"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Mengapa Notifikasi WhatsApp Memicu Hoaks?

Perasaan Kecemasan yang Menyebar

Pernahkah Anda sedang menikmati makan malam yang tenang, lalu tiba-tiba ponsel bergetar? Sebuah pesan masuk di Grup WhatsApp keluarga. Tantenya sepupu atau pakdenya teman membagikan sebuah video dengan label “DITERUSKAN BERKALI-KALI”. Isinya bikin jantung copot: suara robotik, peta merah menyala, dan hitungan mundur. “Siap-siap! 7 Hari lagi air laut akan naik!” Nasi di piring mendadak terasa hambar. Logika kita mungkin berteriak, “Ah, ini pasti hoaks lagi!” Tapi, ada bagian kecil di dada kita yang berdesir cemas. “Bagaimana kalau kali ini benar?” Lalu, tanpa sadar, jari kita menekan tombol forward ke grup sebelah. Niatnya baik: “Sekadar mengingatkan.” Padahal, saat itu juga, kita baru saja menyalakan sumbu kepanikan baru.

Fenomena ini saya sebut “Panik 7 Hari”. Minggu ini ia viral lagi. Dan sebagai orang yang sudah puluhan tahun mengamati bagaimana manusia berpikir dan merasa, saya ingin mengajak Anda duduk sejenak. Mari kita bicara dari hati ke hati, bukan soal lempeng bumi yang bertabrakan, tapi soal “gempa” yang terjadi di dalam kepala kita sendiri.

Seperti Mendengar Ranting Patah di Hutan Gelap

Mari kita jujur. Kenapa kita begitu mudah percaya berita buruk yang ada batas waktunya?

Bayangkan Anda sedang berjalan sendirian di jalan sepi nan gelap. Tiba-tiba terdengar suara “krek!”—ranting patah. Apa yang Anda lakukan? Apakah Anda berhenti lalu meneliti dengan senter apakah itu kucing atau perampok? Tidak. Anda pasti lari atau pasang kuda-kuda. Otak kita, warisan nenek moyang zaman purba, memang didesain begitu. Namanya mekanisme fight-or-flight. Dulu, mekanisme ini menyelamatkan kita dari harimau. Masalahnya, di zaman digital ini, “harimau” itu berbentuk notifikasi ponsel. Otak kita tidak bisa membedakan antara bahaya fisik nyata (gempa) dengan bahaya simbolik (tulisan “AWAS!” berwarna merah).

Jadi, ketika Ibu atau Bapak di grup keluarga menyebarkan berita itu, mereka tidak sedang menjadi “orang bodoh yang kurang literasi”. Tidak sama sekali. Mereka sedang berusaha menyelamatkan kawanan. Rasa cemas itu nyata. Menyebarkan berita itu adalah cara instan otak mereka untuk merasa punya kendali (sense of control) di tengah situasi dunia yang serba tidak pasti ini.

Ibarat orang yang sakit gigi, kita sedang mencari apapun yang bisa menjelaskan rasa sakitnya—bahkan jika penjelasannya salah. Kita menelan hoaks bukan karena kita lapar informasi, tapi karena kita haus rasa aman.

Anak-anak Kita yang Lelah Mental

Lalu, mari kita tengok anak-anak kita. Generasi Z dan Alpha yang seharian menatap layar. Bagi kita, mungkin berita viral itu cuma selingan. Tapi bagi mereka yang tumbuh dengan ponsel di tangan, batas antara dunia nyata dan dunia layar itu setipis kulit bawang.

Saya sering merasa iba. Bayangkan, belum selesai mereka pusing dengan tugas sekolah atau kecemasan sosial di Instagram, mereka dihajar lagi dengan narasi kiamat sepekan. Ini seperti memaksa mereka nonton film horor tanpa henti, 24 jam sehari. Akibatnya? Mereka mengalami apa yang saya sebut “kelelahan batin digital”. Mereka lelah bukan karena fisik bekerja keras, tapi karena batinnya dipaksa siaga terus-menerus. Jika remaja kita tampak apatis, malas bergerak, atau mudah marah, jangan buru-buru memarahi mereka “malas”. Bisa jadi, itu adalah cara tubuh mereka berteriak: “Tolong, matikan beritanya. Aku butuh napas.”

Uniknya, kita di Indonesia punya bumbu penyedap rasa takut yang khas. Budaya kita akrab dengan mitos dan ramalan. Di satu sisi kita takut bencana, tapi di sisi lain, jauh di lubuk hati, kadang kita seperti “menunggu” datangnya Ratu Adil. Dan Ratu Adil biasanya datang setelah goro-goro (kekacauan). Jadi, hoaks kiamat 7 hari ini tanpa sadar klop dengan alam bawah sadar kita yang merindukan pembersihan total. Kita takut, tapi penasaran.

Membangun “Pos Ronda” di Kepala

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Mematikan internet jelas mustahil. Memarahi anggota keluarga yang menyebar hoaks juga percuma—itu malah bikin mereka makin defensif dan merasa dimusuhi.

Saya menawarkan strategi yang lebih manusiawi. Mari kita mulai dari meja makan atau ruang keluarga kita sendiri.

Jika ada kerabat yang mengirim berita panik, jangan dibalas dengan data kaku dari BMKG atau kalimat, “Ah Mama ini termakan hoaks lagi!” Itu menyakitkan. Cobalah pendekatan yang lebih merangkul. Tanyakan perasaannya.

“Ibu kelihatannya khawatir sekali ya sama berita ini? Apa yang bikin Ibu paling takut?”

Pertanyaan sederhana ini ajaib. Saat seseorang merasa didengar emosinya, rasa paniknya turun. Otak logikanya pelan-pelan kembali bekerja. Saat itulah baru kita bisa masuk dengan obrolan santai, “Iya sih Bu ngeri kalau beneran, tapi untungnya kemarin Pak Ahli Geologi bilang…”

Kita juga perlu membangun “Pos Ronda Digital”. Dulu, kalau ada maling, warga memukul kentongan untuk saling jaga. Sekarang, kita butuh kentongan versi baru. Kita butuh orang-orang di grup WhatsApp—bisa Pak RT, guru ngaji, atau tetangga yang dituakan—untuk menjadi penenang, bukan pengompor. Kita butuh komunitas yang saling mengelus dada dan bilang, “Tenang, kita cek dulu bareng-bareng ya.”

Penutup

Sebagai penutup, Bapak-Ibu dan kawan-kawan sekalian. Gempa bumi adalah urusan Tuhan dan lempeng tektonik; kita tidak bisa mencegahnya. Tapi gempa kepanikan di kepala kita? Itu urusan kita.

Mari kita berjanji satu hal sederhana: Sebelum jari kita menekan tombol forward pada berita menakutkan berikutnya, tarik napas panjang. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya membagikan ini karena fakta, atau karena saya sedang takut sendirian?”

Mari kita jaga kewarasan, sehangat kita menjaga keluarga.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *