"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Kasus “Super Flu” Meningkat, Kenali Gejala dan Cegah Penyebarannya

Penyebaran “Super Flu” di Amerika Serikat

Kasus flu yang disebut sebagai “super flu” kian meluas di Amerika Serikat (AS). Varian influenza baru yang menyebar cepat dan bersifat agresif ini sekarang menjadi strain dominan di “Negeri Paman Sam”. Memasuki musim liburan akhir tahun, aktivitas flu dilaporkan meningkat. Masyarakat mengalami berbagai gejala seperti demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, hingga kelelahan ekstrem.

Para ahli di AS memperingatkan bahwa musim flu kali ini berpotensi lebih berat dibandingkan biasanya, terutama pada anak-anak yang belum menerima vaksin flu. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan jumlah kasus, rawat inap, dan kematian akibat flu terus meningkat.

Varian Baru Influenza A H3N2 Subclade K

Lonjakan kasus flu di AS saat ini sebagian besar dipicu oleh varian baru influenza A H3N2 yang telah mengalami mutasi. Varian tersebut dikenal sebagai H3N2 subclade K. Menurut para ahli, mutasi ini membuat virus lebih mudah menghindari kekebalan tubuh yang terbentuk dari vaksin flu sebelumnya.

Karena itu, penyakit akibat varian H3N2 subclade K kerap disebut sebagai “super flu” di Amerika Serikat, meski istilah tersebut tidak digunakan secara medis. “Mengetahui adanya strain baru yang bermutasi, sementara H3N2 dikenal dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat, tentu menjadi hal yang mengkhawatirkan,” ujar Dr. Robert Hopkins Jr., Direktur Medis National Foundation for Infectious Diseases (NFID).

Subclade K dengan cepat menjadi strain dominan di belahan bumi utara. Varian ini juga dilaporkan memicu lonjakan kasus flu di Jepang, hingga negara tersebut menetapkan status epidemi influenza lebih awal dari biasanya. Di Eropa, subclade K turut mendorong musim flu yang berat di lebih dari separuh wilayah, menurut laporan World Health Organization (WHO). Bahkan, laporan media menyebutkan Inggris menghadapi salah satu musim dingin terburuk akibat penyebaran strain ini.

Penyebaran Varian di Seluruh AS

Para ahli AS mengatakan, mengingat virus tidak mengenal batas wilayah, subclade K kemungkinan telah berada di Amerika Serikat sejak beberapa waktu lalu. Untuk melacak penyebaran varian baru, para ilmuwan menggunakan metode pengurutan genom (genomic sequencing). Tes flu standar tidak dapat menunjukkan secara spesifik apakah seseorang terinfeksi jenis influenza A tertentu atau subclade H3N2 tertentu.

Dari 216 virus H3N2 yang dikirim laboratorium negara bagian dan lokal ke Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sejak 28 September, sebanyak 89 persen di antaranya merupakan subclade K. Hal tersebut tercantum dalam laporan pengawasan FluView terbaru CDC. Hingga 26 Desember, sekuens genetik H3N2 subclade K telah dilaporkan ke basis data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) dari sedikitnya 30 negara bagian di Amerika Serikat serta Distrik Columbia.

Daftar negara bagian yang terdampak antara lain:
* Alaska
* California
* Colorado
* Connecticut
* Delaware
* Florida
* Hawaii
* Indiana
* Iowa
* Louisiana
* Maryland
* Massachusetts
* Michigan
* Minnesota
* Missouri
* Montana
* New Jersey
* New York
* North Carolina
* North Dakota
* Ohio
* Oklahoma
* Pennsylvania
* South Carolina
* Texas
* Vermont
* Virginia
* Washington
* Wisconsin

Belum diketahui apakah Centers for Disease Control and Prevention (CDC) akan mempublikasikan data rinci mengenai persebaran subclade K berdasarkan wilayah di Amerika Serikat.

Kekhawatiran Ketidaksesuaian Vaksin Flu

Para ilmuwan juga menyoroti adanya potensi ketidaksesuaian antara strain H3N2 dalam vaksin flu musim 2025–2026 dengan subclade K yang kini dominan. “Strain ini muncul setelah pemilihan komposisi vaksin dilakukan, sehingga kekebalan dari vaksin mungkin tidak mengenal subclade K secara optimal,” ujar Andrew Pekosz, ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health AS.

Meski demikian, para ahli menegaskan vaksin flu tetap penting karena terbukti mengurangi keparahan penyakit, risiko rawat inap, dan kematian. “Tujuan utama vaksin adalah menekan dampak penyakit pada populasi,” kata Hopkins.

Data Kasus Flu di AS Meningkat

Sejauh musim ini, CDC memperkirakan flu telah menyebabkan sekitar 4,6 juta kasus, 49.000 rawat inap, dan 1.900 kematian di AS. Angka sebenarnya diperkirakan bisa lebih tinggi. Laporan FluView CDC juga menunjukkan aktivitas flu meningkat di hampir seluruh wilayah AS, dengan lonjakan tertinggi di negara bagian seperti New York, New Jersey, Colorado, dan Louisiana.

Pemantauan limbah melalui sistem WastewaterSCAN bahkan mencatat konsentrasi virus flu A meningkat hingga 260 persen sejak November.

Gejala Super Flu yang Perlu Diwaspadai

Gejala flu akibat subclade K secara umum mirip dengan influenza musiman lainnya, antara lain:
* Demam dan menggigil
* Nyeri otot dan sakit kepala
* Kelelahan ekstrem
* Hidung tersumbat atau berair
* Batuk dan sakit tenggorokan

“Gejala flu biasanya datang tiba-tiba, seperti merasa tertabrak truk,” ujar Hopkins. Karena gejalanya mirip Covid-19 dan infeksi saluran pernapasan lain, tes sangat disarankan. Saat ini tersedia tes cepat 3-in-1 untuk influenza A, influenza B, dan Covid-19 di AS.

Serupa, jaringan media Amerika Serikat yang dimiliki oleh Nexstar Media Group, NewsNation, melaporkan gejala super flu mirip dengan flu biasa. Tapi, super flu dapat memicu gejala yang lebih berat. Gejala yang dilaporkan antara lain:
* Demam tinggi
* Nyeri badan berat
* Kelelahan ekstrem
* Batuk yang menetap
* Sakit tenggorokan
* Sakit kepala hebat

“Strain dominan tahun ini tidak selaras dengan vaksin, sehingga berpotensi membuat lebih banyak orang rentan tertular flu,” terang Neil Maniar dari Northeastern University. Sejumlah penderita juga melaporkan sesak napas, nyeri dada, gangguan pencernaan, serta lemas berkepanjangan.

Pengobatan untuk “Super Flu”

Dengan lonjakan kasus yang belum melambat, dokter menegaskan obat antivirus menjadi kunci penanganan flu dan super flu. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan empat obat, yakni Tamiflu, Xofluza, Relenza, dan Rapivab.

Xofluza: pil untuk pengobatan dini flu tanpa komplikasi pada usia 5 tahun ke atas.

Relenza: untuk usia 7 tahun ke atas.

Rapivab: untuk pengobatan dini flu pada usia 6 bulan ke atas.

“Pastikan minum cukup cairan, istirahat yang memadai, serta konsumsi Tylenol atau Advil untuk meredakan demam, sakit kepala, dan nyeri otot di rumah,” ujar Dr. Mark Mulligan dari Pusat Vaksin NYU Langone Health.

Cara Mencegah Penularan Flu

Para ahli menyarankan sejumlah langkah pencegahan selama musim virus pernapasan, antara lain:
* Mendapatkan vaksin flu
* Melakukan tes jika bergejala
* Tetap di rumah hingga bebas demam selama 24 jam
* Menghindari kontak dengan orang sakit
* Menggunakan masker di ruang tertutup dan ramai
* Rajin mencuci tangan dan menutup batuk atau bersin

“Langkah-langkah kecil ini bisa berdampak besar jika dilakukan bersama-sama,” kata Pekosz. Para ahli menegaskan, meskipun ada varian baru, vaksin flu tetap menjadi perlindungan terbaik untuk mencegah penyakit berat dan komplikasi serius.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *