Pendapatan MDKA Turun, Rugi Bersih Meningkat pada 2025
PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mencatat penurunan pendapatan pada tahun 2025, yang diiringi dengan peningkatan kerugian bersih perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, MDKA berhasil menghasilkan pendapatan sebesar US$1,89 miliar pada 2025 atau turun sebesar 15,4% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan pendapatan US$2,24 miliar pada 2024.
Pendapatan utama MDKA berasal dari penjualan emas, perak, katoda tembaga, nickel pig iron (NPI), nikel matte, dan bijih besi limonit kepada pihak ketiga domestik sebesar US$1,33 miliar serta ekspor sebesar US$554,46 juta. Dua pelanggan besar MDKA adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel dengan pendapatan sebesar US$670,42 juta dan Precious Metals Global Markets (HSBC) dengan pendapatan sebesar US$352,76 juta.
Di sisi bawah laporan keuangan, MDKA mencatat rugi bersih sebesar US$62,06 juta pada 2025, naik dari rugi bersih US$55,76 juta pada 2024. EBITDA MDKA pada 2025 mencapai US$373 juta. Angka ini didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) emas sebesar 32% YoY dan peningkatan produksi bijih nikel sebesar 44% YoY. Peningkatan ini mencerminkan peningkatan skala operasi dan kemajuan proyek strategis perseroan.
Presiden Direktur Merdeka Albert Saputro menyatakan bahwa sepanjang 2025, MDKA terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan skala operasi dan pengembangan proyek-proyek strategis. Ia menyampaikan bahwa dengan kemajuan signifikan di berbagai proyek dan kontribusi kuat dari entitas anak usaha, perusahaan optimis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.
MDKA menilai 2025 sebagai periode penting dalam memperkuat fondasi operasional serta menyelesaikan berbagai proyek strategis. Dengan diversifikasi portofolio, posisi likuiditas yang kuat, serta proyek strategis yang akan beroperasi pada 2026, Merdeka diyakini berada pada posisi yang solid untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Dimulainya produksi dari Tambang Emas Pani serta peningkatan skala bisnis nikel diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan produksi dan arus kas dalam jangka menengah.
Kinerja Operasional MDKA
Kontribusi dari portofolio bisnis yang terdiversifikasi terus menjadi fondasi utama kinerja MDKA. Pada 2025, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan sekitar 103.156 ounces emas. Anak usaha MDKA, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan operasi tambang dan fasilitas pengolahan Tambang Emas Pani pada 2025.
Di segmen nikel, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) dinilai terus menunjukkan kinerja operasional yang solid, dengan proyek-proyek utama berjalan sesuai rencana. Produksi tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) meningkat kuat, dengan produksi saprolit mencapai sekitar 7 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit sekitar 14,7 juta wmt.
Pengembangan fasilitas hilirisasi juga terus berjalan sesuai rencana. Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia, anak usaha MBMA, berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh. Sementara itu, pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas terpasang sebesar 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP terus berjalan sesuai jadwal dengan commissioning lini produksi pertama pada pertengahan 2026.
Target Kinerja MDKA 2026
Memasuki 2026, Tambang Emas Pani memulai produksi emas perdana pada 14 Februari 2026 serta merealisasikan penjualan emas pertama kepada PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) pada 16 Maret 2026. Hal ini menandai dimulainya fase produksi dan monetisasi yang akan mendukung peningkatan kinerja keuangan secara signifikan ke depan.
Didukung oleh rencana produksi emas dari PT Merdeka Gold Resources Tbk. serta struktur biaya yang kompetitif, kontribusi segmen emas terhadap produksi dan arus kas Grup ke depan akan meningkat secara signifikan. Pada 2026, PT Merdeka Gold Resources Tbk. menargetkan produksi 100.000–115.000 ounces emas disamping produksi berkelanjutan dari Tambang Emas Tujuh Bukit sebesar 80.000–90.000 ounces.
Untuk 2026, MBMA merencanakan peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8 juta–10 juta wmt sementara produksi bijih limonit ditargetkan di kisaran 20 juta–25 juta wmt. MBMA memperkirakan efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan SCM hingga mencapai swasembada bijih saprolit 100% untuk ketiga pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) perseroan pada 2026.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











