Rutinitas yang Aman, Tapi Perlahan Mengosongkan
Setiap pagi, saya datang ke kantor dengan rutinitas yang hampir selalu sama. Absen, membuka komputer, mengecek pesan di grup kerja, lalu mulai mengerjakan tugas yang sebagian besar sudah bisa saya tebak alurnya. Tidak ada yang benar-benar salah dengan itu. Pekerjaan berjalan, gaji diterima tepat waktu, dan status sebagai Aparatur Sipil Negara masih dianggap sebagai sesuatu yang “aman” oleh banyak orang.
Namun entah sejak kapan, muncul pertanyaan yang semakin sering mampir di kepala saya: apakah saya benar-benar hidup dalam pekerjaan ini, atau sekadar hadir sebagai tubuh yang menjalankan kewajiban? Pertanyaan itu tidak muncul karena kelelahan fisik semata. Ia datang dari ruang yang lebih sunyi, ruang batin yang jarang mendapat perhatian dalam sistem kerja kita. Ruang tempat makna, semangat, dan rasa berguna seharusnya bertemu.
Dalam percakapan sehari-hari, kita sering bicara soal kinerja, target, dan capaian. Tapi jarang sekali bertanya: apakah pekerjaan ini masih memberi rasa hidup bagi yang menjalaninya? Tulisan ini bukan gugatan, apalagi keluhan. Ia lebih menyerupai catatan reflektif seorang ASN yang mencoba jujur pada dirinya sendiri, sambil mengajak pembaca—ASN maupun bukan—untuk ikut merenung. Tentang kerja, tentang makna, dan tentang arah hidup yang perlahan bisa bergeser tanpa kita sadari.
Menjadi ASN sering diasosiasikan dengan stabilitas. Di tengah dunia kerja yang serba tidak pasti, status ASN masih dipandang sebagai pelabuhan aman. Tidak sedikit yang sejak awal memang mengejar keamanan itu. Tidak salah. Setiap orang punya alasan hidupnya masing-masing. Namun persoalannya, stabilitas yang terlalu lama dinikmati tanpa refleksi bisa berubah menjadi rutinitas yang mematikan rasa.
Rutinitas memang bukan musuh. Ia justru membuat sistem berjalan. Masalahnya muncul ketika rutinitas tidak lagi memberi ruang bagi kesadaran. Kita bekerja karena harus, bukan karena merasa terhubung. Kita menyelesaikan tugas karena ada tenggat, bukan karena merasa itu berarti. Perlahan, pekerjaan menjadi sekadar daftar yang harus dicentang.
Banyak ASN yang mungkin pernah merasakan ini, meski jarang diucapkan. Datang tepat waktu, pulang sesuai jam kerja, menyelesaikan tugas tanpa drama, tapi di dalam diri ada rasa datar yang sulit dijelaskan. Tidak marah, tidak sedih, hanya hampa. Seperti mesin yang bekerja dengan baik, tapi lupa untuk merasa.
Dalam sistem birokrasi, perasaan semacam ini sering dianggap remeh. Selama pekerjaan selesai, apa lagi yang perlu dipersoalkan? Namun justru di situlah masalahnya. Ketika kerja hanya diukur dari yang tampak, kita kehilangan keberanian untuk membicarakan yang tak terlihat: kelelahan batin, hilangnya makna, dan jarak yang makin jauh antara diri kita dengan pekerjaan yang kita jalani setiap hari.
Ikigai dan Pertanyaan yang Jarang Kita Ajukan
Di tengah kegelisahan semacam itu, saya kemudian bertemu dengan konsep ikigai. Bukan sebagai teori besar yang harus diterapkan mentah-mentah, melainkan sebagai alat bantu untuk bertanya dengan lebih jujur. Ikigai sering dijelaskan sebagai irisan antara passion, mission, vocation, dan profession. Namun bagi saya, ikigai yang paling penting justru terletak pada pertanyaannya, bukan pada diagramnya.
Apakah pekerjaan ini masih menyentuh hal yang saya sukai? Apakah ia masih memberi manfaat bagi orang lain? Apakah ia diakui dan memberi penghidupan yang layak? Dan yang paling penting, apakah saya masih merasa berarti saat menjalaninya? Pertanyaan-pertanyaan ini jarang muncul dalam ruang kerja ASN. Kita lebih sering ditanya soal target dan capaian, bukan soal perasaan dan makna.
Padahal, manusia yang bekerja bukan sekadar sumber daya. Ia membawa harapan, nilai, dan kebutuhan untuk merasa hidup. Ikigai tidak mengajak kita untuk resign massal atau memberontak pada sistem. Ia justru mengajak untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam. Bagi ASN, ikigai bisa menjadi cermin yang jujur. Cermin yang memperlihatkan apakah kita masih selaras dengan pekerjaan, atau sekadar bertahan karena tidak tahu harus ke mana lagi.
Dalam banyak kasus, ketidakhidupan dalam kerja bukan karena kita tidak peduli pada negara atau masyarakat. Justru sebaliknya. Banyak ASN yang masuk dengan idealisme dan semangat pengabdian. Namun seiring waktu, idealisme itu terkikis oleh sistem yang lebih menghargai kepatuhan daripada pemaknaan, lebih mengutamakan laporan daripada dampak.
Ketika Passion dan Misi Tersesat di Dalam Sistem
Tidak semua ASN bekerja sesuai dengan minat awalnya. Ada yang ditempatkan di bidang yang jauh dari latar belakang atau passion-nya. Ada pula yang sebenarnya menyukai pekerjaannya, tetapi kehilangan ruang untuk berkembang. Dalam jangka pendek, hal ini mungkin tidak terasa. Namun dalam jangka panjang, ketidaksesuaian ini bisa menjadi sumber kelelahan batin.
Passion sering dianggap kata mewah yang tidak relevan dalam birokrasi. Seolah-olah bekerja untuk negara tidak perlu melibatkan rasa suka. Padahal, tanpa passion, pekerjaan mudah berubah menjadi beban. Kita tetap bisa menyelesaikannya, tetapi tanpa energi yang hidup. Hal yang sama terjadi pada misi. Banyak ASN masuk dengan niat mengabdi dan memberi manfaat. Namun dalam praktiknya, misi itu sering tersesat di antara tumpukan administrasi.
Kita sibuk mengurus prosedur, tapi lupa pada tujuan. Kita fokus pada kepatuhan, tapi lupa pada dampak. Di sinilah banyak ASN mulai bertanya dalam hati, meski tidak berani mengucapkannya: apakah yang saya kerjakan ini benar-benar membantu masyarakat, atau hanya memenuhi kewajiban administratif? Pertanyaan ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan tanda kepedulian. Sayangnya, sistem jarang menyediakan ruang aman untuk pertanyaan semacam ini.
SKP, Kinerja, dan Makna yang Tidak Tercatat
Dalam sistem ASN, kinerja diukur dengan indikator yang jelas. Ada Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), target, dan laporan yang harus dipenuhi. Semua itu penting untuk memastikan akuntabilitas. Namun persoalannya, tidak semua hal yang bermakna bisa diukur dengan angka. Ada ASN yang dengan sabar membantu masyarakat memahami prosedur yang rumit. Ada yang menjadi tempat bertanya rekan kerja tanpa pamrih. Ada yang menjaga integritas di tengah godaan.
Kontribusi semacam ini jarang masuk dalam penilaian kinerja, padahal dampaknya nyata. Ketika makna kerja tidak tercatat, ia perlahan kehilangan nilai dalam sistem. ASN pun belajar menyesuaikan diri. Yang penting tercapai target, soal rasa dan makna bisa dikesampingkan. Dalam jangka panjang, ini menciptakan budaya kerja yang kering secara emosional.
Banyak ASN akhirnya bekerja dengan logika bertahan. Selama aman, tidak bermasalah, dan tidak menonjol, itu sudah cukup. Namun di balik itu, ada harga yang harus dibayar: hilangnya rasa hidup. Kita mungkin tetap bekerja hingga pensiun, tetapi tanpa pernah benar-benar merasa hadir dalam perjalanan itu.
Apakah Kita Masih Ingin Berjalan ke Arah Ini?
Jika ikigai adalah kompas, maka pertanyaannya bukan apakah arah kita benar atau salah, melainkan apakah kita masih ingin berjalan ke arah itu. Banyak ASN mungkin menyadari bahwa arah kariernya saat ini bukan yang paling ideal, tetapi memilih tetap berjalan karena merasa tidak punya pilihan. Refleksi semacam ini tidak harus berujung pada keputusan besar.
Tidak semua orang harus pindah unit, ganti jabatan, atau mencari jalan keluar dari birokrasi. Terkadang, perubahan kecil dalam cara memaknai kerja sudah cukup untuk membuat kita merasa lebih hidup. Mungkin dengan menemukan ruang kecil untuk menyalurkan passion, meski di luar tupoksi formal. Mungkin dengan mengingat kembali dampak kecil yang kita berikan pada orang lain.
Atau mungkin dengan sekadar mengakui pada diri sendiri bahwa lelah yang kita rasakan bukan karena malas, melainkan karena kehilangan makna. Menjadi ASN tidak berarti kita harus mematikan sisi manusiawi kita. Justru sebaliknya, birokrasi yang sehat membutuhkan manusia yang hidup di dalamnya. Manusia yang bekerja bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena merasa terhubung dengan apa yang dikerjakannya.
Tulisan ini tidak menawarkan jawaban pasti. Ia hanya mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur. Apakah saya masih hidup dalam pekerjaan saya? Jika jawabannya belum, mungkin bukan sistem yang sepenuhnya salah, dan bukan pula diri kita yang sepenuhnya keliru. Mungkin kita hanya perlu kembali menyelaraskan kompas, sebelum berjalan lebih jauh. Karena pada akhirnya, karier bukan sekadar tentang bertahan sampai pensiun. Ia adalah bagian dari hidup itu sendiri. Dan hidup, seharusnya, tetap terasa hidup saat dijalani.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











