Duka yang Menyelimuti Keluarga Pramugari Senior
Duka menyelimuti keluarga Florencia Lolita Wibisono (32), seorang pramugari senior yang menjadi korban dalam tragedi pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport (IAT) di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan pada Sabtu (18/1/2026). Di mata keluarga, Ollen, biasa Florencia dipanggil, adalah sosok panutan yang mengabdikan hidupnya di dunia penerbangan.
Karier yang Panjang dan Berpengalaman
Karier Ollen di dunia penerbangan terbilang panjang. Ia telah mengabdi di Maskapai Lion Air sekitar 13 sampai 14 tahun lamanya. Pengabdiannya dan pengalamannya di maskapai itu membuat Ollen dipercaya menjadi trainer awak kabin. “Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD (Human Resources Department),” ujar Ramos, salah satu anggota keluarga Florencia, Minggu (19/1/2026).
Sekitar tiga bulan lalu, Ollen memutuskan bergabung dengan Air Indonesia Transport (IAT). Ia pun langsung dipercaya masuk dalam kru penerbangan rute Yogyakarta-Makassar yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Masa Depan yang Tidak Terwujud
Duka semakin dalam saat Ollen, yang tengah mempersiapkan masa depan, masuk ke dalam daftar korban tragedi jatuhnya pesawat tersebut. Padahal, ia tengah mempersiapkan masa depan. Ia berencana menikah dengan kekasihnya, seorang pilot. Keduanya sudah membicarakan rencana pernikahan secara serius. “Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” ungkap Juwita, kerabat Florencia, dengan nada lirih.
Keluarga Ollen di Tondano, Minahasa, juga merasakan kehilangan yang sama. Meski tanggal pasti belum ditentukan, rencana pernikahan tersebut sudah dibicarakan secara serius. “Kami dengar sudah ada rencana menikah, tapi belum tahu kapan. Rencananya secepatnya. Calonnya pilot di salah satu maskapai,” tutur Yanti.
Penemuan Jenazah dan Identifikasi DNA
Pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 14.00 Wita, Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban kedua di lereng curam Gunung Bulusaraung, sekitar 100 meter dari titik jatuhnya pesawat. Korban berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan dengan name tag yang diduga bertuliskan nama Florencia. “Begitu teman-teman Basarnas datang, kita dekati, fix perempuan dan masih ada nametag-nya. Saya tidak berani memastikan, tapi dari manifes kayaknya Florencia,” ujar Saipul Malik, salah satu anggota Tim SAR di posko Tompo Bulu.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto menyatakan bahwa Tim DVI Biddokkes Polda Sulsel telah mengambil sampel DNA dari delapan keluarga korban untuk proses identifikasi ante mortem. “Data DNA pihak keluarga nantinya akan dicocokkan terhadap para korban guna mempermudah identifikasi. Kami juga bekerja sama dengan Biddokkes Polda Jabar dan Jateng karena ada keluarga yang berada di luar Sulsel,” jelas Didik dalam konferensi pers, Senin malam.
Kronologi dan Kondisi Pesawat
Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat seharusnya mendarat pukul 12.20 Wita, namun hilang kontak di wilayah Leang-leang, Maros. Seorang pendaki, Reski (20), menyaksikan detik-detik mengerikan saat pesawat yang dipiloti Kapten Senior Andy Dahananto itu menghantam lereng. “Meledak dan ada api. Cepat sekali kejadiannya, saya sampai dapat serpihan yang berhamburan,” kata Reski.
Di sisi lain, muncul fakta bahwa pesawat tersebut sempat mengalami kendala mesin sehari sebelum kecelakaan. Direktur Operasional IAT, Capt Edwin, membenarkan adanya gangguan teknis pada Jumat (17/1/2026), namun mengklaim kerusakan telah diperbaiki. “Memang ada problem di engineering kami, tapi sudah dites. Problem kecil dan sudah kami perbaiki,” pungkas Edwin.
Hingga kini, proses evakuasi dan identifikasi korban masih terus dilakukan oleh pihak berwenang di lokasi kejadian yang memiliki medan cukup berat.











