Kehidupan dan Perjuangan Lucky Widja
Lucky Widja, vokalis band Element, meninggal dunia di Rumah Sakit Halim, Jakarta, pada Minggu (25/1/2026). Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit langka yang menyerang tubuhnya. Penyakit tersebut akhirnya menggerogoti kehidupannya sejak 2022 hingga akhirnya ia berpulang.
Kondisi kesehatan Lucky sempat menunjukkan tanda-tanda aneh. Ia sering pingsan setelah makan dan bahkan harus merangkak untuk berjalan. Kecurigaan awalnya muncul dari perasaan tidak nyaman yang ia alami. Akhirnya, setelah menjalani pemeriksaan medis, diketahui bahwa Lucky mengidap tuberkulosis ginjal. Penyakit ini telah menyebar ke seluruh saluran kemih bagian bawah tubuhnya, termasuk ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.
Pada tahun 2023, Lucky mengungkapkan kisah sakitnya dalam sebuah podcast bersama sahabatnya, Ferdy Tahier. Ia menjelaskan bahwa penyakitnya mulai muncul pada 2022 dengan gejala parah. “Jadi gue selama tahun 2022 kemarin sakit parah. Sakit parah,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan darah menunjukkan fungsi ginjalnya sudah mencapai stadium lima. “Gue iseng cek darah, coba cek fungsi ginjal ternyata ginjal gue udah stadium lima tuh kacaunya. Jadi tinggal 19 persen apa 20 persen,” kata Lucky.
Pengalaman Mengerikan Saat Menjalani Penyakit
Seiring berjalannya waktu, kondisi Lucky semakin memburuk. Ia mengalami kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, terutama setelah makan. “Tahunya bulan puasa hari ke berapa tuh. Setiap habis buka puasa, tidur, terus malem baru pindah ke tempat tidur gitu. Kadang-kadang sampai merangkak,” tuturnya.
Saat itu, Lucky sangat bingung dengan perubahan drastis pada tubuhnya. Ia tidak menyangka bahwa rasa lelah dan gejala yang muncul menjadi tanda penyakit serius. “Makanya itu gue bingung, kenapa ya. Besok paginya nganter anak sekolah bisa, seger lagi gue, puasa lagi ya kan. Buka puasa, duduk bentar nonton TV, blackout, pingsan,” imbuhnya.
Selain itu, saat menghadiri buka bersama, Lucky bahkan takut makan karena khawatir pingsan. Ia sampai meminta temannya untuk mengantarkannya pulang jika tiba-tiba tidak sadarkan diri. “Gue sampai bilang ke temen gue, ntar anterin gue pulang ya kalo tiba-tiba gue sakit,” pintanya.
Diagnosis Awal dan Kesalahpahaman
Awalnya, dokter menduga Lucky mengidap diabetes. Namun, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata penyakit yang diderita adalah tuberkulosis ginjal. “Dokter bilang, ini pasti gula Pak. Ya udah coba cek aja ternyata ginjal gue udah stadium lima. Gue panik, ke dokter rontgen langsung CT scan.”
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa air tidak bisa lewat dari ginjalnya. “Waduh kayak begini nih parah. Jadi airnya udah enggak bisa lewat, pokonya ginjalnya yang satu udah kecil, satu udah bengkak. Air enggak bisa lewat, enggak bisa keluar segala macam,” katanya.
Kronologi Kematian Lucky Widja
Kabar kematian Lucky pertama kali diungkapkan oleh Ferdy Tahier. Ia mengaku kaget mendengar kabar kepergian sahabatnya untuk selamanya. “Ya kita juga kaget sebenarnya, baru dikabarin jam 11 malam barusan. Dia meninggal jam 10.20,” tutur Ferdy.
Ferdy menjelaskan bahwa Lucky seharusnya menjalani cuci darah pada Jumat (24/1/2026), namun jadwalnya diundur ke Sabtu karena kondisinya tidak memungkinkan. “Jadi Lucky itu harusnya dia dicuci darah hari Jumat, dia ngedrop akhirnya mundur ke Sabtu. Sabtu penuh.”
Akhirnya, Lucky menjalani cuci darah pada hari Minggu sejak pukul dua siang. “Akhirnya dia masih bisa sampai hari Minggu. Tadi masuk IGD, dia dipompa dari jam dua sih. Tapi ya ininya, dari ginjalnya udah naik ke jantung,” kata Ferdy.
Ferdy juga menyebut bahwa ia sudah mengetahui penyakit Lucky sejak lama. “Sudah dua tahun ini ginjalnya memang bermasalah.” Namun, beberapa waktu terakhir, Lucky sering mengalami sesak napas. “Tapi tiba-tiba dia sekarang jadi sesak napas. Pas kemarin kita terakhir tuh pas tahun baru. Nah, dia itu nyesek gitu.”
Rencana Pemakaman
Lucky Widja meninggal dunia di Rumah Sakit Halim, Jakarta, pada Minggu (25/1/2026) malam di usia 49 tahun. Rencananya, jenazah Lucky akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Senin (26/1/2026) siang ini.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











