Banjir di Muaragembong Akibat Jebolnya Tanggul Sungai Citarum
Banjir yang terjadi di kawasan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, telah menimbulkan dampak signifikan terhadap ratusan rumah warga. Peristiwa ini berawal dari jebolnya tanggul Sungai Citarum pada Senin (19/1/2026), yang menyebabkan air sungai meluap dan merendam permukiman warga. Sebanyak 553 Kepala Keluarga (KK) dari lima kampung terdampak, yaitu Kampung Bendungan, Kampung Gedung Cinde, Kampung Singkil, Kampung Gedung Bokor, serta Kampung Biyombong.
Pemerintah Kabupaten Bekasi mengakui kesulitan dalam menangani masalah ini. Oleh karena itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr Asep Surya Atmaja, meminta bantuan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian Pekerjaan Umum untuk melakukan perbaikan tanggul secara permanen. Menurut Asep, penanganan sementara seperti pemasangan karung dan beronjong tidak cukup untuk mengatasi masalah yang sering terjadi saat curah hujan tinggi.
Penanganan Darurat dan Koordinasi dengan BBWS
Asep menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan BBWS dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menangani tanggul yang rawan jebol. Saat ini, BBWS sedang melakukan pendataan dan penanganan terhadap tanggul yang menjadi kewenangannya. Meski begitu, Asep berharap penguatan tanggul dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Kalau keinginan kita sih semua tanggul yang menjadi kewenangan BBWS yang ada di wilayah kita diperkuat,” ujar Asep.
Selain itu, Asep juga telah berkomunikasi langsung dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) agar ikut membantu pembangunan tanggul di sejumlah aliran sungai di wilayahnya. Ia meminta agar aliran sungai di Kabupaten Bekasi dibuatkan tanggul menggunakan teknologi sheet pile, seperti yang digunakan di Kalimalang.
Kondisi Sungai yang Mengkhawatirkan
Asep menyoroti kondisi sungai di wilayahnya yang banyak mengalami pendangkalan dan bahkan tidak memiliki tanggul. Akibatnya, hujan dengan intensitas ringan selama dua jam saja sudah memicu banjir.
“Sungainya dangkal, ada yang bahkan tidak punya tanggul. Air naik sedikit langsung banjir. Kalau hujan semalaman, pasti penuh,” ungkap Asep.
Ia menegaskan, bakal melakukan solusi jangka panjang dengan melakukan penataan lingkungan. Persoalan normalisasi sungai menjadi prioritasnya, meskipun harus merelokasi warga yang tinggal di bantaran sungai.
Ratusan KK Terdampak Banjir
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 553 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir akibat luapan air sungai tersebut. Ketinggian air mencapai 10 hingga 60 sentimeter. Lima kampung terdampak meliputi:
- Kampung Bendungan RT 03/05 dengan jumlah 141 kepala keluarga (KK)
- Kampung Gedung Cinde RT 01/05 dengan 105 KK
- Kampung Singkil RT 02/06 sebanyak 152 KK
- Kampung Gedung Bokor RT 03/03 dengan 30 KK
- Kampung Biyombong RT 03/06 sebanyak 125 KK
Meski ratusan rumah warga terendam, tidak ada korban jiwa, luka, maupun pengungsian. Warga masih bertahan di rumah masing-masing meski arus air cukup deras.
Bantuan Logistik dan Rekomendasi Pembangunan Turap
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD telah melakukan koordinasi dan pendataan bersama RT, kepala dusun, serta pihak pemerintah desa. Selain itu, bantuan logistik seperti bronjong, karung, terpal, pop mie, air mineral, serta paket sembako telah disalurkan ke lokasi terdampak.
BPBD juga merekomendasikan pembangunan turap permanen di sepanjang tanggul Kali Citarum guna mencegah kejadian serupa terulang. “Kami merekomendasikan pembangunan turap permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum untuk mencegah kejadian serupa terulang,” ujar Dodi Supriadi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi.
Kronologi Jebolnya Tanggul
Tanggul Sungai Citarum di Kampung Bendungan, RT 03/05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, alami jebol pada Senin (19/1/2026) malam. Jebolnya tanggul menyebabkan air sungai meluap dan merendam permukiman warga. Salah seorang warga, Satibi (45), mengatakan peristiwa tanggul jebol itu terjadi sekitar pukul 23.50 WIB.
Tekanan air yang tinggi membuat tanggul tak lagi mampu menahan aliran sungai hingga akhirnya runtuh. Tak lama setelah tanggul jebol, air langsung mengalir deras ke kawasan permukiman. Sejumlah titik permukiman warga terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.
Firman, warga lainnya, menyebutkan kejadian tanggul jebol di lokasi serupa sudah dua kali. Sebelumnya, tanggul jebol terjadi pada tahun 2020 di desa yang sama. Untuk itu, ia berharap penanganan tanggul jebol sekarang ini harus dilakukan permanen. Dia juga meminta pemerintah melakukan pembenahan menyeluruh tanggul sepanjang Sungai Citarum, khususnya di wilayah Muaragembong.











