Pengalaman Pribadi di Azerbaijan
Awalnya, saya mengira Azerbaijan adalah negara yang mirip dengan Turki, yang terletak di Asia dan Eropa. Ternyata, Azerbaijan memang memiliki wilayah yang terbagi antara benua Asia dan Eropa. Saya tidak pernah membayangkan bahwa negara ini bisa menjadi tempat yang begitu menarik bagi saya.
Saya seorang penderita disabilitas yang menggunakan kursi roda. Di Jakarta, masyarakat sering kali tidak ramah terhadap minoritas, termasuk dalam hal agama. Saya juga seorang Kristen yang taat, dan banyak teman-teman saya yang beragama sama kesulitan untuk beribadah karena diskriminasi dari warga setempat. Berita-berita seperti ini membuat saya enggan berkunjung ke negara-negara Muslim. Meskipun saya tahu tidak semua Muslim seperti itu, pengalaman pribadi dan berita yang saya baca membuat saya merasa takut untuk menghadapi situasi yang mungkin berbeda.
Namun, ketika saya memberanikan diri untuk berkunjung ke Uzbekistan pada tahun 2023, saya menemukan bahwa kehidupan di sana jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan. Teman-teman Muslim saya di sana sangat ramah dan membantu tanpa memandang perbedaan. Pengalaman ini membuat saya kagum dan memperluas pandangan saya tentang negara-negara Muslim.
Setelah familiar dengan kehidupan di Uzbekistan dan memiliki banyak teman di sana, saya mulai mengeksplorasi penelitian dan survei saya di negara-negara bekas Soviet. Sampai saat ini, saya sudah berkunjung ke Uzbekistan empat kali, serta Armenia, Georgia, dan Azerbaijan masing-masing sekali. Tahun 2026, saya berencana untuk menjelajahi tujuh negara lainnya jika Tuhan mengizinkan.
Baku: Kota yang Menawarkan Kebijaksanaan dan Kebersamaan
Sebagai wisatawan baru di Azerbaijan, saya merasa sedikit bingung dengan identitas Timur-Barat yang saling bertemu. Dengan segala “misteri” Azerbaijan yang saya tulis sebelumnya, saya memang agak bingung. “Di mana aku?” Berada di sebuah dunia baru, antara dua benua, dengan berbagai “pembagian waktu kehidupan” dari Azerbaijan purba hingga masa kini yang futuristik.
Azerbaijan ingin bersama dalam satu misi untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Kota Baku, sebagai ibukota, menawarkan penerimaan yang nyata dalam persamaan atau penolakan terhadap perbedaan. Ini adalah kota yang membuat saya terus berpikir, “Benarkah kota Baku senyaman itu?”
Negeri Api Azerbaijan selalu memasang bendera mereka di banyak tempat. Bahkan, banyak apartemen di sana memasang bendera masing-masing di unit mereka. Bendera nasional pun selalu berkibar gagah, menunjukkan betapa bangganya warga Azerbaijan terhadap negaranya. Tiga gedung Flame Tower meliuk-liuk dengan LED bendera Azerbaijan berganti dari sore hingga malam hari.
Sejarah yang Kaya dan Warisan Budaya
Dikotomi budaya Baku semakin menarik ketika mempertimbangkan sejarahnya sebagai ibukota minyak. Jauh sebelum Pennsylvania atau Texas di Amerika Serikat, kota Baku telah memproduksi emas hitam. Sumur minyak pertama di dunia dibor di sini pada tahun 1846, 13 tahun sebelum penemuan terkenal di Amerika. Pada tahun 1900, kota Baku menghasilkan setengah dari pasokan minyak dunia, menarik raksasa industri seperti saudara Nobel dan Rothschild.
Kekayaan ini membangun gedung-gedung megah bergaya Eropa yang berjajar di jalan pusat kota. Warisan api sebagai “negeri api” terlihat di mana-mana, dari kilang minyak hingga halaman rumah yang memiliki akses ke dalam bumi Azerbaijan. Itu ada di api abadi Yanar Da dan kuil api Zoroastrian kuno yang dikenal sebagai Ateshgah atau “Kuil Api.”
Perpaduan Masa Lalu dan Masa Kini
Api LED yang menari-nari di Menara Api atau Gedung Flame Tower dengan tiga gedung futuristik modern di malam hari mencerminkan energi tanpa henti yang melestarikan kota sekaligus mendorongnya maju. Menjelajah kehidupan berabad-abad sambil berjalan di sepanjang promenade pesisir Danau Caspia, latar belakang Danau Caspi ini memang bisa membuat pikiran saya melayang-layang.
Walau hanya perjalanan singkat, negeri api ini memiliki kobaran api yang menjulang dari bumi seperti yang telah terjadi selama berabad-abad, sebuah pengingat akan api abadi yang memberi Azerbaijan. Yang juga mengobarkan jiwaku seperti api untuk terus mengeksplorasi luar biasa untuk mencari inspirasi baru di negeri ini.
Ketika saya terbang pulang ke negeriku tercinta Indonesia dan meninggalkan kota Baku, “kebingungan” awal berubah menjadi apresiasi yang mendalam bagi Azerbaijan. Mungkin yang saya rasakan bukanlah kebingungan sama sekali, melainkan “kekaguman”, kagum kepada sebuah negeri api yang cepat membawa angin sejuk di dunia arsitektur bahkan di dunia anti-mainstream!
Kota Baku yang Penuh Kontras
Kota Baku adalah kota yang penuh kontras, menampilkan perpaduan visual unik antara infrastruktur modern dan tembok abad pertengahan yang berusia berabad-abad. Para penjelajah terkenal seperti Marco Polo dan Alexander Dumas telah menulis banyak tentang kota Baku. Dan mereka semua benar-benar mengakui apa yang mereka lihat memang itulah apa adanya sebagai “negeri api” Azerbaijan.
Kota Tua Baku terkenal dengan bangunan-bangunan tradisionalnya yang sangat cantik, banyak di antaranya memiliki balkon kayu menjorok keluar dari dinding utama yang berfungsi sebagai “teras atau balkon.” Itu lah yang memungkinkan mereka tetap bisa menikmati udara luar sambil melihat pemandangan jalan-jalan sempit dan berkelok-kelok. Fitur arsitektur ini, atau jendela yang menjorok, menambah ruang ekstra dan karakter unik pada arsitektur bersejarah di daerah tersebut.
Ya, inilah Azerbaijan, dan inilah Kota Baku sebagai ibukota negara. Sebuah bagian dari dunia yang mempunyai Sejarah besar sejak jaman purba sampai sekarang, dan berusaha untuk menggapai mimpi mereka serta bersama berjuang dengan negara-negara yang lainnya bagi masa depan mereka masing-masing.











