jabar.
KOTA BANDUNG – Konflik yang terus berlangsung di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) tampaknya mengancam kesejahteraan satwa yang ada di sana. Sebuah organisasi advokasi lingkungan, Geopix, melakukan kunjungan ke lokasi tersebut pada Rabu (14/1/2026) dan menemukan adanya beberapa satwa yang diduga mengalami stres. Kondisi ini disinyalir berkaitan dengan pengelolaan kebun binatang yang tidak layak.
“Temuan lapangan terkait dugaan kondisi stres Orangutan, Gajah dan Monyet Hitam sangat mengkhawatirkan, memprihatinkan dan tidak boleh diabaikan,” ujar Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (21/1/2026).
Annisa menekankan bahwa pembukaan Bandung Zoo untuk pengunjung harus dilakukan setelah melalui evaluasi oleh pihak pengelola dan pemerintah. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan kesejahteraan satwa harus menjadi prasyarat utama sebelum kebun binatang kembali dibuka untuk umum, meskipun tengah dalam konflik internal.
“Kami mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan untuk tidak tergesa membuka kembali kebun binatang tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan benar-benar layak,” tambahnya.
Namun, Annisa menyoroti bahwa kelayakan tersebut bukan hanya terpenuhinya kebutuhan pakan yang telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan. Aspek-aspek lain seperti kesejahteraan tenaga kerja dan kesejahteraan satwa juga harus diperhatikan.
“Kelayakan tersebut tidak sekadar terpenuhinya kebutuhan pakan, tetapi para pihak juga harus memastikan aspek-aspek pengelolaan lainnya telah siap secara utuh seperti kesejahteraan tenaga kerja serta yang lebih penting kesejahteraan satwa-satwanya,” ujarnya.
Sementara itu, Indira Nurul Qomariah, Senior Biologist dan Wildlife Curator dari Center for Orangutan Protection, menyampaikan hasil temuan terkait kondisi kesehatan beberapa satwa. Temuan ini menunjukkan adanya dugaan bawa satwa tersebut mengalami stres.
“Pada primata termasuk orangutan dan monyet hitam, kebotakan di lengan dan kaki bawah dapat disebabkan oleh penyakit kulit, malnutrisi, atau stres akibat kebosanan atau kebiasaan kompulsif seperti overgrooming,” jelasnya.
Dia menjelaskan, kebotakan juga dapat disebabkan oleh penyakit genetik seperti alopecia. Untuk memastikannya, perlu dilakukan pemeriksaan medis dan observasi perilaku lebih lanjut.
Salah satu satwa yang disoroti adalah gajah. Menurut Indira, salah satu gajah di sana menunjukkan gejala stres yang serius. Hal ini berdasarkan pengamatan terhadap perilaku satwa tersebut.
“Gajah menunjukkan perilaku stereotip berupa swaying (gerakan berulang tanpa tujuan), yang termasuk indikator stres. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung kesejahteraan satwa, antara lain kurangnya pengayaan (enrichment) atau kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan gajah lainnya,” paparnya.
Geopix menilai, pembukaan kebun binatang di tengah indikasi gangguan kesejahteraan satwa berpotensi memperburuk kondisi satwa. Ini juga mencerminkan kegagalan tata kelola konservasi ex-situ di Indonesia.
Otoritas publik memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk memastikan seluruh lembaga konservasi mematuhi standar kesejahteraan satwa, transparansi pengelolaan, serta pengawasan yang ketat.
Karena itu, Geopix mendesak agar pengelola dan pemerintah melakukan sejumlah langkah-langkah sebelum pembukaan kembali Bandung Zoo untuk publik:
- Evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan fasilitas kandang.
- Audit independen oleh otoritas dan tenaga ahli kompeten.
- Transparansi kepada publik terkait kondisi kesehatan dan perawatan satwa.
- Penundaan pembukaan hingga standar kesejahteraan satwa benar-benar terpenuhi.
Geopix menegaskan bahwa kondisi satwa, termasuk satwa liar yang dilindungi di Bandung Zoo, merupakan fenomena gunung es terkait kesejahteraan satwa di kebun binatang dan lembaga konservasi di seluruh Indonesia.
Dikonfirmasi terpisah, Humas Bandung Zoo Sulhan Syafi’i mengatakan pihaknya mengklaim telah melakukan perawatan satwa agar selalu dalam kondisi sehat, baik secara fisik maupun mental.
“Kami lakukan rapat, treatment yang terbaik untuk satwa-satwa yang kita miliki, salah satunya seperti memberikan mainan,” kata Sulhan.
Dia menyebut kecil kemungkinan para satwa merasakan suasana seperti di alam aslinya. Kendati begitu, ia berkomitmen memberikan perawatan yang terbaik terhadap satwa-satwa koleksi di Bandung Zoo.
Sulhan menuturkan, penanganan orangutan dan gajah yang diduga mengalami stres sudah dilakukan. Sebab, terdapat tim dokter yang selalu memantau kesehatan satwa.
“Kami lakukan kegiatan-kegiatan yang memberikan enrichment-enrichment untuk pola makan, mengajak mereka jalan, itu kita lakukan,” ujarnya.
Terkait pakan satwa, ia menyebut itu masih ditanggung sepenuhnya oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
Dia menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk menjaga kesejahteraan satwa di tengah konflik internal Bandung Zoo yang pelik.











