Dua Kata yang Menyimpan Semesta
Ada yang lebih dari sekadar panggilan dalam dua kata itu:
inaq
dan
amaq.
Bagi masyarakat suku Sasak di Lombok, dua kata ini bukan hanya cara seorang anak memanggil orang tuanya. Ia adalah cermin dari bagaimana leluhur mereka memahami dunia, membangun rumah, membagi tanggung jawab, dan merawat kehidupan.
Ketika Sebuah Panggilan Punya Silsilah Panjang
Di banyak daerah Indonesia, kita terbiasa dengan panggilan “ibu” dan “bapak”, atau “mama” dan “papa” yang terasa lebih modern. Namun di kampung-kampung Lombok—terutama di kalangan masyarakat Sasak yang masih teguh menjaga adat—seorang anak akan memanggil ibunya dengan
inaq
dan ayahnya dengan
amaq.
Panggilan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kekayaan makna yang luar biasa.
Kata
inaq
berakar dari kata bahasa Arab إِنَاءٌ yang berarti “wadah/bejana”. Dari akar kata yang sama, istilah
inaq
dan
amaq
secara sederhana bisa dimaknai sebagai “orang yang mewadahi”. Dan
amaq
dari akar kata Arab مَاءٌ bermakna air. Bejana dan air merupakan dua unsur yang sejak awal penciptaan tidak pernah bisa dipisahkan satu sama lain. Ini bukan kebetulan.
Leluhur masyarakat Sasak—dengan kearifan yang mungkin tidak selalu mereka tuliskan tapi selalu mereka hidupkan—telah merumuskan hakikat sebuah rumah tangga dalam dua kata yang paling sederhana. Seorang ibu adalah wadah. Seorang ayah adalah air yang mengisinya. Dan dari pertemuan keduanya, lahirlah kehidupan.
Memanggil orang tua dengan sebutan
inaq-amaq
bukan berarti kuno atau kampungan, bukan pula soal strata sosial yang lebih rendah. Justru sebaliknya, itu adalah tanda bahwa seseorang masih terhubung dengan akar peradaban yang panjang dan bermartabat.
Inaq: Bejana yang Menghidupi Segalanya
Bayangkan sebuah bejana yang baik: ia tidak bocor, tidak retak, tidak mudah goyah ketika diisi. Itulah gambaran paling jujur tentang seorang
inaq
dalam pandangan masyarakat Sasak. Sebagai wadah,
inaq
bukan pasif. Justru ia adalah ruang di mana segala sesuatu tumbuh, berkembang, dan menemukan bentuknya.
Anak-anak tumbuh dalam wadahnya. Nilai-nilai ditanamkan dari tangannya. Harmoni rumah tangga dijaga dari ketenangannya. Dalam istilah Sasak,
inaq
adalah pemegang
epen doe
(bahasa Sasak) otoritas penuh atas isi dan jalannya kehidupan di dalam rumah. Bukan karena ia berkuasa secara paksa, melainkan karena ia adalah tempatnya segala sesuatu bertumpu.
Dalam budaya Sasak,
inaq
dikenal sebagai pilar kekuatan dan stabilitas dalam keluarga. Mereka adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, yang mengajarkan nilai-nilai penting seperti menghargai orang lain, berbagi, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Istilah ini juga digunakan untuk merujuk kepada perempuan yang lebih tua atau yang memiliki peran penting dalam keluarga. Ini menunjukkan bahwa
inaq
adalah sebuah prinsip; bukan hanya hubungan darah, melainkan juga fungsi: fungsi mewadahi, merawat, dan menjaga.
Di dalam rumah adat Sasak, pembagian ruang pun mencerminkan kedudukan ini. Rumah adat Sasak memiliki tiga bagian ruang: ruang induk (
inan bale
), ruang tidur (
bale luar
), dan ruang penyimpanan harta benda sekaligus tempat ibu melahirkan (
bale dalam
).
Tempat melahirkan, tempat menyimpan harta, tempat persemayaman jenazah sebelum dimakamkan semuanya ada di
bale dalam
, ruang yang paling sakral dan paling dalam dari sebuah rumah. Persis seperti bejana: semakin dalam, semakin berharga isinya.
Amaq: Air yang Mengisi Sekaligus Mendinginkan
Jika
inaq
adalah bejana,
amaq
adalah air. Dan air—dalam pemahaman yang paling mendasar sekali pun—bukan hanya pengisi. Air adalah penyeimbang. Di sinilah peran
amaq
menemukan kedalaman makna yang sering luput dari perhatian.
Dalam pandangan masyarakat Sasak, perempuan dipahami sebagai sosok kuat, tetapi peka secara emosional, yang merupakan bagian dari fitrahnya. Karena itu, laki-laki (
amaq
) dipandang berperan menyejukkan dan menjaga keseimbangan dalam rumah tangga. Ketika ketegangan muncul, kehadiran
amaq
diharapkan mampu meredakan suasana agar hubungan tetap harmonis.
Dalam sistem sapaan kekerabatan suku Sasak, kata
amaq
muncul dalam beberapa versi, tergantung konteks hubungan antarpenutur. Variasi ini menunjukkan bahwa
amaq
adalah prinsip yang hidup dan fleksibel; ia bukan jabatan kaku, melainkan peran yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan keluarga dan komunitas di sekitarnya.
Bejana dan Air: Sebuah Analogi yang Melebihi Kata-kata
Ada satu analogi yang sangat indah sekaligus sangat serius jika kita membawa pertemuan
inaq
dan
amaq
ke dalam kacamata fikih Islam. Karena masyarakat Sasak adalah mayoritas masyarakat Muslim, nilai-nilai Islam bukan sesuatu yang mereka tempelkan dari luar, melainkan sesuatu yang sudah meresap ke dalam cara mereka menamai dunia.
Dalam Islam, pernikahan disebut sebagai مِيْثَاقًا غَلِيْظًا (ikatan yang sangat kokoh), perjanjian yang suci, dan tidak bisa diperlakukan sembarangan. Dan jika kita membawa konsep bejana dan air ke dalam pola ini, gambarannya menjadi sangat eksplisit.
Sebuah bejana yang terkena
najis mughallazoh
(najis paling berat) dalam hukum Islam tidak bisa begitu saja diisi air dan dianggap bersih. Airnya pun akan ikut terhukumi najis. Ia tidak bisa digunakan untuk bersuci. Tidak peduli seberapa banyak airnya, selama bejananya belum disucikan dengan cara yang benar, air di dalamnya tidak sah untuk dipakai bersuci.

Bayangkan sebuah bejana yang bersih, tapi airnya kurang dari dua kullah (270 liter) ukuran minimum air yang dianggap suci dan menyucikan dalam fikih (Baca kitab
Syaikh Wahbah Az-zuhaili; Al-fiqhul Al-Islami Wa adillatuh
). Air dalam jumlah kecil itu rentan. Ia mudah tercemar oleh najis yang jatuh ke dalamnya. Dan tidak cukup pula ia menunaikan fungsinya.
Itulah pernikahan. Itulah
inaq
dan
amaq
. Ketika keduanya bersih, bejananya suci, airnya mencukupi, rumah tangga itu menjadi sumber suci bagi siapa pun yang ada di dalamnya. Anak-anak tumbuh dalam kesucian. Nilai-nilai mengalir jernih. Keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang
sakinah
,
mawaddah wa rahmah
; tenang, penuh cinta, dan dilimpahi kasih sayang.
Namun, ketika salah satu tidak menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh—ketika bejana retak atau air mengering—yang pertama merasakan dampaknya adalah anak-anak. Mereka yang paling tidak berdaya, paling bergantung, dan paling berhak mendapat yang terbaik dari kedua orang tuanya.
Satu Nama untuk Dua Orang Sekaligus
Salah satu hal yang menarik dalam tradisi Sasak adalah kebiasaan memanggil orang tua bukan dengan nama mereka sendiri, melainkan dengan nama anak pertamanya. Seorang bapak yang anaknya bernama Sari akan dipanggil
Amaq Sari
. Ibunya akan dipanggil
Inaq
Sari. Ini bukan semata-mata soal kebiasaan. Ada nilai yang tersimpan di sana bahwa kehadiran seorang anak mengubah identitas orang tuanya.
Mereka bukan lagi sepenuhnya milik diri sendiri. Mereka kini adalah “orang tuanya si anak” dan identitas itu dipakai dengan sangat bangga. Air yang sudah masuk ke dalam bejana tidak lagi hanya disebut “air”, tetapi juga disebut “air yang ada di dalam bejana itu”. Keduanya melebur menjadi satu entitas yang baru. Itulah mungkin yang paling indah dari cara masyarakat Sasak menamai orang tuanya.
Dalam seni wayang Sasak, nilai-nilai ini bahkan hidup dalam wujud tokoh-tokoh legendaris. Dalang kondang, H. Lalu Nasip, menghidupkan tokoh-tokoh wayang dengan nama-nama seperti
Amaq Baoq
,
Amaq Amet
,
Amaq Locong
, dan
Inaq Litet
; tokoh-tokoh yang sarat makna filosofi, di mana
Amaq Baoq
dapat dimaknai sebagai pelesetan dari kata “baik”, menggambarkan sosok yang selalu berbuat kebaikan dan menjadi teladan.

Amaq Amet
melambangkan pribadi yang gemar mengamati serta merenungkan keadaan di sekitarnya dan selalu siap menghadapi berbagai tantangan.
Amaq Locong
atau
Locok
menggambarkan seseorang yang menjalani hidup dengan mengandalkan keberuntungan.
Adapun Inaq Litet merepresentasikan gagasan tentang kesetaraan gender/
gender equality
, yaitu pentingnya menghargai peran laki-laki dan perempuan secara seimbang tanpa mengabaikan peran perempuan sebagai ibu dan pasangan dalam keluarga.
Dua Kata yang Membentuk Sebuah Ekosistem
Alhasil,
inaq
dan
amaq
bukan sekadar gelar. Keduanya adalah dua sisi dari satu keping; dua unsur yang saling membutuhkan untuk menjadi sempurna. Bejana tanpa air adalah benda mati yang kosong dan kering. Air tanpa bejana adalah cairan yang tercecer, tidak tahu ke mana mengalir, tidak punya tempat untuk menetap.
Namun ketika keduanya bertemu—ketika bejana yang kuat menerima air yang cukup dan suci—terciptalah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar “keluarga yang rukun”.
Terciptalah sebuah sumber. Tempat anak-anak minum nilai. Tempat lelah pulang dan menemukan ketenangan. Tempat yang oleh Al-Quran disebut sebagai بَيْتِي جَنَّتِي (rumahku adalah surgaku).
Maka ketika seorang anak Sasak menyebut
“Inaq…”
dengan nada meminta atau
“Amaq…”
dengan nada melapor, sesungguhnya ia sedang melafalkan filsafat yang tidak perlu dibukukan karena ia sudah hidup di dalam kehidupan sehari-hari—dalam panggilan sederhana yang terdengar di pagi hari, di meja makan, dan di tepi sawah saat matahari mulai condong ke barat.



Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











