Tips Menghadapi Mental yang Rapuh dari Prilly Latuconsina
Mental dan emosi setiap orang bisa berbeda-beda, terlebih di momen-momen tertentu. Ada saat-saat di mana seseorang merasa bahagia, tetapi juga ada saat-saat di mana mereka merasa rapuh. Hal tersebut wajar terjadi karena kita semua adalah manusia, termasuk para public figure. Salah satu contohnya adalah Prilly Latuconsina, yang secara terbuka sering membagikan perjalanannya dalam menghadapi masa-masa sulit seperti mental breakdown.
Kelelahan, baik dalam pekerjaan maupun menghadapi lingkungan atau hubungan yang toxic, pernah ia alami. Dari pengalamannya itu, Prilly berbagi kepada Popbela secara eksklusif tentang tips menghadapi mental yang lagi rapuh. Berikut beberapa tips yang diberikan oleh artis berusia 29 tahun ini:
1. Keluar dari Zona Nyaman atau Traveling
Prilly mengaku sempat kehilangan dirinya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk bepergian atau traveling. Bahkan ia berani traveling sendiri ke tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Keluar dari zona nyaman itu dan melihat banyak hal baru membuatnya menemukan sudut pandang yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Bahkan, melalui hal tersebut ia kembali mendapati makna dirinya dan merasa bahagia.
“Menurutku traveling itu penting banget untuk kita alami dan traveling itu nggak harus mahal. Terserah, kita bisa traveling ke mana pun, tapi yang jelas kita keluar dari zona nyaman. Kita ke tempat lain yang kita nggak pernah, supaya kita bisa melihat sudut pandang orang lain dan di tempat lain. Karena aku traveling, aku banyak ngobrol sama orang, traveling sendiri juga, jadinya banyak bengong, banyak mikir, banyak menanyakan ke diri sendiri dan akhirnya merasa aku bahagia dengan diriku sendiri,” ceritanya.
2. Nggak Apa-Apa Perlu Waktu untuk Memaafkan

Aktris film Ketika Berhenti Di Sini itu juga berbagi dirinya saat berada di fase kembali utuh sesuai dengan buku terbarunya, Retak, Luruh, Kembali Utuh. Baginya, berada di fase yang terlihat baik-baik saja itu bukan berarti sudah melupakan atau melepaskan rasa sakit atau luka yang ada dalam diri. Jika suatu saat ada trigger yang mengembalikan rasa sakit tersebut, ini merupakan hal yang wajar, termasuk saat kamu mengalaminya.
“Karena kita ada di fase kembali utuh, bukan berarti kita melupakan atau sudah sepenuhnya melepaskan rasa-rasa sakit atau luka yang pernah ada di diri kita dan itu wajar banget. Jadi, buat siapa pun yang sudah ada di fase utuh, mungkin sudah merasa baik-baik aja. Tapi tiba-tiba kalau ada trigger-nya muncul lagi, naik lagi ke permukaan perasaannya, menurut aku itu wajar banget,” katanya.
Lebih lanjut, Prilly mengatakan saat berada di momen tersebut, harus bisa menguatkan diri lagi. Ia juga berpesan bahwa nggak apa-apa kok belum bisa memaafkan dan melupakan perbuatan orang lain. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk berdamai, tapi yang terpenting adalah bagaimana kamu juga memaafkan dirimu dulu.
3. Latihan Pernapasan Bisa Bantu Jadi Lebih Tenang

Mental nggak stabil bisa karena banyak penyebab, di saat seperti ini biasanya orang cenderung melakukan hal impulsif. Prilly pun memberikan saran untuk latihan pernapasan demi menghindari tindakan impulsif yang tak bermakna. Hal ini juga yang ia lakukan saat sedang merasakan emosi negatif, sesuai dengan pesan dari psikolognya. Lalu, ia juga meninggalkan media sosial untuk lebih fokus dan mindful.
“Jadi misalnya aku lagi sedih, lagi marah, itu aku cuma diam di kamar terus bernapas. Aku breathing exercise, bernapas aja sendirian gitu. Karena kan hidupku tuh riuh banget ya. Kayak keluar rumah ketemu sama orang, buka sosmed isinya orang juga, isi WhatsApp-ku tuh grup-grup kerjaan semua, isinya orang-orang semua. Jadi, aku benar-benar meninggalkan dulu sosial media, handphone, untuk breathing exercise.”
4. Sediakan Ruang untuk Diri

Selain latihan pernapasan, Prilly Latuconsina juga menganjurkan untuk menyediakan ruang untuk diri sendiri. Bertanya pada diri sendiri, menggali penyebab kamu merasakan semua emosi tersebut, bisa membantu untuk bangkit dari mental yang rapuh.
“Sebelum melakukan sesuatu yang impulsif, karena kadang kalau mental lagi nggak baik-baik saja, kita ingin melakukan sesuatu yang impulsif dan bisa jadi menyakiti diri kita. Itu juga pengalamannya dari diriku sendiri ya. Karena aku nggak expert di mental, tapi aku selalu bawa dari pengalaman pribadi gitu. Kalau aku nggak stabil, pasti ada rasa pengen menyakiti diri sendiri. Nah, sebelum kita melakukan hal yang impulsif, menurut aku ada baiknya kita kasih ruang ke diri kita sendiri gitu.”
5. Temukan Yang Disukai

Terakhir tips dari Prilly Latuconsina untuk kamu yang mau mengekspresikan perasaanmu dengan sebuah karya adalah dengan menemukan yang kamu sukai. Apa pun yang membuatmu merasa bahagia dan sukai, bisa menjadi media untuk meluapkan emosi serta kreativitasmu.
“Temuin yang kamu suka! Misalnya kamu sukanya makeup, bisa bikin kreasi makeup yang kamu mau. Atau kamu suka makan atau suka masak, kamu bisa masak. Atau kalau kamu suka nulis, ketika udah punya ruang buat diri sendiri, bisa jadi tulisannya akan semakin bagus dan semakin lancar untuk menulisnya.”
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











