"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

95 Persen Tempat Sampah di Yogyakarta Kosong, Target Selesai Sebelum Lebaran

Pemkot Yogyakarta Mempercepat Pengosongan Depo Sampah Jelang Lebaran 2026

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta sedang mempercepat proses pengosongan depo sampah di wilayahnya menjelang momentum libur Lebaran 2026. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi lonjakan volume sampah yang diperkirakan terjadi selama masa libur Idulfitri.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, progres pengosongan depo sampah saat ini sudah mencapai angka 95 persen. Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menyatakan bahwa pihaknya menargetkan seluruh depo sampah dalam kondisi steril pada Selasa (17/3/26) mendatang. Ia menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan kenyamanan warga saat merayakan lebaran.

Prediksi Peningkatan Volume Sampah

Menurut Rajwan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, akan terjadi peningkatan timbulan sampah di kisaran 15 hingga 20 persen selama masa libur Lebaran. Jenis limbah yang dominan adalah sampah organik basah, seperti sisa makanan dan aktivitas rumah tangga masyarakat.

Untuk mengantisipasi penumpukan kembali di depo, DLH akan memaksimalkan titik-titik kumpul di wilayah kelurahan. Sampah organik akan langsung dialihkan ke tangan offtaker agar tidak menumpuk di depo. “Di hari libur pun sampah bisa langsung diambil oleh mereka,” jelas Rajwan.

Penanganan Gerobak Sampah

Selain fokus pada pengosongan depo, Pemkot Yogyakarta juga memberi perhatian pada keberadaan gerobak-gerobak sampah milik penggerobak yang sering terparkir di pinggir jalan. Fenomena ini sempat menjadi sorotan kalangan legislatif karena dianggap mengganggu estetika kota dan kelancaran lalu lintas.

Rajwan menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kasatpol PP untuk memastikan gerobak yang sudah kosong dibawa kembali ke tempat tinggalnya. Jika tidak ada tempat, silakan dimasukkan ke dalam depo supaya tidak berjajar di pinggir jalan.

Target Depo Sampah Bersih Saat Lebaran

Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mematok target seluruh depo sampah di wilayahnya sudah bersih dari tumpukan limbah sebelum hari raya Idulfitri. Proses harus dikebut agar warga dapat merayakan momentum lebaran dengan nyaman, termasuk saat melaksanakan salat Ied.

Untuk mencapai target tersebut, ia mengajak warga berperan aktif dalam pengelolaan sampah melalui gerakan lima langkah Mas JOS atau Masyarakat Jogja Olah Sampah. Program ini bertujuan mengurangi volume sampah dengan cara mengolah limbah langsung dari sumbernya.

Mas JOS sebagai Model Nasional

Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang digulirkan Pemkot Yogyakarta digadang-gadang menjadi role model penanganan limbah nasional. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI secara terbuka melirik program ini untuk direplikasi dan dikembangkan di berbagai daerah lain di Indonesia.

Direktur Pemulihan Lahan Terkontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 KLH RI, Vinda Damayanti Ansjar, menyebut Mas JOS bisa menjadi starter atau pemicu bagi kota-kota lain dalam manajemen persampahan. Berdasarkan data, saat ini Kota Yogyakarta dinilai sebagai yang terdepan dengan keterlibatan sekitar 37.000 Kepala Keluarga (KK) yang aktif memilah dan mengolah sampah.

Budaya Pengolahan Sampah

Vinda menekankan bahwa kesuksesan program Mas JOS tidak hanya dilihat dari angka partisipasi semata, melainkan fondasi budaya yang terbangun di masyarakat. Menurutnya, di Kota Yogyakarta, pengolahan sampah mulai bertransformasi menjadi kultur baru warga, bukan sekadar program pemerintah sesaat.

“Perbedaannya, di Kota Yogyakarta ini (memilah sampah) akan menjadi budaya masyarakat. Itu hal yang paling penting. Jadi, siapapun nanti pemimpin kota ini, karena sudah menjadi budaya, maka program akan terus berjalan,” ujarnya.

Rekonstruksi Sosial Warga

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa event Mas JOS Award 2025 digelar untuk menggelorakan semangat rekonstruksi sosial warga dalam memilah sampah. Progres di akar rumput menunjukkan tren positif, seperti pengumpulan sampah organik basah sisa makanan yang terus meningkat hingga mencapai 25 ton per hari.

Lebih lanjut, Hasto mendorong lebih dari 600 bank sampah yang beraktivitas di Kota Yogyakarta untuk meningkatkan frekuensi operasionalnya. Ia berharap bank sampah bisa melayani penimbangan setiap hari agar memudahkan warga menyetorkan sampah anorganik, sehingga gerakan memilah dari hulu benar-benar menjadi kenyataan.


Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *