
Prestasi yang diraih oleh seseorang tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dari usaha dan dedikasi yang konsisten. Bagi Liontin Evangelina Setiawan, seorang atlet balap sepeda muda asal Yogyakarta, kesuksesannya di tingkat internasional adalah buah dari disiplin dan rasa tanggung jawab yang ia pegang sejak awal perjalanan karier olahraganya.
Pada tahun 2017, Liontin berhasil meraih medali perunggu dalam Kejuaraan Balap Sepeda Asia 2017 di Bahrain pada nomor individual time trial (ITT) putri. Selain itu, ia juga mencatatkan prestasi luar biasa dengan meraih medali emas di nomor ITT Women Elite dan perunggu di nomor Individual Road Race (IRR) Women Elite pada Kejurnas 2023. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan komitmen terhadap latihan bisa menghasilkan hal-hal besar.
Namun, bagi Liontin, kunci suksesnya tidak hanya terletak pada latihan yang intensif. Ia justru menyebutkan kebiasaan sederhana yang ia lakukan sejak kecil sebagai fondasi utama: bangun pagi.
“Kebiasaan itu bangun pagi. Dari dulu itu biasa bangun pagi,” kata Liontin saat berbicara kepada Pandangan Jogja di salah satu tempat favoritnya untuk bersepeda di kawasan Sagan, Jumat (6/2).
Ia menjelaskan bahwa awalnya memang terasa berat untuk bersepeda setiap hari, tetapi karena sudah dilakukan sejak kecil, kebiasaan itu menjadi rutinitas yang ia nikmati.

Perjalanan Liontin sebagai atlet dimulai dari kebiasaan sederhana tersebut. Namun, fase awalnya tidak selalu mulus. Saat masih duduk di bangku SMP, Liontin mengalami obesitas dengan berat badan mencapai 82 kilogram. Pada masa itu, ia merasa sulit untuk menjaga pola makan dan melakukan diet secara konsisten.
“Aku ingat banget, waktu itu beratku 82 kilogram. Masih pendek, jadi kelihatan bulat,” kenangnya.
Upaya untuk menurunkan berat badan pun tidak mudah. Di usia muda, menjaga pola makan terasa sangat berat. Akhirnya, Liontin menemukan alternatif yang lebih menyenangkan: bersepeda. Awalnya, bersepeda hanya menjadi cara untuk hidup lebih sehat, namun lambat laun menjadi kebiasaan yang ia sukai.
Dengan latihan yang konsisten, berat badannya turun secara signifikan. Bersepeda yang awalnya hanya sekadar aktivitas harian, akhirnya menjadi pintu masuk menuju dunia balap sepeda kompetitif.

Keseriusannya dalam bersepeda semakin terlihat ketika ia mengikuti kursus bersepeda. Di titik itulah, peluang datang dari arah yang tidak terduga. Salah satu produsen sepeda ternama di Indonesia, Polygon, melihat potensi Liontin dan memberikan dukungan berupa frame sepeda pertamanya.
“Salah satu yang bikin aku jadi atlet juga adalah Polygon. Jadi, tuh awalnya tuh aku masih kursus sepedaan. Habis itu Polygon tahu nih aku sepedaan kan, dikasih tuh satu frame (sepeda) gara-gara dikasih itu kan kayak ada rasa tanggung jawab kan.”
Sejak 2014, saat usianya 13 tahun, Polygon memberikan dukungan penuh kepada Liontin. Bagi Liontin, pemberian frame sepeda itu bukan sekadar alat, melainkan bentuk kepercayaan yang ia jaga sebagai tanggung jawab hingga kini.
“Sama Polygon itu dari tahun 2014, dari awal sampai sekarang,” ujarnya.
Komitmen dan konsistensi Liontin membawanya menembus level internasional. Momen paling berkesan terjadi saat ia tampil di Kejuaraan Balap Sepeda Yunior Asia 2017 di Bahrain. Dalam pertandingan pertamanya di pentas Asia, Liontin mampu menyelesaikan jarak 12,8 kilometer dalam waktu 19 menit 50 detik dan meraih medali perunggu.
“Aku pertama kali menang kejuaraan internasional itu di Bahrain, kejuaraan Asia. Itu pertama kali, jadi itu memorable banget, berkesan,” kenangnya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.








