"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Selamat Jalan Hero, Duka Menyertai Pengabenan Agus yang Penuh Kebaikan

Kehilangan Sang Pahlawan

Pria muda berusia 28 tahun, I Wayan Agus Suarsa Dharma, meninggal dunia setelah berusaha menyelamatkan seorang pemuda yang nyaris tenggelam di Pantai Purnama, Sukawati, Gianyar, Bali. Kejadian tersebut terjadi pada Minggu (5/4/2026) saat Banyupinaruh. Upacara ngaben mendiang dilaksanakan di Krematorium Puspa, Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Klungkung, Minggu (12/4/2026). Suasana duka mengiringi prosesi pengabenan tersebut.

Sejak pagi hari, keluarga, kerabat, dan teman-teman dari Wayan Agus Suarsa telah hadir di krematorium. Berbagai papan ucapan duka terpajang, menunjukkan rasa kehilangan yang mendalam. Orangtua dari Wayan Agus Suarsa yang tinggal di Sulawesi juga tampak sangat berduka atas musibah yang menimpa putranya.

Meninggalnya Wayan Agus Suarsa meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya. Kelihan Dinas Banjar Telabah, Desa Sukawati, I Made Imam Budaya Putra, menyampaikan bahwa sosok Wayan Agus Suarsa dikenal sebagai pribadi yang ramah dan suka bersosialisasi dengan warga. Meskipun ia lama tinggal di Sulawesi, ia tinggal di Banjar Telabah bersama pamannya sejak 10 tahun lalu. Sehari-hari, ia bekerja di usaha katering.

Ia menceritakan bahwa saat kejadian, Wayan Agus Suarsa sudah selesai mandi di pantai. Saat itu, banyak warga lainnya berada di lokasi. Tiba-tiba, ia melihat ada remaja yang terseret ombak. Tanpa ragu, Wayan Agus Suarsa langsung berusaha menyelamatkan pemuda tersebut. Sayangnya, justru dirinya yang tenggelam dan terseret arus.

Banyak warga yang menilai Wayan Agus Suarsa sebagai pahlawan karena berani mengorbankan nyawanya untuk orang lain. “Padahal lokasi kejadian dikenal sangat rawan, tapi ia tetap berusaha membantu mempertaruhkan nyawa. Mungkin karena bagian didikan orangtuanya, suka menolong,” kenangnya.

Dari pihak keluarga yang ditolong, juga telah bertemu dengan keluarga Wayan Agus Suarsa. Bahkan, mereka ikut hadir dalam upacara pengabenan tersebut. “Mungkin sudah jalannya ia seperti demikian, pihak keluarga pun menerima kejadian ini. Keluarga sudah mengiklaskannya,” ungkap I Made Imam Budaya Putra.

Kadek Raditya Masih Syok

Kadek Raditya, pemuda asal Banjar Kebalian, Desa Sukawati, sosok yang diselamatkan Agus Suarsa Dharma di Pantai Purnama, rupanya tidak diam saat Agus dinyatakan hilang tergulung ombak. Setelah mendapat pemeriksaan rumah sakit, meskipun kondisinya masih belum pulih total, ia bersama keluarganya ikut dalam proses pencarian Agus.

Di mana setelah mendapat pemeriksaan rumah sakit, meskipun kondisinya masih belum pulih total. Namun ia bersama keluarganya ikut dalam proses pencarian Agus. Ditemui di rumahnya, Selasa (7/4), kondisi psikologis Kadek Raditya masih terguncang. Sorot matanya sayu, masih syok atas meninggalnya Agus sang penolongnya.

Kepada Tribun Bali, ia bercerita, saat berhasil keluar dari ganasnya ombak Pantai Purnama, ia langsung dibawa ke RSU Kasih Ibu. Dirawat dari pukul 08.00 sampai 13.00 Wita. Namun di Hari Minggu tersebut ia belum bisa kemana-mana. Namun saat itu keluarganya bersama teman-temannya telah pergi ke Pantai Purnama, ikut membantu pencarian Agus.

Sementara Kadek, meskipun dalam kondisi masih syok, akhirnya pada Senin, sekitar pukul 18.00 Wita, ia bersama orangtuanya datang ke Pantai Purnama, melakukan persembahyangan meminta pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar Agus segera ditemukan. Tak hanya di sana, Kadek bersama keluarganya juga bersembahyang di Pura Er Jeruk dengan tujuan sama.

Sekitar satu jam setelah bersembahyang, ia mendapatkan informasi bahwa Agus telah ditemukan di Pantai Saba. Mendapat informasi tersebut, Kadek Raditya langsung mendatangi lokasi. “Saat saya lihat Agus terdampar, saya sangat syok. Tidak bisa ngomong apa. Saya menangis,” ujarnya.

Saat jenazah Agus dievakuasi ke RSUD Sanjiwani, Raditya juga ikut ke sana, serta menggelar upacara ‘memunjung’ di rumah sakit. I Made Mudiana, orangtua Kadek Raditya, mengatakan, setelah Agus ditemukan, dirinya pun telah datang ke Banjar Telabah untuk menemui keluarga Agus. “Saya sampun ke Banjar Telabah. Bertemu dengan pamannya, karena orangtuanya belum datang. Rencananya dikremasi, tapi waktunya belum ditentukan, kami sudah minta kalau sudah ditetapkan waktunya, agar kami juga diberi tahu,” ujarnya.

Mudiana mengatakan, keluarganya memiliki utang yang sangat besar pada mendiang Agus. Karena itu, iapun akan terlibat dalam proses kremasi Agus, yang sebelumnya tidak dikenalnya. “Nanti kami pasti akan ikut proses kremasi. Saya pasti siap untuk ikut ke sana. Kami sekeluarga ikut menghaturkan kuangen agar pejalan sang Atma bagus,” ujarnya.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *