"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Puisi Kaisar di Taman Tokyo

Perjalanan Singkat di Pusat Kota Tokyo

Dengan tiket metro Tokyo yang berlaku selama satu hari, saya memulai perjalanan dari hotel Moday menuju stasiun Nishi Kasai. Dari sana, saya naik Tozai line arah Mitaka. Tujuan pagi ini adalah berjalan-jalan di pusat kota Tokyo, yaitu sekitar Istana Kekaisaran.

Kereta melaju cepat melewati bagian dalam kota, melalui lorong-lorong panjang Tozai Line, Minami Sunamachi, Toyocho, dan Kiba. Nama-nama stasiun ini sudah tidak asing setelah beberapa hari berada di Tokyo. Setelah sekitar 20 menit, saya tiba di stasiun Otemachi di Chiyoda. Di sini, saya ingin melihat suasana di atas permukaan tanah. Tokyo terasa seperti sedang menarik napas panjang.

Eskalator membawa saya naik perlahan lalu keluar melalui exit C 14. Saat muncul ke permukaan, saya melihat kawasan perkantoran penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Yang menyambut bukan hiruk-pikuk seperti bayangan kota global, melainkan keheningan akhir pekan. Jalanan lebar, gedung-gedung perkantoran berdiri rapi, tapi langkah manusia bisa dihitung dengan jari. Tokyo yang biasanya tergesa, hari itu seperti memilih berjalan pelan. Rupanya hari ini Jepang masih libur panjang.

Banyak kantor tutup. Yang tersisa hanya bayangan gedung-gedung tinggi yang memantulkan cahaya pagi, dan angin yang menyapu trotoar tanpa perlu berbagi ruang dengan kerumunan. Di salah satu sudut, papan nama SMBC Bank muncul—tegas, bersih, seperti penanda bahwa kawasan ini memang jantung finansial. Rupanya ini gedung SMBC East Tower. Hanya ada seorang satpam yang menjadi di depan gedung. SMBC: Sumitomo Mitsui Banking Corporation, merupakan salah satu bank terkemuka di Jepang.

Bank tetap berdiri tenang, seolah tak peduli apakah hari kerja atau hari libur. Uang, pikir saya, selalu punya ritmenya sendiri. Ah nyaman sekali rasanya jalan-jalan di tengah kota Tokyo, di kaki lima yang lebar dan nyaman dalam suasana yang sepi dan sunyi. Jalan raya sepi, sesekali kendaraan melintas. Mungkin mirip Jakarta ketika Lebaran.

Saya terus melangkah dan kemudian menyeberang jalan menuju ke sebuah taman yang tampak lumayan luas. Menyebrang di Tokyo tetap di lampu merah yang ada zebra cross dan harus menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki walau tidak ada kendaraan yang lewat.

Ini adalah Imperial Palace East Garden, atau Kokurou Higashi Gyoen. Wah, ibarat saya sudah memasuki taman di dekat istana kekaisaran Jepang.

Sejenak, saya terpaku berdiri di sini, di atas hamparan kerikil yang berderik di bawah sepatu. Suara langkah terasa begitu nyata, seolah memecah kesunyian di antara gedung tinggi dan benteng kuno. Di depan, jembatan kayu ini membentang, mengajak saya meninggalkan hiruk-pikuk Tokyo modern sejenak.

Di sebelah kanan, gedung-gedung pencakar langit Marunouchi berdiri angkuh dengan kaca-kaca berkilau. Mereka adalah simbol kekuatan ekonomi Jepang modern. Namun, tepat di hadapan, dinding batu raksasa yang disusun tanpa semen ini tetap kokoh berdiri sejak ratusan tahun lalu, menjaga rahasia para Shogun dan Kaisar.

Saya menatap papan cokelat di depan saya. Ada rasa hormat yang tiba-tiba muncul saat membaca aturannya. Papan besar di tengah itu adalah aturan resmi dari pengelola taman. Isinya cukup tegas, yaitu Dilarang melakukan aktivitas komersial (seperti pemotretan profesional atau berjualan barang) tanpa izin dari Menteri Lingkungan Hidup.

Sementara pada papan kecil di kiri bawah, ada beberapa larangan standar untuk menjaga keasrian taman, seperti Dilarang bersepeda, Dilarang merokok dan membuang sampah sembarangan dan juga Dilarang lari-larian atau bermain bola.

Tempat ini bukan sekadar taman; ini adalah ruang yang dijaga kesuciannya. Tidak ada bising dagangan, tidak ada keramaian yang dibuat-buat. Hanya ada diri ini dan ketenangan yang merayap masuk ke dalam pikiran.

Di sisi kanan dinding kaca gedung pencakar langit memantulkan cahaya matahari, mengingatkan bahwa saya masih berada di salah satu kota tersibuk di dunia. Namun, saat mengalihkan pandangan ke depan, dinding batu raksasa yang disusun tangan manusia berabad-abad lalu itu seolah berkata bahwa waktu bisa berhenti di sini.

Saya mulai melangkah melewati jembatan. Di bawah, air parit yang tenang memantulkan langit biru. Di sini saya merasa kecil namun terhubung dengan sejarah yang besar. Di sini, saya bukan lagi sekadar turis yang terburu-buru mengejar kereta; saya adalah pengamat yang sedang menikmati setiap detik hembusan angin di wajah.

Setiap langkah di atas jembatan ini terasa seperti perjalanan pulang ke masa lalu. Saya menarik napas dalam-dalam, menikmati udara yang terasa lebih bersih di antara pepohonan pinus ini, dan membiarkan sejarah menyambut untuk menjelajah lebih dalam.

Saya terus berjalan melewati pepohonan yang berdiri rapi namun tidak kaku. Di beberapa sudut, ada air mancur menyembur pelan. Tidak berlebihan, tidak pula sekadar dekorasi. Ada semacam rasa puja di sana—bukan dalam arti ritual keagamaan, melainkan kekaguman sunyi pada keteraturan, pada cara air, batu, dan ruang dibiarkan berbicara sendiri.

Ini adalah Wadakura Fountain Park yang memang tidak jauh dari Imperial Palace. Di bagian tengah terdapat kolam air yang tenang dengan beberapa unit air mancur. Terdapat struktur berwarna hitam berbentuk seperti cawan atau corong besar yang merupakan ciri khas dari taman ini. Air mancur kecil di sekitarnya memberikan kesan sejuk dan dinamis pada suasana siang hari yang cerah.

Lantai di area ini menggunakan ubin batu dengan pola geometris kotak-kotak berwarna abu-abu terang dan aksen merah muda pudar. Ruangannya sangat luas dan terbuka, memberikan kesan megah dan tenang (zen). Di pojok sisi kanan, terdapat petak bunga kecil dengan tanaman berbunga merah muda yang menambah sedikit warna pada area beton.

Orang-orang yang datang pun berjalan pelan, seolah sepakat untuk tidak mengganggu dialog alam dan sejarah.

Saya berhenti sejenak, memandang air yang memantulkan langit Tokyo. Di kejauhan, gedung-gedung modern tetap terlihat, tapi tidak mendominasi. Di sinilah keunikan Tokyo terasa paling jujur: pusat kekuasaan kekaisaran berdampingan dengan pusat keuangan modern, dipisahkan hanya oleh taman dan waktu. Tidak ada yang saling meniadakan. Semuanya hidup berdampingan, dengan disiplin dan rasa hormat yang sama.

Saya terus berjalan dan melihat gerai Starbucks Coffee Kokyo Gaien di Wadakura Fountain Park. Ternyata, gerai ini bukan sekadar tempat minum kopi biasa; ia merupakan salah satu dari Starbucks Greener Stores yang sangat ikonik dan mengusung konsep berkelanjutan. Bangunannya memiliki atap melengkung yang khas dan dinding kaca besar (floor-to-ceiling) yang memungkinkan cahaya alami masuk secara maksimal.

Di salah satu sisi taman, ada sebuah prasasti yang tampak megah dengan pahatan aksara Kanji campur Hiragana. Saya tidak bisa membaca kecuali beberapa huruf. Untung ada gadget yang bisa membaca. Monumen atau prasasti ini berisi puisi Waka (puisi tradisional Jepang) yang ditulis langsung oleh Kaisar Showa (Hirohito). Kata (Gyosei) di bagian kanan menunjukkan bahwa ini adalah karya tulis resmi dari Kaisar.

Ini yang saya baca dan kemudian diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia.
* Gyosei (Karya Kekaisaran)
* Inishie no (Zaman dahulu kala)
* Hito mo mamori koshi (Orang-orang juga telah melindungi)
* Hinomoto no (Negara Jepang)
* Mori no sakae o (Kemakmuran hutan-hutan)
* Tomo ni negawamu (Mari kita doakan bersama)

“Marilah kita bersama-sama mendoakan kemakmuran hutan-hutan di Jepang, yang telah dijaga pula oleh orang-orang dari masa lampau.”

Di sisi paling kiri, terdapat nama Kaneko Otei, yang merupakan seniman kaligrafi terkenal yang menuliskan huruf-huruf tersebut pada batu monumen ini.

Di kejauhan terdapat perpaduan yang sangat menarik antara sejarah tradisional Jepang dan modernitas perkotaan. Di sebelah kiri adalah bangunan tradisional dan di sebelah kanan ada deretan gedung modern.

Tentu saja saya lebih suka mengalahi bangunan tradisional yang terbayar merupakan sebuah Yagura (menara pengintai) yang merupakan bagian dari Istana Kekaisaran Tokyo (Imperial Palace), kemungkinan besar ini adalah Tatsumi-yagura.

Bangunan ini berlantai dua dengan dinding putih bersih dan atap genteng berwarna abu-abu gelap yang melengkung khas gaya feodal Jepang.

Fondasi bangunan berdiri di atas Ishigaki (dinding batu) yang sangat kokoh, disusun dari batu-batu besar tanpa semen yang menjadi ciri khas pertahanan kastil Jepang.

Di depan terdapat parit luas yang mengelilingi istana. Permukaan airnya dipenuhi oleh tanaman air atau lumut, menciptakan tekstur kecokelatan dan hijau yang kontras dengan kejernihan air di beberapa titik.

Pohon-pohon pinus (matsu) yang dipangkas rapi di sekitar taman memberikan kesan alami dan tradisional.

Saya terus berjalan dan ternyata makin banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Saya berjalan beriringan dengan sesekali berhenti untuk beristirahat.

Akhirnya sampai di pos keamanan dan informasi yang menjelaskan bahwa pengunjung hanya bisa masuk ke Imperial Palace East Gardens (Taman Timur) secara gratis tanpa perlu mendaftar terlebih dahulu.

Di sini kita bisa melihat bekas fondasi menara kastil Edo, juga taman bergaya Jepang yang indah, dan tembok sekeliling istana.

Namun, untuk masuk ke area yang lebih dalam pengunjung harus mengikuti Guided Tour resmi yang dikelola oleh Imperial Household Agency. Wisatawan bisa mendaftar secara online di situs resmi mereka atau datang langsung ke Gerbang Kikyomon untuk mendapatkan tiket antrean dengan kuota terbatas.

Akhirnya karena tidak bisa masuk ke dalam istana, saya mengakhiri kunjungan sampai di taman luar saja. Masih banyak tempat di Tokyo yang menarik dan bisa saya nikmati.

Perjalanan singkat dari Otemachi, melewati SMBC, hingga Imperial Palace East Garden, mungkin hanya beberapa ribu langkah. Tapi ia seperti sebuah lintasan kecil yang merangkum Tokyo itu sendiri: modern, tertib, historis, dan sekaligus sangat manusiawi.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *