Penggunaan Parfum di Leher dan Dampaknya pada Hormon
Unggahan di media sosial yang menyebutkan bahwa penggunaan parfum langsung di kulit, terutama di area leher, dapat memicu stres hormonal menarik perhatian banyak orang. Unggahan tersebut dibagikan oleh akun X @Shin**** pada Selasa (20/1/2026), dengan mengatakan bahwa menyemprotkan parfum ke leher berarti menempatkan bahan kimia pewangi tepat di atas kelenjar tiroid, sehingga bisa mengganggu fungsinya.
Pengunggah juga menuliskan bahwa dalam parfum terdapat kandungan bahan kimia seperti ftalat, yang termasuk dalam kelompok endocrine disrupting chemicals (EDC). EDC dikenal sebagai pengganggu sistem hormon atau penghambat kerja hormon alami tubuh. Penelitian dari pusat medis seperti Endocrine Society menunjukkan bahwa bahan kimia ini dapat memengaruhi sinyal hormon, termasuk jalur yang terkait dengan fungsi tiroid.
Leher merupakan area yang memiliki banyak pembuluh darah dan kulit yang tipis, sehingga meningkatkan penyerapan zat yang dioleskan di sana. Meskipun penggunaan parfum sesekali kemungkinan tidak berbahaya, paparan berulang di area tiroid dapat meningkatkan stres hormonal secara bertahap.
Hingga Kamis (22/1/2026), unggahan tersebut telah ditonton sekitar 1,7 juta kali dan menuai lebih dari 75 komentar warganet. Lantas, benarkah penggunaan parfum di leher bisa menyebabkan stres hormonal?
Pandangan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, dr. Citra Primanita, Sp.DV, menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan penggunaan parfum di leher dapat secara langsung menyebabkan stres hormonal pada manusia.
“Sebagian besar penelitian terkait gangguan hormon masih berupa uji laboratorium atau penelitian pada hewan dengan paparan dosis yang sangat tinggi,” ujarnya saat dimintai pandangan.
Menurut Citra, risiko penggunaan parfum yang lebih sering dijumpai secara medis justru berupa iritasi kulit, reaksi alergi, atau reaksi fotoalergi, bukan gangguan hormon. Di sisi lain, ia membenarkan adanya beberapa kandungan parfum yang termasuk dalam kelompok EDC yang secara teoritis berpotensi memengaruhi hormon. Meski begitu, ia menegaskan bahwa hal tersebut belum terbukti secara klinis pada manusia.
“Jadi, belum terdapat uji klinis besar yang menyimpulkan bahwa pemakaian parfum sehari-hari menyebabkan gangguan hormon signifikan pada manusia,” jelas Citra.
Peran Zat Endocrine Disrupting Chemicals (EDC)
Dalam kajian ilmiah, zat EDC memang dikenal memiliki potensi mengganggu sistem endokrin. Beberapa di antaranya, seperti ftalat atau synthetic musks, dapat ditemukan dalam produk pewangi. Namun penting untuk dipahami bahwa sebagian besar penelitian terkait EDC dilakukan melalui uji in vitro maupun pada hewan percobaan, dengan dosis paparan yang jauh lebih tinggi dibandingkan paparan dari penggunaan parfum secara wajar dalam kehidupan sehari-hari.
Pada manusia, tambah Citra, bukti klinis yang tersedia hingga kini masih terbatas dan belum menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara pemakaian parfum, termasuk di area leher, dengan stres hormonal atau gangguan endokrin pada individu sehat.
Penggunaan Parfum di Kulit Aman, Asal Tidak Berlebihan
Lebih jauh, Citra menyampaikan bahwa kulit manusia memiliki lapisan pelindung (skin barrier) yang berfungsi membatasi masuknya zat asing ke dalam tubuh. Artinya, tidak semua kandungan parfum dapat terserap ke dalam aliran darah dalam jumlah yang bermakna secara biologis.
Dari sudut pandang dermatologis, efek samping yang lebih relevan akibat penggunaan parfum justru berupa dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi, serta reaksi fotoalergi, terutama jika parfum diaplikasikan langsung ke kulit lalu terpapar sinar Matahari.
“Dengan demikian, klaim di media sosial yang menyebutkan parfum sebagai penyebab stres hormonal sebaiknya disikapi secara proporsional dan tidak disimpulkan secara langsung tanpa dukungan data klinis yang memadai,” kata Citra.
Secara umum, kata dia, penggunaan parfum di area leher maupun pergelangan tangan tidak dilarang dan tergolong aman bagi individu sehat, selama digunakan secara bijak dan tidak berlebihan. Adapun sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan menggunakan parfum secukupnya. Selain itu, hindari pemakaian berlebihan pada kulit sensitif, serta menghentikan penggunaan jika muncul iritasi atau keluhan pada kulit.
“Dengan penggunaan yang bijak dan tidak berlebihan, parfum tetap aman digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











