JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menetapkan penghentian insentif impor utuh (completely built up/CBU) untuk mobil listrik murni mulai akhir 2025. Keputusan ini diatur dalam Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 juncto Nomor 1/2024, yang menyatakan bahwa program insentif dan batas waktu importasi akan berakhir pada 31 Desember 2025. Mulai 1 Januari 2026, pabrikan wajib memenuhi komitmen produksi lokal dengan rasio 1:1 sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Di tengah kebijakan tersebut, pelaku industri otomotif masih berharap adanya stimulus lanjutan pada 2026, mengingat penjualan mobil hingga penghujung 2025 dinilai sedang dalam tekanan.
Proyeksi Pasar Mobil Listrik
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, memproyeksikan pangsa pasar mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) dapat mencapai 13% pada 2025, bahkan melampaui mobil hybrid (HEV). Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak lepas dari dukungan insentif pemerintah.
Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales BEV mencapai 103.931 unit pada tahun lalu atau melonjak 140,64% secara tahunan. Sementara itu, penjualan mobil hybrid tercatat 65.943 unit. Kinerja impresif ini terjadi di tengah beragam stimulus 2025 seperti PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), PPnBM DTP, hingga pembebasan bea masuk impor utuh (CBU).
“Dengan kata lain bahwa insentif yang diberikan pada 2025 itu berdampak secara langsung terhadap pertumbuhan pasar EV itu sendiri. Nah, sehingga banyak pabrikan yang impor kendaraan ke Indonesia,” ujar Frans.
Industri Desak Stimulus Lanjutan
Di tengah ketidakpastian kebijakan, pelaku industri menilai insentif masih krusial. Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyebut daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
“Memang dalam kondisi yang sekarang ini, pembelian belum begitu bagus. Kalau dikasih insentif, paling tidak seperti waktu Covid-19, jadi harga mobil lebih affordable sehingga bisa mendorong volume kendaraan,” ujarnya di ICE BSD, Tangerang.
Gaikindo menargetkan penjualan domestik bisa mendekati 800.000 unit hingga akhir 2025 dari posisi sekitar 600.000 unit dalam 10 bulan pertama.
“Kalau volume penjualan makin besar, nanti yang lain ikut bergerak. Kita harus menjaga kesempatan kerja, menjaga ekspor kita, dan menjaga ekosistem otomotif ini bisa dipertahankan,” imbuh Putu.
Senada, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bob Azam, menekankan pentingnya menjaga posisi Indonesia sebagai pasar terbesar di Asean.
“Kami harapkan bisa 800.000 total marketnya, supaya kita masih bisa di atas Malaysia. Karena reputasi itu penting,” ujarnya.
Strategi Pabrikan Hadapi 2026
Sejumlah produsen telah menyiapkan langkah antisipatif dengan memperkuat produksi lokal. VinFast memastikan pembangunan pabrik di Subang sebagai bentuk pemenuhan komitmen insentif.
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto mengatakan bahwa keputusan membangun pabrik didasarkan pada peraturan pemerintah agar mendapatkan insentif. Ia pun berharap kebijakan fiskal seperti PPnBM DTP tetap dipertahankan.
“Insentif yang menyangkut PPn atau PPnBM DTP-nya itu mungkin akan memiliki impact lebih besar,” ujarnya.
Adapun BYD Indonesia yang tengah membangun pabrik di Subang senilai Rp11,2 triliun juga berharap insentif diperpanjang.
Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, mengakui pihaknya kurang percaya diri untuk mempertahankan penjualan tanpa adanya konsistensi atau perpanjangan dari kebijakan yang sama.
“Kinerja penjualan BYD tumbuh signifikan berkat insentif CBU dari pemerintah,” ujar Luther beberapa waktu lalu.
Tren Postitif Terhenti?
Gaikindo mengungkapkan penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) mengalami pertumbuhan eksponensial dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, periode 2021-2025.
Berdasarkan data Gaikindo yang dihimpun Bisnis, penjualan kendaraan listrik pada 2021 tercatat sebanyak 687 unit. Pada periode tersebut, pasar otomotif domestik masih tertekan dampak pandemi Covid-19 yang memengaruhi kinerja industri secara menyeluruh.
Memasuki 2022, penjualan mobil listrik melonjak tajam hingga mencapai 10.327 unit. Kenaikan ini terjadi seiring mulai bergulirnya wacana insentif pemerintah untuk kendaraan listrik berbasis baterai, yang mendorong minat konsumen terhadap model rakitan lokal.
Pada tahun tersebut, sejumlah produk seperti Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air EV mencatatkan penjualan relatif tinggi dan menjadi kontributor utama pertumbuhan pasar mobil listrik nasional.
Insentif mobil listrik kemudian resmi diberlakukan pada 1 April 2023 melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38 Tahun 2023, yang menjadi landasan fiskal bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.
Melalui kebijakan tersebut, mobil listrik dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 40% berhak memperoleh insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%. Dengan skema itu, konsumen hanya dikenakan PPN sebesar 1%, mengingat tarif PPN saat itu masih berada di level 11%.
Implementasi insentif tersebut berdampak langsung terhadap kinerja penjualan. Sepanjang 2023, penjualan mobil BEV tercatat meningkat menjadi 17.051 unit.
Tren pertumbuhan kemudian berlanjut pada 2024 dengan kenaikan signifikan, penjualan BEV nasional mencapai 43.188 unit, mencerminkan semakin kuatnya penetrasi kendaraan listrik di pasar otomotif Indonesia.
Kemudian, sepanjang 2025 total penjualan wholesales mobil listrik murni mencapai 103.931 unit. Angka itu melonjak 140,64% (year-on-year/YoY) dari capaian sepanjang 2024.
Lonjakan penjualan kendaraan listrik didorong oleh semakin banyaknya merek dan model baru yang meluncur di pasar domestik, sehingga memperketat persaingan di segmen EV. Selain BYD, Wuling, dan Chery, sejumlah pendatang baru turut meramaikan pasar, yakni Vinfast asal Vietnam, Polytron milik Grup Djarum, serta Jaecoo yang dinaungi Grup Chery.
Di sisi kebijakan, pemerintah menegaskan bahwa skema impor utuh (completely built-up/CBU) untuk kendaraan listrik murni hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen diwajibkan memenuhi komitmen produksi lokal dengan rasio 1:1 sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Jika pabrikan tak memenuhi komitmen tersebut, maka berpotensi dikenai sanksi berupa pencairan bank garansi. Sejauh ini, ada beberapa pabrikan mobil listrik yang telah menerima insentif impor, di antaranya yakni BYD, Geely, VinFast hingga PT National Assembler yang menaungi Citroen, Aion, Maxus dan VW.
Data Penjualan Mobil Listrik di Indonesia 5 Tahun Terakhir:
- 2021: 687 unit (0,07% dari total wholesales 887.202 unit)
- 2022: 10.327 unit (0,98% dari total wholesales 1.048.040 unit
- 2023: 17.051 unit (1,69% dari total wholesales 1.005.802 unit)
- 2024: 43.188 unit (4,98% dari total wholesales 865.723 unit)
- 2025: 103.931 unit (12,93% dari total wholesales 803.687 unit)
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











