Di tengah kota yang semakin berkembang, terdapat sebuah gunungan sampah setinggi enam meter, sejajar dengan bangunan dua lantai. Luasnya mencapai 2,7 hektar, dan dari kejauhan, hanya terlihat tumpukan sisa konsumsi manusia yang mengeras, membukit, serta menebar aroma busuk yang sangat menyengat.
Dua puluh tahun silam, saat saya melakukan riset kecil di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS), lahan ini masih terlihat kosong dengan cekungan-cekungan yang belum terisi. Kini, realitasnya jauh lebih menyesakkan. Apa yang saya lihat beberapa hari lalu adalah tumpukan residu dari dua dekade lalu yang gagal terurai, membentuk formasi bukit rapuh yang menyimpan bahaya laten bagi penduduk sekitar.
Pemandangan ini menjadi monumen kegagalan kolektif kita di hulu. Di saat fasilitas pengolahan sampah modern belum mencapai titik optimal dan sistem open dumping (penumpukan terbuka) masih menjadi andalan pemerintah daerah, sebuah bom waktu lingkungan sedang menghitung mundur di pinggiran kota kita.
Kita sering kali merasa masalah sampah selesai saat truk berwarna kuning itu mengangkut plastik hitam dari depan rumah kita. Padahal, petualangan sampah yang sesungguhnya, yang jauh lebih berbahaya, baru saja dimulai di TPAS.
Dari Metana hingga Air Lindi
Berdasarkan catatan Kompas sepanjang tahun 2023, sedikitnya 14 TPAS di Indonesia mengalami kebakaran hebat. Ini bukan sekadar kecelakaan akibat cuaca panas, melainkan konsekuensi logis dari kimiawi tumpukan sampah. Sampah organik yang tertimbun dan terperangkap di bawah lapisan plastik akan mengalami degradasi anaerobik yang menghasilkan gas metana.
Metana adalah gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam memerangkap panas di atmosfer bumi dan inilah yang menjadi salah satu biang utama suhu bumi yang semakin memanas. Sifat metana yang sangat mudah terbakar menjadikan gundukan sampah layaknya tabung gas raksasa yang siap meledak hanya karena percikan kecil atau panas ekstrem.
Kita tentu belum lupa tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Ledakan gas metana yang terperangkap memicu longsoran ribuan ton sampah yang menyapu dua kampung dan menelan lebih dari 150 nyawa. Tragedi itu adalah bukti nyata bahwa sampah yang tidak terkelola bisa berubah menjadi mesin pembunuh massal.
Tak hanya di udara, ancaman merayap di bawah tanah melalui air lindi (leachate). Cairan hitam pekat hasil pembusukan sampah yang bercampur air hujan ini mengandung konsentrasi organik tinggi (BOD/COD) serta logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg).
Penelitian Institut Teknologi Sumatera di TPA Natar, Lampung Selatan, mengonfirmasi kekhawatiran kita, persebaran air lindi telah meresap dan bergerak mendekati sumur-sumur warga. Air lindi yang terkonsumsi manusia dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit kronis, mulai dari gangguan ginjal hingga kerusakan saraf permanen. Inilah racun sunyi yang diam-diam mencemari cadangan air masa depan kita.
Namun, janganlah kita merasa aman hanya karena letak geografis rumah kita jauh dari lokasi TPAS. Jika air lindi adalah ancaman bagi warga sekitar, maka gas metana adalah ancaman bagi kita semua tanpa mengenal batas wilayah. Gas yang dilepaskan dari tumpukan sampah di pinggiran kota akan membumbung ke atmosfer, mempertebal lapisan gas rumah kaca, dan mempercepat krisis iklim yang dampaknya kita rasakan dalam bentuk cuaca ekstrem, gagal panen, hingga gelombang panas di tengah kota.
Ayah Jaga Bumi
Dalam struktur sosial kita, urusan sisa konsumsi dan dapur sering kali dipandang sebagai urusan domestik yang “feminin”. Ayah hanya sebagai eksekutor terakhir, pembuang sampah. Namun, melihat skala ancaman yang ditimbulkan, saya meyakini sudah saatnya kita menarik isu pengelolaan sampah ke dalam ranah kepemimpinan ayah di keluarga.
Mengapa harus Ayah? Ayah, sebagai kepala keluarga, memiliki mandat moral untuk menjadi penjaga lingkungan hidup di unit terkecil masyarakat. Kepemimpinan seorang ayah bukan hanya soal mencari nafkah atau memberikan perlindungan fisik, melainkan juga memastikan keberlanjutan ekologis bagi anak-anaknya.
Keputusan ayah dalam menentukan gaya hidup dan pola konsumsi keluarga adalah filter pertama bagi sampah yang akan berakhir di bumi. Ayah harus mengambil peran sebagai Chief Sustainability Officer (CSO) di rumah. Mengedukasi anggota keluarga untuk mengambil makanan secukupnya (zero food waste). Setiap butir nasi yang terbuang adalah kontributor bagi gas metana di TPA.
Merancang sistem pemilahan sampah yang praktis di rumah, memastikan organik tidak bertemu anorganik. Menjadi teladan dengan selalu membawa kantong belanja ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.
Jika setiap rumah tangga di Indonesia memiliki seorang ayah yang sadar lingkungan, beban TPAS yang sudah over-capacity itu akan berkurang secara signifikan di tingkat hulu. Ini adalah solusi paling murah, paling mandiri, dan tanpa perlu drama politik yang panjang.
Pengalaman saya pribadi membuktikan bahwa ketika sampah organik dikelola sendiri, dikembalikan ke tanah menjadi pupuk, volume sampah berkurang hingga 70 persen. Plastik yang terpilah pun memiliki nilai ekonomi jika disalurkan ke bank sampah, alih-alih berakhir menjadi pencemar permanen.
Gunungan sampah setinggi enam meter yang saya lihat Jumat lalu adalah peringatan keras dari bumi. Ia bukan sekadar tumpukan benda mati, melainkan “bom waktu” yang bisa meledak, terbakar, atau meracuni air tanah kita kapan saja. Lebih dari itu, tumpukan tersebut terus melepaskan gas yang membuat bumi kian panas dari hari ke hari.
Sebelum berbagai kemungkinan buruk terjadi, mari kita ambil langkah nyata. Menjadi pahlawan bagi bumi tidak membutuhkan jubah super, cukup dengan kepedulian seorang ayah untuk mulai memilah sampah hari ini. Mari kita buktikan bahwa di balik tangan kuat seorang ayah, tersimpan kelembutan untuk menjaga kelestarian alam.
Mari bersatu dalam gerakan mandiri menjaga bumi dari rumah sendiri melalui aksi “Ayah Jaga Bumi”, demi menjamin kenyamanan hidup anak-cucu kita di masa depan. Saya telah memulainya dan hingga kini terus konsisten melakukannya. Bagaimana dengan Anda?











