Kawan Tuli Coffee and Space Solo: Ruang Inklusif yang Menginspirasi
Kawan Tuli Coffee and Space Solo menjadi salah satu tempat kopi yang menarik perhatian masyarakat. Seluruh baristanya adalah teman-teman tuli yang memiliki kemampuan luar biasa dalam meracik kopi berkualitas tinggi. Meskipun tidak dapat mendengar, mereka tetap mampu memberikan pengalaman yang memuaskan bagi para pengunjung.
Setiap sajian kopi yang disajikan di sini dibuat dengan presisi dan ketelitian. Dari biji kopi yang telah di-roasting hingga diekstraksi menggunakan mesin espresso, proses pembuatannya dilakukan dengan sangat hati-hati. Hasilnya adalah secangkir kopi yang memiliki rasa seimbang, creamy, dan aromatik yang langsung terasa di lidah.
Menu Andalan yang Disukai Banyak Pengunjung
Salah satu menu yang paling diminati adalah Kopi Susu Kawan Tuli, yang merupakan signature drink dari kedai ini. Proses pembuatannya melibatkan berbagai tahapan yang memastikan kualitas dan cita rasa yang optimal. Para barista menunjukkan keahlian mereka dalam mengolah bahan-bahan tersebut dengan sangat terampil.
Selain itu, pengunjung juga akan merasakan pengalaman yang unik dan menyenangkan. Kedai ini bukan hanya sekadar tempat untuk menikmati kopi, tetapi juga ruang inklusif yang ramah bagi semua kalangan. Bahkan, para barista tuli bekerja dengan percaya diri dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya di industri kopi.
Pengalaman Dela: Belajar Kopi dan Interaksi Sosial
Dela, salah satu barista di Kawan Tuli Coffee and Space, berbagi pengalamannya selama 8 bulan bekerja di sini. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru, terutama dalam dunia kopi dan interaksi sosial. “Saya sudah bekerja sebagai barista selama 8 bulan. Belajar banyak hal, seperti kopi, rasa, karakter kopi yang berbeda-beda. Lalu bertumbuh dan berkembang lebih besar. Ketemu teman-teman dengar. Interaksi komunikasi. Orang bisa nyaman. Tambah pengalaman,” ujarnya.
Menurut Dela, bekerja di tempat ini juga membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan pelanggan. Bahkan, ia mengakui bahwa tidak semua orang memahami bahasa isyarat, namun komunikasi tetap bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.
Pesan untuk Pengunjung: Tak Perlu Takut Datang
Dela menegaskan bahwa pengunjung tidak perlu khawatir meski tidak bisa berbahasa isyarat. Komunikasi tetap bisa dilakukan dengan cara yang mudah. “Aku merasa orang-orang itu seru belajar bahasa isyarat. Interaksi komunikasi. Nggak usah takut. Sharing-sharing. Mau pilih pesan apa. Bisa tulis juga. Nggak usah takut datang ke sini,” katanya.
Hal ini membuat Kawan Tuli Coffee and Space menjadi ruang inklusif yang ramah bagi semua kalangan. Pengunjung dari berbagai latar belakang dapat merasa nyaman dan diterima.
Harapan Galih: Menabung, Belajar, dan Jelajahi Kopi Nusantara
Barista lain, Galih, juga berbagi rencananya ke depan. Dengan penghasilan yang dimilikinya saat ini, ia mulai menabung untuk masa depan. “Gaji disimpan aja. Masa depan nggak tahu. Mungkin beli rumah sendiri. Beli alat barista di rumah sendiri. Mungkin kalau misal capek istirahat gabut bikin kopi sendiri. Kan belajar dari sini. Bisa bikin V60 sendiri di rumah,” ujarnya.
Galih juga mengungkapkan impian untuk membuka kedai kopi sendiri suatu hari nanti. Namun, ia masih ingin belajar lebih banyak tentang dunia kopi sebelum memutuskan langkah besar tersebut. “Nggak tahu. Sebenarnya rencana belum tahu sebab kalau misal sudah umur pensiun bisa buka sendiri. Kalau masih muda belajar terus. Biji banyak banget harus belajar lagi. Harus coba-coba cari rasa karena karakternya beda-beda,” tuturnya.











