Kondisi Anak-anak yang Mengonsumsi Mi Instan Selama Bencana Banjir Bandang Aceh Tamiang
Sekelompok balita hingga anak-anak terpaksa mengonsumsi mi instan selama belasan hari untuk bertahan hidup, usai bencana banjir bandang menghantam Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Bagaimana kisah dan kondisi mereka saat ini serta apa dampak mi instan bagi kesehatan anak?
Rindu Majalina, 39 tahun, tinggal di Dusun Melur, Desa Bukit Rata, Aceh Tamiang. Rumahnya terendam usai banjir bandang menyerang pada 26 November lalu. Dia memboyong tiga anaknya untuk mengungsi sementara ke Kota Medan, Sumatra Utara. Pasalnya, lebih dari 20 hari pascabencana, rumahnya tak layak huni.
“Air tidak ada, PDAM mati, tangki air jarang datang. Orang MCK [mandi, cuci, kakus] pakai plastik dan dibuang sembarangan ke mana-mana. Saya mau bersihkan rumah tak bisa, apalagi saya ada anak kecil yang butuh air bersih, susah jadinya,” kata Rindu, Rabu (17/12).
Rindu berkata, listrik baru beberapa hari terakhir mengalir, itu pun tak sepanjang hari. “Setelah presiden datang, listrik hidup, presiden pulang langsung mati. Sekarang hidup-mati, hidup-mati, hidup-mati, masih belum stabil,” ujarnya.
Lingkungan yang Kotor dan Ancaman Kesehatan
Walaupun listrik telah terhubung dan bantuan makanan berdatangan, Rindu mencemaskan kondisi lingkungan yang kotor: penuh sampah, debu berterbangan, dan juga serangan nyamuk. Alasannya mengungsi keluar dari Aceh Tamiang dipicu pula kondisi fisik anak dan orang tuanya yang melemah.
“Anak-anak sempat diare dan sampai hari ini masih demam. Hilang timbul demamnya. Lalu muntah-muntah dan kemarin enggak mau makan lagi. Gatal-gatal juga. Orang tua juga gula dan tensinya naik. Jadi kami ambil keputusan mengungsi,” ujar Rindu.
Konsumsi Mi Instan Selama Belasan Hari
Rindu melihat salah satu penyebab melemahnya kesehatan ketiga anaknya adalah karena asupan gizi yang minim, usai banjir bandang menghantam rumah dan permukiman mereka. Rindu bercerita tentang memori buruk yang mengubah hidupnya itu.
Sebelum banjir bandang menghantam, hujan selama empat hari berturut-turut mengguyur kampung mereka. Air perlahan mulai mengenangi rumahnya. Rindu bersama tiga anaknya lalu mengungsi ke sebuah masjid, bersama warga lainnya. “Di masjid kami dapat makan mi dan telur. Dari hari itu sampai 11 hari ke depannya, anak-anakku setiap hari makan mi instan,” kata Rindu.
Perjalanan Mengungsi yang Menyedihkan
Satu hari usai mengungsi ke masjid, pada 26 November, banjir bandang menghantam Aceh Tamiang. Rumah Rindu ditelan air. Hanya atapnya yang tampak. Masjid tempatnya berlindung juga digenangi air. “Enggak ada yang bisa dibawa, sendal pun tak bisa karena licin,” kata Rindu.
Rindu lalu mengendong anak bungsunya yang berusia 11 bulan. Mereka melintasi air yang menenggelamkannya hingga setinggi dada. Dua anaknya yang lain dipegang oleh adik dan tetangga Rindu. Mereka bergegas naik ke atas bukit mencari tempat aman. Di sana, mereka menemukan sebuah rumah warga. “Kami minta pertolongan, menangis mohon-mohon, sambil bawa anak. Ada ibu yang baik hati menampung kami, dan kasih kami makan, dan memang cuma ada mi instan,” ujarnya.
Kondisi Warga yang Terdampak
Selama beberapa hari Rindu dan ketiga anaknya berlindung di atas bukit. Sinyal telepon putus dan mereka tidak bisa mengakses informasi dari luar. Saat air perlahan surut, mereka berpindah-pindah ke tiga lokasi pengungsian lain. Selama itu, Rindu terpaksa menyuapi ketiga anaknya mi instan. Tiga kali dalam sehari.
Bukan hanya dirinya, dia bilang, hampir seluruh balita dan anak-anak di wilayahnya mengonsumsi mi instan. “Penglihatan saya, tetangga semua makan mi instan karena enggak ada makanan lain. Dan keluar bintik-bintik merah, biduran,” ujarnya.
Dampak Kesehatan Jangka Panjang
Dokter spesialis anak, dokter Reza Fahlevi membagi dampak kesehatan ini menjadi dua, yaitu bersifat akut (berlangsung singkat) dan kronis (berkembang lambat). “Kalau akut, yang sering terjadi adalah gangguan saluran cerna, misalnya mual, muntah, diare, sakit perut, itu bisa muncul,” kata Reza. Penyebabnya karena mi instan yang seharusnya direbus (sesuai standar pengolahan) namun dimakan langsung, dan juga air untuk mengelola mi yang tak bersih.
Masalah kesehatan jangka panjang yang disebut Reza adalah pada pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. “Ada makronutrien, karbohidrat, protein, lemak. Ada mikronutrien, vitamin, dan mineral. Kalau mi instan tentunya itu tidak akan terpenuhi dengan baik, kebutuhan makron dan mikronutriennya,” ujar Reza. “Bukan berarti enggak boleh [konsumsi mi instan], tapi tentunya harus bervariasi dan dibatasi konsumsi makanan-makanan seperti mi instan.”
Reza pun berharap pemerintah untuk menyediakan makanan-makanan yang sifatnya alami (real food) terhadap anak-anak yang terdampak bencana. “Apalagi pada balita, karena balita itu ada seribu hari pertama kehidupan dan dia penting banget pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otaknya,” ujar Reza.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











