"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Waspada Glaukoma: Penyebab Kebutaan yang Sering Tak Terdeteksi

Penyakit Glaukoma, Penyebab Kebutaan yang Sering Diabaikan

Penyakit glaukoma sering dianggap sebagai ancaman yang tidak terlihat. Padahal, penyakit ini menjadi salah satu penyebab kebutaan permanen yang sangat mengkhawatirkan. Banyak masyarakat tidak menyadari bahwa mereka bisa terkena glaukoma karena pada tahap awal, penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala yang jelas.

Kenapa Glaukoma Sering Tidak Disadari?

Glaukoma adalah kondisi yang menyebabkan kerusakan pada saraf mata, sehingga penglihatan tidak dapat kembali normal meskipun telah menjalani terapi. Salah satu faktor utama penyebab glaukoma adalah tekanan bola mata yang tinggi. Namun, gejala pada tahap awal biasanya tidak terasa, sehingga banyak orang tidak sadar bahwa mereka memiliki masalah dengan penglihatan.

Seminar Edukasi Glaukoma di Makassar

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya glaukoma, Rumah Sakit Mata JEC Orbita Makassar mengadakan seminar edukasi dengan tema “Save Your Vision: Waspada Glaukoma Sebelum Terlambat”. Seminar ini berlangsung di Auditorium Afifudin, RS JEC Orbita, Jl Masjid Raya, Sabtu (14/3/2026). Dalam acara tersebut, hadir dr Ririn Nislawati dan dr Hanna Aulia Namirah sebagai narasumber.

Selain seminar, panitia juga menyediakan pemeriksaan mata gratis bagi seluruh peserta. Acara ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas mengenai glaukoma dan pentingnya pemeriksaan dini.

Jenis-Jenis Glaukoma

Dr Hanna menjelaskan bahwa glaukoma terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu akut dan kronis. Glaukoma akut biasanya muncul dengan gejala yang jelas seperti mata merah, nyeri hebat, penurunan penglihatan secara tiba-tiba, hingga sakit kepala, mual, dan muntah. Namun, pada glaukoma kronis, gejala sering kali tidak terasa pada tahap awal, sehingga penderita tidak menyadari adanya kerusakan pada penglihatannya.

Pada tahap lanjut, penderita glaukoma akan mengalami penyempitan lapang pandang. Dr Hanna menggambarkan bahwa penglihatan orang yang terkena glaukoma mirip dengan orang yang melihat melalui corong saat lomba 17-an bermain bola.

Faktor Risiko dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena glaukoma antara lain riwayat keluarga, ukuran kacamata minus atau plus yang tinggi, penggunaan obat tetes mata tertentu, serta penyakit seperti diabetes dan hipertensi. Meskipun begitu, orang tanpa faktor risiko pun tetap bisa terkena glaukoma.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain mata terlihat membesar, memutih, sensitif terhadap cahaya, hingga produksi air mata berlebih. Jika mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Pentingnya Pemeriksaan Mata Secara Rutin

dr Ririn menekankan bahwa pemeriksaan mata sejak dini menjadi kunci utama dalam mendeteksi dan menangani glaukoma lebih cepat. Ia menyarankan masyarakat mulai melakukan pemeriksaan mata secara rutin setelah usia 40 tahun. Namun, jika ada anggota keluarga yang terkena glaukoma, sebaiknya dilakukan pemeriksaan setiap tahun.

Terapi utama untuk pasien glaukoma adalah menurunkan tekanan bola mata sesuai target yang ditentukan dokter. Selain itu, terdapat juga terapi tambahan seperti penggunaan obat-obatan, laser, hingga operasi untuk membantu mempertahankan luas penglihatan pasien.

Dengan kesadaran yang lebih tinggi, masyarakat dapat lebih waspada terhadap penyakit glaukoma dan segera mengambil langkah pencegahan yang tepat. Pemeriksaan dini dan penanganan yang cepat merupakan kunci untuk mencegah kerusakan penglihatan yang lebih parah.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *