Queretaro,” tulis Mora singkat. Pernyataan tersebut menandai status Mora tanpa klub. Kondisi itu membuat peluang Persebaya Surabaya semakin terbuka.
Kini, bola sepenuhnya berada di tangan manajemen Green Force. Tinggal soal tawaran kontrak dan nilai kesepakatan. Bursa transfer paruh musim menjadi momentum krusial. Persebaya Surabaya berpeluang membuat gebrakan besar.
Publik pun menunggu kelanjutan kisah ini. Apakah kode keras eks anak emas Benjamin Mora benar-benar berujung di Surabaya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











