Infeksi virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang ditularkan ke manusia dari hewan, dan juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi atau secara langsung dari orang ke orang. Pada individu yang terinfeksi, virus ini dapat menyebabkan berbagai kondisi mulai dari infeksi tanpa gejala (subklinis) hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis yang mematikan. Selain itu, virus ini juga bisa menyebabkan penyakit serius pada hewan seperti babi, yang mengakibatkan kerugian ekonomi besar bagi para petani.
Penularan virus Nipah diperkirakan terjadi melalui paparan tanpa perlindungan terhadap sekresi dari babi, atau kontak tanpa perlindungan dengan jaringan hewan yang sakit. Konsumsi buah-buahan atau produk buah seperti jus kurma mentah yang terkontaminasi oleh urin atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi kemungkinan besar menjadi sumber penularan. Penyebab utama penularan adalah kelelawar, yang merupakan reservoir alami virus Nipah. Meskipun tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar, virus ini bisa menyebar ke hewan lain, seperti babi, dan dari babi ke manusia.
Awal Mula Penyebaran
Virus Nipah pertama kali dikenali di Malaysia melalui sebuah peternakan babi. Saat itu, hewan-hewan tersebut menunjukkan gejala demam, kesulitan bernapas, dan kejang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menularkannya ke babi.
Penebangan hutan telah menyebabkan kehilangan habitat kelelawar, sehingga mereka berpindah mendekati pemukiman manusia dan peternakan. Hal ini memungkinkan virus Nipah berpindah dari kelelawar ke babi, dan dari babi ke manusia.
Gejala yang Muncul
Gejala awal (1–2 minggu setelah terpapar):
– Demam
– Sakit kepala
– Nyeri otot
– Sakit tenggorokan
– Mual dan muntah
– Kelelahan
Gejala lanjutan:
– Pusing
– Mengantuk berlebihan
– Kebingungan atau disorientasi
– Kesulitan bernapas, batuk (pneumonia)
Gejala berat (ensefalitis/radang otak):
– Penurunan kesadaran
– Kejang
– Gangguan fungsi otak
– Koma
Dari total 248 kasus virus Nipah yang teridentifikasi, sebanyak 82 kasus disebabkan oleh penularan dari orang ke orang dengan angka reproduksi rata-rata sebesar 0,33 (interval kepercayaan 95% [CI], 0,19–0,59). Angka reproduksi ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia pasien dan paling tinggi pada pasien berusia 45 tahun atau lebih yang mengalami gangguan pernapasan, yaitu sebesar 1,1 (95% CI, 0,4–3,2). Sebaliknya, pasien tanpa gangguan pernapasan hanya menularkan virus sebesar 0,05 kali dibandingkan pasien lain (95% CI, 0,01–0,3).
Pemeriksaan serologis terhadap 1.863 kontak tanpa gejala tidak menemukan adanya infeksi. Risiko penularan paling tinggi terjadi pada pasangan pasien (14%), dibandingkan anggota keluarga dekat lainnya (1,3%) dan kontak lain (0,9%). Risiko infeksi meningkat secara signifikan pada kontak dengan durasi paparan lebih dari 48 jam serta pada paparan langsung terhadap cairan tubuh pasien.
Pencegahan Penularan
Mencegah penularan Virus Nipah sangat penting untuk melindungi diri sendiri dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah penularan termasuk:
* Hindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko. Kelelawar dan hewan ternak seperti babi adalah sumber penularan utama.
* Hindari kontak langsung dengan hewan-hewan ini.
* Pastikan mencuci sayur dan buah sebelum mengkonsumsinya.
* Hindari makanan yang terkontaminasi oleh hewan.
* Ketika membersihkan kotoran atau urine hewan yang berisiko tertular, gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, sepatu boots, dan pelindung wajah.
* Selalu cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang yang sakit, terutama yang memiliki gejala infeksi Nipah.
* Pastikan daging hewan dimasak dengan baik dan hindari makan daging yang masih mentah.











