Kisah Keluarga Singapura yang Mencari Mantan ART asal Indonesia
Keluarga Samuel, Willie, dan Felicia dari Singapura memiliki kisah unik yang menggambarkan ikatan emosional antara mereka dan Susilowati, mantan Asisten Rumah Tangga (ART) asal Jawa Tengah. Dikenal sebagai “ibu kedua” bagi ketiga bersaudara ini, Susilowati memainkan peran penting dalam kehidupan mereka selama 16 tahun bekerja di rumah keluarga tersebut.
Janji yang Tak Pernah Terlupakan
Sejak pertama kali bekerja pada 1994, Susilowati menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Samuel, Willie, dan Felicia. Bahkan sebelum pulang ke Indonesia pada 2010, ketiganya membuat janji bahwa salah satu dari mereka akan menikah dan mengundang Wati, sapaan akrabnya, untuk hadir.
Sekarang, Samuel yang merupakan anak sulung akan menikah pada 2026. Ia dan saudara-saudaranya berharap bisa memenuhi janji itu dengan mengundang Wati. Namun, hingga kini, mereka belum berhasil menemukan alamat atau kontak Wati.
Kehilangan Kontak
Setelah pulang ke Indonesia, komunikasi dengan Wati masih berjalan baik. Namun, sejak awal pandemi, nomor telepon yang biasa digunakan Wati tidak lagi aktif. Samuel dan keluarganya mencoba menelepon, tetapi panggilan selalu gagal tersambung. Beberapa kali, ada suara yang mengangkat sebentar lalu terputus.
Hingga saat ini, mereka hanya tahu kemungkinan besar Wati tinggal di Semarang atau berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Informasi lebih lanjut tentang keberadaannya masih sangat minim.
Upaya Pencarian Melalui Media Sosial
Untuk menemukan Wati, keluarga Samuel kini melakukan pencarian melalui akun Instagram @cari.wati. Beberapa warganet pernah memberikan petunjuk, tetapi belum ada informasi yang jelas. Samuel mengatakan, mereka sudah 15 tahun tidak bertemu dengan Wati dan berharap masyarakat Indonesia bisa membantu.
“Kami ingin menepati janji yang pernah kami buat bersama,” ujar Samuel. “Jika Wati tidak bisa datang ke Singapura, kami siap datang ke Semarang atau Pati untuk menemuinya.”
Perasaan yang Mendalam
Felicia, anak bungsu dari keluarga ini, menyampaikan perasaannya dengan penuh harapan. “Kami hanya ingin memeluk beliau dan bilang terima kasih,” katanya pelan.
Bagi keluarga ini, menemukan Wati bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga menepati janji yang telah dibuat. Mereka berharap masyarakat yang pernah mengenal Wati, yang diperkirakan berusia lebih dari 60 tahun, dapat memberikan informasi yang berguna.
Korban Kebakaran di Hong Kong: Dina Martiana
Di sisi lain, kabar duka juga datang dari Dina Martiana, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Ponorogo, Jawa Timur. Dina ditemukan meninggal dunia dalam insiden kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Hongkong.
Dina adalah salah satu dari dua pembantu yang melindungi majikannya dari asap tebal saat kebakaran terjadi. Menurut informasi yang diterima oleh keluarganya, Dina terjebak di lantai 26 dan tidak bisa turun karena api yang semakin membesar.
Peristiwa Kebakaran yang Menimpa
Kejadian kebakaran terjadi di kompleks apartemen Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hongkong. Dina Martiana, yang tinggal di lantai 26, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Riko Andi, adik bungsu Dina, mengungkapkan bahwa kakaknya terakhir berkomunikasi dengan dirinya pada Selasa (25/11/2025), sebelum kebakaran terjadi.
Menurut Riko, Dina dan suaminya sempat berkomunikasi sebelum kejadian. Namun, setelah kebakaran, semua saluran komunikasi terputus. Saat kabar kebakaran menyebar, keluarga Dina merasa khawatir, terutama karena posisi kebakaran berada di tempat tinggal kakaknya.
Data Korban Kebakaran
Dari data yang diperoleh, insiden kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court menewaskan 128 orang. Sebanyak 79 orang lainnya mengalami luka serius dan sedang mendapatkan perawatan di 15 rumah sakit di Hong Kong.
Menurut data dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ada tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban jiwa dari kejadian tersebut. Satu orang lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit, namun dalam kondisi stabil.
Keluarga Dina Martiana kini sedang menyiapkan pemakaman di Desa Tajug, Kabupaten Ponorogo. Mereka berharap kepergian Dina bisa menjadi pengingat akan dedikasi dan kepedulian para PMI yang bekerja di luar negeri.











