Strategi Servis dalam Permainan Bulu Tangkis
Sebelum melakukan servis pertama, para pebulu tangkis biasanya memiliki strategi yang terencana. Beberapa opsi yang sering digunakan antara lain:
- Servis pendek: Bertujuan untuk mengambil momentum kecepatan lawan dengan memancing mereka mengambil shuttlecock di dekat net.
- Servis panjang: Digunakan untuk menguji jangkauan lawan di area belakang lapangan.
- Servis tipuan: Untuk mengecoh dan membuyarkan ritme permainan lawan.
Tiga strategi ini sering menjadi pilihan utama dalam memulai permainan. Namun, kini pebulu tangkis juga dituntut untuk berpikir lebih cepat dalam mengambil keputusan tersebut.
Aturan 25 Detik dalam Uji Coba
Badminton World Federation (BWF) saat ini sedang menguji coba aturan baru yang dikenal sebagai “aturan 25 detik” atau “25 second timer”. Aturan ini mengharuskan setiap pemain yang bertugas melakukan servis tidak boleh melebihi ambang batas waktu maksimal 25 detik.
Uji coba aturan ini diterapkan dalam gelaran Daihatsu Indonesia Masters 2026 yang berlangsung di Istora, Senayan, Jakarta mulai tanggal 25 Januari 2026. Aturan ini berlaku setelah reli selesai, dan pemain diberi waktu maksimal 25 detik untuk melakukan aktivitas singkat seperti minum, mengelap keringat, atau mengikat tali sepatu.
Namun, ada syarat penting yaitu penerima servis tetap harus mengikuti tempo permainan dan tidak diperbolehkan memperlambat jalannya pertandingan. Selain itu, pergantian shuttlecock harus dilakukan sesegera mungkin setelah reli berakhir dan diselesaikan dalam batas waktu “time clock”.
Dalam aturan ini juga akan diatur mengenai sanksi penundaan dengan memberlakukan peringatan lewat kartu kuning dan merah. Namun, di tahap uji coba masih memberlakukan peringatan secara verbal.
Wacana Aturan 25 Detik
Wacana tentang aturan 25 detik ini sudah muncul sejak Agustus 2025. BWF merumuskan aturan ini sebagai salah satu opsi untuk membuat permainan lebih adil. Mereka menilai bahwa aturan ini bisa meminimalisir penundaan permainan secara objektif.
Aturan ini juga telah melalui analisis yang cukup panjang. BWF membuat laporan analisis dari ratusan pertandingan Kejuaraan Dunia maupun Turnamen World Tour, yang menunjukkan bahwa 80% setelah reli berakhir, pemain melakukan servis dengan rata-rata waktu selama 22 detik.
Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata servis yang dilakukan oleh pemain tidak terpengaruh oleh insiden cedera atau faktor interupsi lainnya. Oleh karena itu, BWF percaya bahwa 25 detik adalah periode yang tepat untuk menyeimbangkan istirahat yang cukup bagi pemain dan kelanjutan permainan secara keseluruhan.
Dukungan dari Para Pebulu Tangkis
Pada September lalu, juara dua kali Olimpiade sekaligus pebulu tangkis tunggal putra Denmark Viktor Axelsen mendukung terobosan yang dilakukan oleh BWF mengenai aturan 25 detik tersebut. Meski demikian, Axelsen menegaskan bahwa aturan ini harus terus ditekankan penerapannya di setiap turnamen untuk menciptakan aturan yang konsisten.
Hal senada juga diungkapkan oleh pebulu tangkis Inggris Lauren Smith yang menyepakati aturan tersebut sebagai salah satu opsi.
Impresi dari Pemain Saat Uji Coba
Daihatsu Indonesia Masters 2026, yang masuk dalam turnamen BWF super 500, telah berlangsung selama tiga hari, mulai dari Selasa hingga Kamis. Sepanjang masa uji coba, para pebulu tangkis yang berlaga memberikan impresi positif atas pemberlakuan aturan 25 detik.
Contohnya, ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Moh. Shohibul Fikri merasa bahwa aturan 25 detik tidak mengganggu tempo permainan mereka. Fikri mengatakan bahwa mereka belum merasakan dampaknya sama sekali dan bahkan tidak ada peringatan dari wasit.
Fajar menilai bahwa di sektor ganda memang memiliki tempo yang jauh lebih cepat. Oleh karena itu, penerapan aturan 25 detik yang menuntut para pemain untuk memainkan permainan lebih cepat sebenarnya tidak memengaruhi ritme permainan mereka.
Hal senada juga disampaikan oleh ganda putra Indonesia lainnya Sabar Karyaman Gutama/Moh. Reza Pahlevi Isfahani yang merasa permainannya tidak terganggu dengan aturan tersebut. Reza justru mengungkapkan bahwa aturan 25 detik dalam masa uji coba ini bisa diterapkan untuk ke depannya.
Harapan untuk Masa Depan
Melalui uji coba aturan 25 detik, semua pihak, terutama para penonton yang menyaksikan Daihatsu Indonesia Masters 2026, berharap dapat menyaksikan sajian permainan yang lebih intens dan minim akan penundaan permainan yang terkadang justru merusak momentum.
BWF juga akan terus menguji coba aturan 25 detik ini di beberapa turnamen selepas gelaran Daihatsu Indonesia Masters 2026.










