Pose headstand sering menjadi salah satu pose yang menarik perhatian para praktisi yoga. Banyak orang terkesan dengan bentuknya yang unik dan memperlihatkan kekuatan serta keseimbangan tubuh. Namun, di balik penampilannya yang menakjubkan, pose ini memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh.
Apa Itu Headstand?
Headstand adalah pose yoga yang melibatkan posisi tubuh dengan kepala menyentuh lantai dan kedua kaki berada di udara. Dalam bahasa Sansekerta, pose ini disebut sirsasana. Meski tampak menarik, banyak pemula yang mencoba melakukan headstand tanpa memahami teknik yang benar. Hal ini bisa berisiko bagi kesehatan, terutama pada area leher.
Bukan untuk Pemula
Dalam praktik yoga, headstand bukanlah pose yang dianjurkan untuk pemula. Menurut aturan dari BKS Iyengar, pendiri Iyengar Yoga, seorang praktisi harus sudah berlatih selama minimal enam bulan sebelum diajarkan pose ini. Ini karena teknik headstand cukup rumit dan membutuhkan kekuatan serta keseimbangan yang baik.
Sayangnya, tren headstand saat ini mulai marak di kalangan pemula. Hal ini bisa disebabkan oleh kelas yoga yang diadakan oleh guru-guru yang kurang kompeten. Mereka terkadang mengajarkan pose seperti headstand hanya demi konten media sosial, padahal teknik tersebut memerlukan pengawasan dan pengetahuan yang cukup.
Risiko yang Terkait
Salah satu risiko utama dari headstand adalah saraf leher yang terjepit. Jika dilakukan dengan teknik yang salah, pelaku yoga bisa mengalami kesemutan atau kebas di leher hingga ke lengan. Dokter Edbert dalam akun Instagramnya @dr.edbert menyoroti pentingnya teknik yang tepat dan pengawasan dari guru yang profesional.
Secara anatomi, leher merupakan area yang rentan karena dilintasi jaringan saraf dari otak menuju bagian tubuh lainnya. Jadi, gangguan di area ini bisa berdampak pada seluruh anggota tubuh.
Teknik yang Benar
Meskipun namanya headstand, sebenarnya tumpuan utamanya bukanlah ubun-ubun. Dalam bukunya Science of Yoga, Ann Swanson menjelaskan bahwa tumpuan utama sebaiknya berada pada siku dan tangan. Bayangkan berat badan dibagi menjadi tiga titik: dua siku dan satu tangan, dengan sedikit beban tambahan di ubun-ubun.
Dengan teknik ini, beban pada leher lebih ringan dan risiko kerusakan saraf bisa diminimalkan. Namun, tetap saja, risiko tidak sepenuhnya hilang.
Siapa yang Tidak Disarankan Melakukan Headstand?
Beberapa kondisi kesehatan membuat seseorang tidak disarankan melakukan headstand. Contohnya adalah:
- Sedang menstruasi – Karena bisa memengaruhi aliran darah dan tekanan pada organ dalam.
- Migrain – Pose ini bisa memperparah rasa sakit.
- Tekanan darah tinggi/rendah – Bisa memengaruhi keseimbangan aliran darah.
- Hamil – Untuk mencegah risiko cedera.
- Cedera punggung/tulang belakang – Bisa memperburuk kondisi.
- Sakit jantung, diabetes, minus tinggi, glaukoma – Semua kondisi ini memerlukan perhatian khusus.
Tips Tambahan
Jika ingin aman, gunakan alat bantu seperti inversion chair dan latih otot leher dengan resistance band. Hal ini bisa membantu memperkuat struktur leher sebelum mencoba pose headstand.
Dengan memahami teknik yang benar dan memperhatikan kondisi kesehatan, Anda bisa menikmati manfaat dari pose headstand tanpa risiko yang berlebihan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











