"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Bangkitnya Kain di Era Gen Z: Dulu Dianggap ‘Ndeso’, Kini Jadi Trending

Penulis: Fadila Lestari dan Mashitha Trisha Hellena (Juara 2 Kompetisi Stage-U)
JAKARTA,

Beberapa tahun lalu, sekitar 2016 hingga 2020, kain batik, kain jarik, atau pun kain lilit sering dianggap kuno, tidak modern, dan kaku. Tidak jarang jika memakainya untuk datang hangout bersama teman atau ke kelas perkuliahan, ada saja teman yang bertanya, “Mau seminar di mana?” atau gurauan seperti “Mau kondangan, buuu?”

Namun sekarang? Ternyata makin banyak anak muda yang membuat konten tutorial styling berbahan kain untuk daily outfit di TikTok dan Instagram. Kain-kain tersebut bukan lagi atribut formal semata, bukan lagi hanya dress code untuk kondangan atau seminar. Kini, mereka sudah masuk ke ranah fashion sehari-hari yang casual, santai, dan super estetik.

Tren ini bukan sekadar pilihan outfit. Ini jadi bagian gerakan budaya yang muncul dari Gen Z, generasi 1997-2012 yang saat ini identik dengan mengekspresi diri, berani mencoba hal baru, dan hobi ngonten. Berkain hari ini bukan hanya berpakaian semata, tapi sebuah identitas visual dan aktualisasi diri modern yang relate banget sama karakter Gen Z, si kreatif dan penuh gaya.

Dari Medsos Jadi Lifestyle

Tren berkain mulai naik kembali pada tahun 2021. Bermula dari akun-akun komunitas seperti @swaragembira dan @remajanusantara_ lewat tagar #BerkainBersama. Tren ini cepat viral karena sangat cocok dengan target audiensnya yaitu anak-anak muda di Indonesia yang sedang ‘senang-senangnya’ mengekspresikan identitas lewat fashion, kemudian dibagikan melalui akun pribadi masing-masing di media sosial.

Style yang dipadukan oleh Gen Z biasanya terlihat effortless dan gak kaku. Contohnya seperti perpaduan; kain lilit dengan kain putih, outer lurik dengan tanktop, sarung instan dengan tote bag, serta batik skirt dengan sepatu sneakers. Terlebih lagi batik juga sudah mendunia dengan diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sehingga tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Hal ini sesuai dengan tren Gen Z yang kerap tampil secara simple, eye catching dan tetap trendy.

Mix and match juga dilakukan sebagai langkah untuk meminimalkan penggunaan pakaian yang berlebihan dan menghilangkan nilai keindahan atau keestetikaan dari sebuah pakaian.

Kehadiran Rania Yamin sebagai Influencer dengan Niche Berkain

Sama halnya dengan tren apapun di media sosial, keberadaan content creator atau yang biasa disebut sebagai influenser, sangat mempengaruhi naik dan bertahannya tren tersebut. Rania Yamin, pemilik akun @raniaayamin, yang konsisten menunjukkan cara styling kain secara simpel dan ‘ayu’ adalah salah satu sosok yang menonjol pada tren ini.

Akun dengan niche atau kategori khusus fashion dengan perpaduan kain dan kebaya nan estetik ini melekat di pikiran banyak pengguna media sosial, terbukti dengan engagement konten-konten Rania yang ramai dengan komentar dan views yang tinggi. Rania juga kerap menjaga feeds-nya estetik dengan menata warna yang harmoni. Rania merupakan content creator yang aktif mempertahankan kebudayaan berkain dan berkebaya yang unik serta menarik di media sosialnya. Ia juga merupakan keturunan dari Mangkunegaran dan juga cicit dari Pahlawan Nasional, Muhammad Yamin.

Rania menyampaikan pesan melestarikan budaya bukan dengan ceramah panjang, tetapi melalui konten “OOTD berkain” yang fun dan visual yang eye catching. Di sinilah konsep Social Learning Theory terbentuk, yaitu: Gen Z yang menggunakan media sosial melihat konten @raniaayamin → timbul ketertarikan → melakukan action dengan mencoba styling dengan kain → lalu ikut menyebarkan di media sosial. Kemudian siklus inilah yang menjadi sebuah tren di masyarakat.

Komunikasi Budaya Gender dalam Kain: Kain itu Unisex!

Bagian ini penting banget buat dipahami. Dalam perspektif Komunikasi Budaya Gender, pakaian adalah simbol yang fleksibel, bukan sesuatu yang harus membedakan laki-laki atau perempuan. Begitu juga halnya dengan kain. Berbeda dengan baju kebaya yang hanya digunakan oleh perempuan, kain di Indonesia dapat digunakan oleh siapapun. Tua, muda, laki-laki, ataupun perempuan. Di pelaminan adat Sunda misalnya, walaupun mempelai pria menggunakan beskap dan mempelai perempuan menggunakan kebaya sebagai atasan, keduanya sama-sama bisa menggunakan kain untuk bawahan. Hanya saja, styling-nya yang sedikit dibedakan.

Pada Generasi Z yang lebih inklusif, kain tradisional juga jadi media paling pas karena sifatnya yang unisex. Laki-laki bisa menggunakan kain lilit dengan lipatan yang lebih naik di atas mata kaki, perempuan pun bisa menggunakan kain ini sebagai pengganti rok. Semua bebas berekspresi tanpa stigma negatif yang melekat. Ini juga alasan di balik tren berkain diterima lebih cepat. Gen Z tidak peduli batasan gender, mereka butuh fashion yang: bebas, fluid, bisa dipakai siapa saja. Dan kain tradisional di Indonesia menjawab itu semua.

Pilih Local Brand untuk Ikutan Tren Berkain

Ada satu konsep komunikasi budaya modern yaitu relay communication. Intinya, budaya bertahan bukan karena satu orang vokal, tapi karena pesannya terus-menerus disebarkan seperti lari estafet. Tren ini makin kuat karena brand lokal juga ikut mendukung serta membantu mengubah persepsi kain bernuansa lokal dari “pakaian formal” menjadi fashion lifestyle. Baik dari yang high-end sampai yang harganya affordable, semuanya memberi pilihan baru untuk styling kain. Berikut contoh local brand dengan produk kainnya yang bernuansa lokal:

  • Sukkha Citta

    Brand premium penuh filosofi yang muncul pada film SORE: Istri dari Masa Depan ini merupakan brand fashion regeneratif dari Indonesia yang dibuat langsung oleh para pengrajin perempuan lokal. Setiap karya dikerjakan dengan teknik warisan, ditenun dan diwarnai dari 100 persen bahan alami. Wah, siap gak nih punya outfit premium, samaan dengan Sheila Dara alias Sore di lemari kamu?

  • Sejauh Mata Memandang

    Sejauh Mata Memandang juga banyak mengangkat cerita budaya serta isu lingkungan dan keberlanjutan pada desain dalam produknya. Koleksi terbaru “Larung” dengan visual motif laut nan modern, mengajak kita merefleksikan kebiasaan “membuang” yang berdampak pada kesehatan laut, terutama masalah sampah plastik di Indonesia. Brand ini bahkan melibatkan Dita Karang (idol Kpop asal Bali) sebagai muse di Jakarta Fashion Week (JFW) 2026, membuktikan produk lokal bisa berdiri sejajar dengan fashion global.

  • THENBLANK

    Brand lokal dengan tagline “Dress Well, Keep it Simple” ini merilis produk Wrap Saroong atau sarung instan yang dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Produk ini muncul dalam koleksi ‘Nostalgia’ untuk raya tahun 2024 dan koleksi ‘Temurun’ untuk raya tahun 2025. Harganya cukup terjangkau yaitu start from Rp119.000-Rp239.000 untuk koleksi ‘Temurun’ pada website-nya. Kini beberapa pilihan outfit dengan nuansa Indonesia pun hadir kembali pada koleksi ‘Janur’ untuk Raya 2026.

Lights, Camera, Actions! Yuk Waktunya Lanjutkan Tren Berkain Ini!

Meskipun cerita tren berkain ini terlihat manis, namun tetap memiliki ‘jurang kecil’ sebagai tantangan. Maksudnya, walaupun banyak yang menyetujui budaya harus dilestarikan, tetap saja belum semua Gen Z benar-benar menggunakan kain untuk aktivitas harian. Ini hal wajar karena dalam psikologi komunikasi, perubahan perilaku memang membutuhkan waktu dan yang perlu diperhatikan ialah meningkatkan kesadaran terlebih dahulu. Yap, tren berkain sudah berhasil mencapai itu, khususnya untuk Gen Z usia 15-19 tahun yang sangat kuat di visual learning.

Untuk audiens 20-an, tren ini cenderung lebih mudah menggerakkan aksi nyata seperti: ikut event berkain, membeli produk lokal, atau rutin memakai kain di kegiatan santai. Kebangkitan berkain membuktikan satu hal penting: melestarikan budaya nggak harus kaku. Dengan kreativitas, influenser serta niche yang pas, dan medium digital, kain tradisional bisa jadi fashion statement modis, fun, dan punya nilai tinggi.

Gen Z sudah membuktikan bahwa budaya bisa dibawa dengan cara yang keren. Hanya bagaimana kita semua mau meneruskan tongkat estafetnya. Dan sekarang, pertanyaannya adalah kalau kamu sudah “Yeay!” alias setuju dengan tren ini, mau nggak kamu ikut ambil peran kecilnya juga? Dengan langkah sederhana yaitu mulai mix and match kain favorit yang ada di lemarimu. So, sekarang waktu yang tepat buat challenge diri kamu! Ambil kain khas Indonesia favoritmu, styling versi kamu, dan share ke media sosialmu. Tunjukkan bahwa kain sebagai budaya Indonesia, bukan cuma masa lalu, tapi masa depan fashion yang mendunia.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *