"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Denada Melahirkan Ressa di Puncak Karier, Siapa Ayahnya?

Kasus Anak Kandung Denada yang Membuat Publik Heboh

Denada, penyanyi ternama Indonesia, kini tengah menjadi sorotan setelah seorang pemuda asal Banyuwangi, Ressa Rizky Rossano, mengaku sebagai anak kandungnya yang ditelantarkan. Pemuda berusia 24 tahun ini telah mengajukan gugatan resmi ke Pengadilan Negeri Banyuwangi untuk memperjuangkan legalitas statusnya yang selama ini tidak diakui secara hukum.

Jika klaim Ressa benar adanya, maka ia lahir pada periode tahun 2001 atau awal 2002. Saat itu, Denada diperkirakan berusia 22 atau 23 tahun dan sedang berada di puncak karier musiknya sebagai Queen of Indonesian Rap. Kala itu, ia baru saja merilis album sukses Awal Baru dan tengah mempersiapkan transisi besar ke musik dangdut dengan citra sebagai bintang muda yang energik.

Kehidupan asmaranya di awal tahun 2000-an dikenal sangat tertutup, dan statusnya secara publik masih melajang tanpa ada kabar pernikahan resmi. Adanya seorang anak pada masa kejayaannya tersebut diduga dapat merusak reputasi serta kontrak kerja, sehingga identitas Ressa diduga sengaja disembunyikan dari media.

Ressa merasa dirinya sengaja “dibuang” ke Banyuwangi agar tidak mengganggu mobilitas karier Denada yang sangat padat di Jakarta demi mempertahankan citra artis tanpa anak.

Perkembangan Kasus dan Tuntutan Ganti Rugi

Moh Firdaus Yuliantono, kuasa hukum Ressa, mengungkapkan bahwa alasan kenapa Ressa diserahkan belum dapat jawaban pasti. Namun, yang pasti, Denada tidak mau terlihat memiliki anak. Kabar mengenai status aslinya mulai terungkap melalui selentingan orang-orang terpercaya yang menyebut ia bukanlah anak dari bibi Denada sebagaimana yang selama ini ia ketahui.

Firdaus menjelaskan bahwa awalnya Ressa mendengar dari kabar selentingan, lalu diberitahu oleh seseorang yang sangat dipercayainya bahwa ia bukan anak dari bibi Denada, melainkan anak Denada sendiri.

Hingga saat ini, sosok ayah biologis dari Ressa masih menjadi misteri karena tidak pernah ada catatan pernikahan atau pengakuan hubungan serius Denada pada tahun tersebut. Meski telah mencoba bertanya secara langsung untuk mencari kejelasan, upaya Ressa tetap membentur tembok karena Denada secara konsisten menolak memberikan pengakuan.

“Ketika ia menanyakan langsung kepada Denada, hal tersebut tidak diakui. Denada tetap mengatakan bahwa ia adalah adiknya, bukan anaknya,” tambah Moh Firdaus Yuliantono.

Tuntutan Ganti Rugi Rp7 Miliar

Selain menuntut pengakuan sebagai anak kandung, Ressa Rizky Rossano juga mengajukan tuntutan ganti rugi senilai Rp 7 miliar. Nilai itu mencakup akumulasi biaya pendidikan dari tingkat SD sampai SMA serta biaya hidup. “Kerugian materiil yang dimohonkan ke PN Banyuwangi sebanyak Rp 7 miliar,” ucap Moh Firdaus Yuliantono.

Selama ini, Ressa dibesarkan oleh keluarga besar Denada di Banyuwangi, dengan kebutuhan hidup yang sebagian besar dipenuhi oleh almarhumah Emilia Contessa. Setelah Bu Emilia meninggal dunia, kondisi ekonomi keluarga memburuk dan tidak ada pemasukan sama sekali. Akhirnya, anak tersebut mencoba menuntut Denada.

Tanggapan Pihak Denada

Hingga saat ini, Denada sendiri belum memberikan klarifikasi mengenai kasus ini. Pihak Denada hanya memberikan tanggapan melalui kuasa hukumnya, Muhammad Iqbal. Ia membenarkan adanya gugatan tersebut. Meski telah hadir dalam proses mediasi, pihak Denada mengaku belum mempelajari konstruksi hukum dari gugatan yang diajukan.

“Jadi, terkait isi gugatan, konstruksi hukumnya, apa yang diminta, dan apa yang dimasukkan, masih belum jelas bagi kami,” tutur Muhammad Iqbal dikutip dari KOMPAS.COM, Sabtu (10/1/2026).

Muhammad Iqbal menambahkan bahwa pihaknya memerlukan waktu untuk berdiskusi dengan Denada sebelum memberikan jawaban resmi atas tuntutan Ressa Rizky Rossano. “Tetapi kami memang perlu waktu untuk membaca dan mempelajari surat gugatan tersebut terlebih dahulu,” tegasnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *