"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Daftar Sutradara yang Hobi Mengangkat Kota Asal dalam Film

Membuat Film dengan Latar Khusus, Bukan Hal Mudah

Membuat film, terutama dengan latar spesifik, bukanlah perkara sederhana. Banyak yang menyarankan untuk tidak mengambil risiko dengan membuat film tentang satu tempat yang bahkan belum pernah kamu kunjungi. Salah satu contoh kasus yang menarik perhatian adalah film Emilia Perez (2024) karya Jacques Audiard, sutradara Prancis ternama. Film ini mendapat kritik pedas karena dianggap tidak akurat dalam memotret budaya dan kondisi sosial-politik Meksiko. Penonton justru merasa tersinggung karena cara Audiard memotret Meksiko dinilai sangat stereotipikal.

Kasus seperti ini membuat para sineas harus berhati-hati saat membuat film tentang budaya yang tidak familiar dengan pengalaman mereka. Oleh karena itu, banyak dari mereka memilih untuk membuat film tentang kampung halaman mereka sendiri. Meskipun terkesan mencari aman, hasilnya justru autentik dan diapresiasi oleh sesama sineas. Siapa saja mereka?

Sutradara yang Memilih Berkarya di Kampung Halaman

1. Gus Van Sant (Portland, Oregon, AS)

Gus Van Sant memilih untuk kembali ke Portland, salah satu kota yang pernah ia tinggali saat masih kecil, untuk membuat film-film indie-nya sendiri. Keputusan ini mungkin didukung oleh privilese yang ia miliki sebagai seseorang dengan latar belakang keluarga kelas menengah atas. Namun, Van Sant justru tertarik mengulik kehidupan kaum tersisih di Portland. Ini terpampang nyata dalam karya-karya sinematiknya, seperti Mala Noche (1985), Drugstore Cowboy (1989), My Own Private Idaho (1991), Elephant (2003), dan Paranoid Park (2007).

2. Danny and Michael Philippou (Adelaide, Australia)

Dari Adelaide, Australia, duo sutradara Danny dan Michael Philippou juga belum beranjak dari kampung halaman mereka saat berkarya. Mereka memulai dengan membuat Talk to Me (2023) dan disusul Bring Her Back (2025). Masih bergenre horor, kesuksesan film debut mereka tidak mengubah cara mereka berkarya. Mereka tetap merekrut aktor-aktor lokal dan memotret keunikan geografis Adelaide.

3. Carla Simón (Katalonia, Spanyol)

Carla Simón juga belum memiliki banyak koleksi film. Namun, Simón menjadi salah satu sutradara yang berhasil mengekspos keberagaman budaya di Spanyol. Lahir dan besar di Katalonia, film-film Simón mencerminkan identitas uniknya itu. Jika penasaran bagaimana uniknya bahasa Katalan dan kondisi sosial-politiknya, tonton dua film Carla Simón yang berjudul Summer 1993 (2017) dan Alcarràs (2022). Jika tertarik dengan Galicia, tonton film terbarunya yang berjudul Romeria (2025).

4. Jia Zhangke (Fenyang, China)

Sutradara lain yang gemar membuat film di kampung halamannya adalah Jia Zhangke. Fenyang, tepatnya, adalah kota yang berjarak sekitar 6 jam perjalanan darat dari Ibu Kota Beijing. Dari kacamata Zhangke, kota tersebut mengalami transformasi drastis selama beberapa dekade. Zhangke memulai petualangannya berkarya dengan merilis tiga film berlatar kampung halamannya itu, yakni Xiao Wu (1997), Platform (2000), and Unknown Pleasures (2002). Selanjutnya, ada Still Life (2006), A Touch of Sin (2013), dan Mountains May Depart (2014). Saking lekatnya ia dengan Fenyang, sutradara Brasil Walter Salles (I’m Still Here, Central Station) sampai membuat dokumenter tentangnya dengan tajuk Jia Zhangke, A Guy from Fenyang (2014).

5. Fatih Akin (Hamburg, Jerman)

Identitas Fatih Akin sebagai imigran Turki yang lahir, besar, dan menetap di Hamburg, Jerman, tercermin dalam film-film buatannya. Short Sharp Shock (1997), Soul Kitchen (2009), In July (2002), Head-On (2004), The Edge of Heaven (2007), dan beberapa film terbarunya masih berlatar Hamburg. Ia juga biasanya menciptakan protagonis berlatar belakang imigran, baik dari Albania, Yunani, atau Turki seperti dirinya.

Kesimpulan

Bisa dibilang cari aman, tetapi keputusan mereka setia membuat film di kampung halaman ternyata diapresiasi penonton. Rasanya lebih autentik dan mengena. Bagaimanapun, asal-usul dan identitas kita memang membentuk dari bagaimana cara kita berkarya. Coba sebut siapa lagi sutradara yang hobi membuat film tentang kota asal mereka?

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *