"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Uskup Hilarion Datus Lega Pimpin Ibadah Jumat Agung di Fakfak, Ajak Toleransi Antar Umat

Perayaan Jumat Agung di Gereja Paroki Santo Yosep Fakfak

Perayaan Jumat Agung di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menjadi momen penting bagi umat Katolik untuk merenungkan peristiwa sengsara dan wafat Yesus Kristus. Uskup Manokwari-Sorong (KMS), Mgr Hilarion Datus Lega, Pr, memimpin ibadat tersebut bersama Pastor Paroki Santo Yosep Fakfak, RD Alex Fabianus, Pr. Prosesi berlangsung dengan penuh keheningan dan kerendahan hati.

Pantauan menunjukkan bahwa suasana duka terasa sangat kuat sejak awal perayaan. Tidak ada lagu pembuka atau sapaan meriah. Imam dan para petugas liturgi memasuki gereja dalam keheningan total, lalu bersujud di depan altar. Tindakan ini menjadi simbol kerendahan hati dan ungkapan duka atas sengsara Tuhan Yesus Kristus. Umat yang hadir larut dalam suasana tobat, hening, dan permenungan.

Mgr Hilarion Datus Lega menjelaskan bahwa Jumat Agung bukan hanya mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga ajakan untuk masuk dalam misteri penderitaan Kristus dan menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Ibadat dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang berpuncak pada pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus menurut Injil Yohanes (Yoh. 18:1–19:42).

Kisah yang dibawakan melalui pasio secara bergantian menghadirkan kembali detik-detik penderitaan Kristus, mulai dari penangkapan di Taman Getsemani, pengadilan, penyaliban, hingga wafat-Nya di kayu salib. Melalui Liturgi Sabda ini, umat diajak merenungkan kasih Allah yang tak terbatas, kasih yang rela menderita dan berkorban demi menebus dosa manusia.

Suasana gereja semakin hening, dengan umat seolah hadir langsung di kaki salib Yesus. Mgr Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa Jumat Agung bukan sekadar peringatan liturgis, tetapi panggilan untuk menghidupi kasih Yesus Kristus secara nyata. “Jumat Agung bukan hanya mengenang penderitaan dan wafat Tuhan, tetapi menjadi momentum untuk meneladani kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kasih itu nyata dalam sikap pengampunan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama,” ujar Uskup.

Salah satu momen yang paling menyentuh adalah penghormatan salib. Salib diarak ke depan altar, lalu diperlihatkan kepada umat dengan seruan, “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia.” Seruan ini menggema dalam keheningan, mengundang umat untuk memandang salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi tanda kasih yang menyelamatkan.

Secara bergantian, umat maju untuk memberikan penghormatan, dengan mencium salib, berlutut, atau membungkukkan badan. Tindakan ini bukan sekadar ritual, melainkan ungkapan iman yang mendalam, tanda kasih, syukur, sekaligus penyesalan atas dosa.

Perayaan dilanjutkan dengan doa umat meriah, yang menjadi ciri khas Jumat Agung. Dalam doa ini, Gereja mengangkat berbagai intensi universal, mulai dari Gereja sendiri, para pemimpin bangsa, hingga seluruh umat manusia. Dalam pesannya, Uskup Hilarion Datus Lega juga menegaskan pentingnya menjaga kebebasan dan toleransi hidup beragama, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

“Gereja berdoa agar setiap orang dapat hidup dalam damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama,” ujarnya. Menurutnya, sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk terus merawat harmoni sosial. Toleransi tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

Rangkaian ibadat berlanjut dengan penerimaan komuni suci dari Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasi pada Misa Kamis Putih. Sebelumnya, Sakramen tersebut diarak kembali dari Taman Doa menuju altar dalam suasana hening dan penuh penghormatan. Prosesi ini memiliki makna mendalam. Pada malam Kamis Putih, Sakramen Mahakudus dipindahkan ke Taman Doa sebagai lambang Yesus yang pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa sebelum mengalami sengsara. Umat pun turut ambil bagian dalam doa tuguran sebagai ungkapan berjaga bersama Tuhan.

Perayaan Jumat Agung ditutup tanpa berkat penutup, dalam suasana hening yang panjang. Gereja seakan “berdiam diri” dalam duka, menantikan misteri kebangkitan yang akan dirayakan dalam Paskah. “Keheningan ini bukanlah kekosongan, melainkan ruang permenungan yang dalam. Dari salib, umat belajar bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Salib yang dahulu menjadi lambang kehinaan, kini menjadi tanda kemenangan kasih dan sumber harapan bagi umat beriman,” kata Hilarion Datus Lega.

Melalui perayaan ini, umat Katolik di Paroki Santo Yosep Fakfak diajak untuk semakin menyadari besarnya kasih Allah, sekaligus memperbarui komitmen hidup sebagai pengikut Kristus, hidup dalam kasih, pengorbanan, dan pengharapan. Perayaan Jumat Agung ini pun mengantar umat memasuki keheningan Sabtu Suci, sebelum merayakan sukacita kebangkitan Tuhan saat Hari Raya Paskah.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *