"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

Trik Rifai Membuat Nasi Pecel Ngawi Laku Keras Selama 10 Tahun

Aroma Pecel Khas Ngawi yang Menarik Perhatian Pengendara

Di perbatasan antara Kecamatan Peterongan dan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, aroma sambal kacang pecel khas Ngawi mulai menyebar di jalan raya. Aroma ini berasal dari dagangan yang berada di kendaraan roda tiga jenis Tossa yang berada di pinggir jalan. Setiap orang yang melintas langsung merasa tertarik untuk berhenti setelah mencium aroma tersebut.

Ahmad Rifai (46) bersama istrinya, Nasri, mempersiapkan dagangannya di pinggir jalan. Rifai, yang berasal dari Desa Plosokerep, Kecamatan Sumobito, membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk tiba di lokasi jualan. Ia mulai berjualan selepas salat subuh hingga pukul 10.00 WIB.

Peralatan berjualan seperti panci, kompor, gelas, hingga aneka lauk pelengkap pecel sudah tersusun rapi di atas Tossa. Setelah semua siap, Rifai dan istri langsung melayani pembeli yang telah menantinya. Mereka berbagi peran dalam menjalankan usaha nasi pecel khas Ngawi. Rifai bertugas menyiapkan minuman seperti teh dan kopi, sedangkan Nasri mengatur proses pembuatan pecel sesuai pesanan pembeli.

Dengan pengalaman selama sekitar 10 tahun, Rifai dan Nasri sangat terampil dalam melayani pembeli. “Saya mulai berjualan pecel sejak 2015,” kata Rifai. Meski begitu, perjalanan bisnisnya tidak mudah. Sebelumnya, Rifai bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah bank. Namun, ia memilih beralih profesi demi memiliki usaha sendiri yang bisa dikelola bersama keluarga.

Dalam sehari, Rifai menghabiskan sekitar 10 kilogram bahan pecel, dan bisa meningkat menjadi 15 kilogram saat ramai. Untuk pelengkap, ia menyediakan telur hingga 3 kilogram dengan biaya belanja sekitar Rp80 ribu per hari. Lapak pecel Tossanya buka sekitar pukul 05.00 WIB dan biasanya tutup menjelang pukul 10.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, omzet kotor yang diperoleh berkisar Rp600 ribu per hari.

Harga Terjangkau dan Menu Beragam

Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Pembeli hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp7 ribu untuk mendapatkan satu piring nasi pecel. Sedangkan pecel dengan tambahan lauk seperti sate jeroan, sate puyuh, telur dadar, telur ceplok, hingga telur bumbu bali dijual sekitar Rp10 ribu per porsi.

Bumbu pecel yang digunakan Rifai menggunakan resep khusus, terlebih karena sang istri berasal dari Ngawi. Bumbu pecel tersebut sudah dibuat sejak sehari sebelum mulai berjualan. “Sehari sebelum jualan biasanya sudah mulai masak, mulai dari buat bumbu pecel, sampai lauk-lauk tambahan,” ujarnya.

Pelanggan pecel khas Ngawi milik Rifai bervariasi. Ada anak kuliahan, pekerja yang ingin berangkat kerja, hingga warga sekitar. Keberadaan lapak ini menjadi persinggahan singkat bagi mereka yang mencari sarapan hangat dengan cita rasa rumahan.

Kesederhanaan yang Menjadi Daya Tarik

Kesederhanaan lapak pecel khas Ngawi milik Rifai justru menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah lalu lintas pagi yang mulai padat, kehadirannya menjadi tempat singgah yang nyaman. Bagi Rifai dan Nasri, berjualan pecel bukan sekadar mencari nafkah. Lebih dari itu, usaha kecil di pinggir jalan tersebut adalah cerita tentang ketekunan, kerja sama, dan harapan yang terus mereka rawat setiap pagi.

“Usaha ini saya bangun berdua bersama istri, alhamdulillah masih berjalan, dan semoga ke depan terus berjalan dan para pengunjung semakin banyak,” pungkas Rifai.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *