"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Penjelasan Prof. Dr. Malik Saepudin: Vape Lebih Berbahaya Daripada Rokok?

Perbedaan Vape dan Rokok: Apa yang Lebih Berbahaya?

Prof. Dr. Malik Saepudin, SKM, M.Kes, seorang ahli epidemiologi dan pemerhati masalah kesehatan masyarakat menjelaskan bahwa perbedaan antara vape dan rokok dapat dilihat dari kandungan asap dan bahan kimia yang terdapat di dalamnya. Pertanyaannya adalah, mana yang lebih berbahaya?

Meskipun vape dipasarkan dengan klaim risiko lebih rendah, bukan berarti vape atau rokok elektrik benar-benar aman untuk dikonsumsi. Penting bagi masyarakat untuk memahami bahaya yang terkandung di dalamnya sebelum terjerumus semakin dalam.

Menurut Consumer Advocates for Smoke Free Alternative, rokok elektrik sudah ada sejak tahun 1930. Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan rokok elektrik atau vape semakin menarik perhatian masyarakat. Di Indonesia, vape juga mengundang banyak perdebatan, baik pro maupun kontra. BPOM bahkan mengusulkan larangan penggunaan vape, sementara Kementerian Kesehatan juga telah menentukan sikap untuk melarang konsumsi vape.

Secara umum, perbedaan utama antara vape dan rokok konvensional adalah adanya tembakau. Rokok konvensional mengandung tembakau, sedangkan vape tidak. Namun, hal ini bukan menjadi tolok ukur bahwa rokok konvensional lebih berbahaya dan vape lebih aman. Perlu diingat bahwa tembakau bukan satu-satunya penyebab kanker dan penyakit serius lainnya. Banyak bahan kimia di dalam vape maupun rokok yang berdampak negatif terhadap kesehatan.

Kandungan Rokok dan Vape

Rokok dan vape sering kali dibandingkan untuk mengetahui mana yang lebih aman atau lebih berbahaya. Sebelum mengetahui aman atau tidaknya, Anda perlu tahu dulu kandungan keduanya.

Rokok dan asapnya mengandung berbagai bahan kimia berbahaya, seperti:
* Asetaldehida
* Aseton
* Arsenik
* Acrolein
* Amonia
* Benzene
* Kadmium
* Kromium
* Formaldehyde
* Nitrosamines
* Toluene
* Nikotin
* Tar
* Karbon monoksida

Uap yang keluar dari vape bukanlah uap air biasa. Uap dari vape mengandung berbagai zat, seperti:
* Nikotin
* Volatile organic compounds (VOC)
* Bahan kimia perasa
* Formaldehyde

Namun, sulit untuk mengetahui secara pasti apa saja bahan kimia yang ada di dalam rokok elektrik. Pasalnya, sebagian besar produk kerap tidak mencantumkan semua zat yang ada di dalamnya.

Lebih Berbahaya Vape atau Rokok?

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, kanker paru, emfisema, penyakit jantung, dan penyakit serius lainnya umumnya berkembang setelah seseorang mengonsumsi rokok selama bertahun-tahun. Sementara itu, berdasarkan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention, menemukan bukti bahwa vape dapat menyebabkan kejang dan kerusakan paru serius hanya setelah satu tahun mengonsumsinya atau bahkan kurang dari setahun.

Hingga saat ini tidak ada fakta yang membuktikan bahwa bahaya atau dampak vape lebih rendah dibandingkan dengan rokok. Penelitian terhadap rokok elektrik menunjukkan hasil sebagai berikut:
1. Vape atau rokok elektrik diklaim mengandung zat berbahaya seperti Tobacco Specific Nitrosamines (TSNA), Diethylene Glycol (DEG) dan karbon monoksida.
2. Penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar plasma nikotin secara signifikan setelah lima menit penggunaannya. Peningkatan nikotin ini menimbulkan efek kesenangan sementara di otak, yang membuat seseorang menjadi ketagihan atau ketergantungan.
3. Rokok elektrik ini juga meningkatkan kadar plasma karbon monoksida dan frekuensi nadi secara signifikan yang dapat mengganggu kesehatan.
4. Memiliki efek akut pada paru seperti pada rokok konvensional, yaitu kadar nitrit oksida udara eskalasi menurun secara signifikandan tahanan jalan napas meningkat signifikan.

Bahkan, salah satu bahaya vape atau rokok elektrik juga termasuk mendorong budaya merokok pada anak dan remaja. WHO telah memberi peringatan kepada seluruh negara di dunia untuk melarang anak, remaja, ibu hamil, dan wanita usia produktif mengisap rokok elektrik.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) 2018, prevalensi merokok pada remaja usia 10 sampai 18 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,9 persen dari 2013 (7,20 persen) ke 2018 (9,10 persen).

Rokok elektrik atau rokok tembakau (konvensional) sama-sama berdampak buruk untuk kesehatan tubuh kita. Lebih baik jaga kesehatan dan perkuat imunitas tubuh kita dengan menjauhinya.

Penyalah Gunaan Narkoba dengan Vape Lebih Masif

Belum ada bukti statistik konklusif yang menyatakan bahwa penyalahgunaan narkoba secara umum lebih masif menggunakan vape dibandingkan rokok biasa. Namun, studi menunjukkan adanya risiko tinggi penggunaan vape sebagai gateway (pintu masuk) terhadap penyalahgunaan narkoba dan tembakau konvensional lainnya, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Berikut adalah poin-poin penting terkait perbandingan tersebut:

  • Vape sebagai “Gateway Drug”: Penelitian menunjukkan bahwa individu yang menggunakan vape, terutama pada usia muda, secara signifikan lebih mungkin untuk mulai merokok, menggunakan ganja, atau menggunakan obat-obatan terlarang lainnya. Nikotin dalam vape diduga dapat “mempersiapkan” sistem saraf otak untuk ketergantungan pada zat adiktif lain, mirip dengan efek rokok biasa.

  • Kemudahan Penggunaan Narkoba: Cairan vape ilegal dapat dicampur dengan zat berbahaya, termasuk narkotika. Pihak berwenang seperti BNN (Badan Narkotika Nasional) Indonesia telah menemukan sampel cairan vape yang positif mengandung narkoba. Beberapa pengguna bahkan melaporkan penggunaan vape untuk mengonsumsi kokain atau metamfetamin, meskipun data prevalensinya masih terbatas. Kemudahan dan diskresi penggunaan vape dapat memfasilitasi penyalahgunaan zat terlarang.

  • Prevalensi Penggunaan: Penggunaan rokok tembakau secara historis jauh lebih luas, dan data ketergantungan nikotinnya terdokumentasi dengan baik. Namun, penggunaan vape meningkat pesat, terutama di kalangan remaja. Proporsi orang yang saat ini menggunakan rokok elektrik hampir tiga kali lipat antara 2019 dan 2023 di beberapa wilayah.

  • Kandungan Nikotin dan Adiksi: Nikotin dalam vape dan rokok biasa sama-sama sangat adiktif; beberapa penelitian bahkan menunjukkan potensi adiksi vape mungkin lebih tinggi di kalangan dewasa muda karena konsentrasi nikotin yang dapat diatur.

Secara keseluruhan, sementara rokok biasa masih menjadi bentuk konsumsi tembakau yang dominan secara global, sifat vape yang baru, popularitasnya di kalangan anak muda, dan kemudahan potensial untuk dicampur dengan zat lain menimbulkan kekhawatiran baru tentang perannya dalam penyalahgunaan narkoba.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai bahaya vaping, Anda dapat melihat sumber daya kesehatan seperti Johns Hopkins Medicine atau National Institute on Drug Abuse (NIDA).

Meskipun vape kurang berbahaya dibandingkan rokok konvensional, bukan berarti vape “aman” atau “sehat”. Vape tetap mengandung nikotin yang membuat ketagihan, logam berat, dan bahan kimia yang merusak kesehatan paru-paru dan jantung. Perokok yang beralih total ke vape memang mengurangi risiko, namun yang terbaik adalah berhenti merokok dan vaping sepenuhnya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *