Peringatan Cuaca Ekstrem di Januari 2026
YOGYAKARTA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan analisis cuaca pada Januari 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa cuaca ekstrem berpotensi terjadi secara bergantian di beberapa wilayah. BMKG menyebutkan bahwa pada tanggal 21 Januari, hujan lebat berpotensi melanda Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
Untuk mencegah terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor di Kota Yogyakarta, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) Maryadi Utama meminta masyarakat yang berada di bantaran sungai seperti di Sungai Code untuk menjaga kebersihan sungai. Ia menekankan pentingnya menjaga tutupan lahan dan kebersihan sungai agar tidak terjadi bencana serupa dengan daerah-daerah lain yang saat ini banyak dihampiri banjir bandang dan tanah longsor.
Maryadi mengatakan bahwa pihaknya berkolaborasi bersama komunitas peduli sungai dan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk merawat lingkungan sekitar sungai. Komunitas peduli sungai memiliki tugas-tugas seperti membersihkan sungai dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah di kawasan sungai. Selain itu, mereka juga berupaya mengembangkan daerah tersebut dengan menciptakan ekonomi baru seperti wisata.
Menurut Maryadi, pasca dilakukan normalisasi sungai di Kota Yogyakarta, debit air selama hujan deras masih dapat dikontrol. Ia menyampaikan bahwa alhamdulillah debit puncak kemarin masih bisa kita amankan, bahkan di beberapa sungai seperti Winongo Gajah Wong bisa kita kendalikan.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa Kota Yogyakarta memiliki beberapa daerah rawan longsor, salah satunya adalah di Kricak, Tegalrejo. Ia menjelaskan bahwa di Kricak Tegalrejo, pihaknya merencanakan pembangunan tanggul, tetapi sebelum dibangun lalu banjir dan terjadi gogosan (kikisan). Pihak kota juga menyiapkan pembangunan tanggul. Targetnya, area tersebut tanggul dapat segera dibangun pada tahun ini. Ia menegaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara permanen, bukan menggunakan bronjong.
Sebelumnya, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa potensi cuaca ekstrem akan terjadi secara bergantian di sejumlah wilayah hingga akhir Januari 2026. Pada tanggal 21 Januari, hujan lebat berpotensi melanda Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Potensi serupa diprakirakan masih berlangsung pada 22 Januari di Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Hujan lebat juga berpotensi berlanjut pada 23 Januari di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT.
Selanjutnya, cuaca ekstrem diprediksi terkonsentrasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari, sementara peningkatan curah hujan diprakirakan terjadi di Bali, NTB, dan NTT pada periode 25–26 Januari 2026. Kondisi cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan atmosfer terbaru.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan untuk terus memantau informasi cuaca resmi dan berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, baik di darat, laut, maupun udara.
Penyebab Cuaca Ekstrem Akhir Januari 2026
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, berdasarkan pemantauan terkini terhadap dinamika atmosfer, BMKG mencatat adanya peningkatan aktivitas hujan dengan intensitas tinggi di kawasan selatan Indonesia, meliputi Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor serta mengganggu aktivitas transportasi.
Faisal juga menjelaskan bahwa gangguan atmosfer yang terpantau saat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini. Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana.











