"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Kasus Superflu Melonjak, IDAI Beri Tips Cegah Infeksi untuk Kelompok Rentan

Bersin atau batuk yang sering dianggap sepele bisa menjadi awal dari penyebaran virus influenza. Meski tampak sederhana, kebiasaan ini justru menjadi perhatian khusus di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap influenza tipe A H3N2 subclade K, yang dikenal dengan sebutan Superflu.

Menanggapi situasi ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan yang konsisten untuk memutus rantai penyebaran virus influenza. Upaya pencegahan tidak hanya berupa satu cara, tetapi kombinasi dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta vaksinasi influenza.

Penyebaran Superflu sangat mudah

Influenza merupakan infeksi yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi. Hal ini ditegaskan oleh Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K). Menurutnya, virus tidak hanya menyebar melalui kontak langsung, tetapi juga melalui benda-benda di sekitar kita.

“Virus bisa menyebar melalui percikan ludah, batuk, atau bersin. Kemudian menempel pada permukaan benda seperti meja atau barang lainnya, yang akhirnya menjadi rantai penyebaran virus,” ujarnya dalam Media Briefing IDAI bertajuk “Mengenali dan Mewaspadai Superflu”, via Zoom Cloud Meetings, Senin (29/12/2025).

Pola hidup bersih dan sehat penting untuk mencegah

Karena penyebarannya yang masif, PHBS menjadi fondasi dasar dalam perlindungan diri sehari-hari. Nastiti menyebutkan bahwa kebiasaan hidup bersih dan sehat bisa dimulai dengan menggunakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak sosial.

“Pencegahan dan pengendalian infeksi dari World Health Organization (WHO) juga sama saja. Mulai dari menutup hidung dan mulut dengan lengan, siku, atau tisu ketika batuk dan bersin,” tambahnya.

Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau menyentuh benda yang digunakan bersama. Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko penyebaran virus melalui tangan ke saluran pernapasan.

Nastiti juga menekankan pentingnya menjaga kondisi tubuh tetap prima. Istirahat yang cukup, konsumsi air putih secara rutin, serta asupan makanan bergizi menjadi bagian dari upaya pencegahan yang tidak kalah penting.

“Segera hubungi rumah sakit atau klinik terdekat jika kondisi tidak membaik atau berada di lingkungan berisiko tinggi,” kata Nastiti.

Vaksinasi influenza jadi langkah kunci pencegahan

Selain menjaga PHBS, IDAI juga merekomendasikan vaksinasi influenza sebagai langkah pencegahan utama. Nastiti menjelaskan bahwa berdasarkan data WHO, vaksinasi influenza merupakan tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap akibat infeksi ini.

Efektivitas vaksin influenza tercatat mencapai 70–75 persen pada anak dan sekitar 30–40 persen pada orang dewasa. Meskipun tidak memberikan perlindungan mutlak, vaksin membantu tubuh membentuk respons imun yang lebih siap ketika terpapar virus.

Vaksin influenza perlu diperbarui setiap tahun

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa perlindungan dari vaksin influenza tidak bersifat permanen. Seiring waktu, respons imun dari vaksin dapat menurun. Oleh karena itu, vaksinasi harus diperbaharui setiap tahunnya.

“Vaksinasi influenza ini harus diulang pertahun, karena ternyata imunitasnya bisa menurun,” jelasnya. Apalagi, virus influenza dikenal sangat sering bermutasi. Karena itu, badan influenza dunia setiap tahun melakukan pemantauan dan memprediksi jenis virus influenza yang berpotensi beredar pada musim berikutnya.

Dari prediksi tersebut, komposisi vaksin influenza akan disesuaikan agar perlindungan yang diberikan tetap relevan.

“Perlu ada pembaharuan vaksin sesuai dengan prediksi tahun ke depannya,” katanya.

Vaksinasi influenza aman diberikan sejak usia enam bulan

Banyak orang tua mungkin bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk memulai perlindungan ini. Menurut rekomendasi medis, vaksin influenza dapat diberikan melalui suntikan intramuskular mulai dari usia enam bulan.

Untuk anak usia 6 bulan hingga 8 tahun yang baru pertama kali mendapatkan vaksin, diperlukan dua dosis dengan selang waktu pemberian minimal empat minggu. “Selanjutnya diulang setiap tahunnya, dengan harapan bahwa sampai usia lima tahun yang kelompok resiko tinggi (dalam hal ini anak-anak) perlindungannya akan optimal,” ucapnya.

Namun berdasarkan rekomendasi IDAI, setiap tahun diulang sampai di usia berapapun. Mengingat anak merupakan kelompok rentan dibanding orang dewasa. Sementara bagi mereka yang berusia 9 tahun atau lebih cukup menerima satu dosis setiap tahunnya.

Manfaat dari vaksinasi influenza

Mendapatkan vaksin bukan berarti seseorang tidak akan pernah sakit flu sama sekali, namun risiko terinfeksi menjadi jauh lebih kecil. Selain itu, terdapat berbagai manfaat signifikan lainnya yang dirasakan oleh penerima vaksin. Antara lain:

  • Mengurangi keparahan penyakit ketika terserang flu
  • Mengurangi risiko komplikasi virus flu
  • Mengurangi risiko perawatan di rumah sakit akibat komplikasi flu yang parah
  • Menurunkan risiko perburukan penyakit kronis, yang telah diderita sebelumnya, saat sakit flu
  • Membantu melindungi orang-orang sekitar, terutama mereka yang merupakan kelompok berisiko, dari paparan virus influenza.
Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *