"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Komentar Pengelola Yayasan Nekmese Mafiti Matulun soal Dugaan Keracunan MBG di TTU

Tanggapan Yayasan Nekmese Mafiti Matulun terhadap Insiden Siswa SMA Negeri 1 Insana

Perwakilan Yayasan Nekmese Mafiti Matulun, Novelino Christianzen Naisoko memberikan tanggapan terkait insiden siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana yang mengalami gejala sakit perut, mual dan muntah setelah mengonsumsi makanan dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Susulaku. Ia menyatakan bahwa saat ini belum tepat untuk menyebut kejadian tersebut sebagai keracunan.

Menurutnya, untuk memastikan apakah siswa-siswi terkena keracunan, diperlukan hasil uji laboratorium. Saat ini, Satgas MBG Kabupaten TTU melalui Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan dari SPPG Susulaku pada tanggal 4 Maret 2026 untuk diuji di laboratorium.

“Bagi kami, kita menunggu saja dulu hasil dari pemerintah laboratorium ini,” ujar Novelino saat dikonfirmasi.

Proses Pengelolaan Makanan oleh Dapur SPPG Susulaku

Novelino menjelaskan bahwa setiap Dapur SPPG memiliki tim pengelola makanan bergizi gratis. Tim ini merupakan bagian dari Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mengatakan bahwa yayasan percaya sepenuhnya terhadap pengelolaan makanan oleh tim Dapur SPPG Susulaku.

Dari informasi yang mereka terima, terdapat sejumlah anak yang mengalami gejala sakit perut. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua siswa terkena dampak yang sama.

“Yang mana ada Kepala SPPG, tenaga ahli akuntan dan tenaga ahli gizi ada perwakilan dari yayasan yakni PIC dan asisten lapangan yang ada di setiap SPPG,” jelasnya.

Korelasi antara Gejala dan Makanan

Novelino juga mengklaim bahwa korelasi antara kejadian sakit perut dan makanan yang dikonsumsi siswa pada hari sebelumnya cukup jauh dalam rentang waktu. Oleh karena itu, ia meragukan kesimpulan bahwa insiden tersebut disebabkan oleh MBG.

Di sisi lain, sebanyak 2566 penerima manfaat menjadi target Program MBG yang dikelola SPPG Susulaku. Sasaran program ini tidak hanya menyasar siswa-siswi, tetapi juga kelompok rentan seperti bayi, balita, dan ibu hamil.

Jika terjadi dugaan keracunan, maka kelompok rentan ini juga seharusnya mengalami hal serupa. Oleh karena itu, ia berharap media dapat lebih hati-hati dalam menyampaikan informasi.

“Jadi alangkah baiknya para media, sebelum terkait dengan isu yang diangkat kemarin, alangkah baiknya mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada tim pengelola yang ada di SPPG Susulaku karena bagi kami, 7 orang tidak bisa mewakili kesimpulan yang dimuat oleh berita sebelumnya,” pungkasnya.

Penjelasan Kepala SPPG Susulaku

Sebelumnya, Kepala SPPG Susulaku, Petrus Renoldy Kii membantah informasi ihwal ratusan siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Insana diduga mengalami keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan Dapur SPPG Susulaku.

Menurutnya, jumlah ratusan siswa tersebut belum dapat diverifikasi kebenarannya. Pasalnya, indikator keracunan belum bisa dipastikan melalui pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan atau pihak yang berkompeten seperti tenaga kesehatan.

Peristiwa di SMA Negeri 1 Insana

Petrus menjelaskan bahwa pada Rabu, 4 Maret 2026 sekira pukul 08.30 WITA, SPPG Susulaku didatangi 2 orang guru dari SMA Negeri 1 Insana yang menyampaikan keluhan bahwa ada beberapa siswa yang mengeluhkan sakit perut karena mengonsumsi MBG pada hari Selasa, 3 Maret 2026.

“Informasi dari guru itu hanya sebatas keluhan tidak langsung menyatakan bahwa, ini kesalahan dari MBG,” ujarnya, Kamis, 5 Maret 2026.

Setelah menerima informasi tersebut, Petrus tidak memiliki ekspektasi lebih bakal akan ada siswa-siswi yang dilarikan ke Puskesmas Oelolok. Ia sempat mengikuti rapat di Kota Kefamenanu. Ketika sedang mengikuti rapat itu, ia menerima informasi bahwa sebanyak 7 orang anak dilarikan ke Puskesmas Oelolok.

Setelah menerima informasi ini, Petrus bergegas kembali ke SMA Negeri 1 Insana. Ketika tiba di sekolah itu, diterima informasi dari pihak sekolah sebagaimana yang disampaikan para guru sebelumnya dimana beberapa orang siswa mengalami sakit perut, mulas dan diare.

“Informasinya ada 7 siswa yang dibawa ke puskesmas untuk diidentifikasi. Jadi, dari 7 siswa itu, 4 orang rawat jalan dan 3 orang sempat diberikan infus,” ungkapnya.

Petrus Renoldy bergerak menuju ke Puskesmas Oelolok untuk memastikan informasi itu dan menerima informasi sebanyak 7 orang anak mengalami sakit perut dan mules. Ia tidak memungkiri bahwa, data yang disampaikan oleh oleh Puskesmas Oelolok perihal 10 siswa lebih valid. Lantaran mereka yang menangani langsung para pasien.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *