Agustinus Adisucipto dikenal sebagai Bapak Penerbang Indonesia. Ia gugur di usia muda dan tidak dapat memenuhi janjinya pada istri tercinta.
Perjalanan Awal dan Kegigihan
Saat masih sekolah di MULO, Agustinus Adisucipto atau yang akrab disapa Cip sangat pandai. Direktur sekolah menyarankan agar ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedokteran. Ayahnya mendukung, tetapi Cip ingin masuk ke Akademi Militer Breda di Belanda. Sang ayah terkejut dengan keinginan putranya.
“Bagaimana mungkin anak inlander masuk sekolah di Breda. Anak bupati saja tak dapat, apalagi ayahmu hanya penilik sekolah. Putra Sultan saja yang dapat diterima di sana,” ujar sang ayah ketika itu.
Meski begitu, keinginan Cip untuk masuk Akademi Militer Breda tidak mudah dikalahkan. Keinginannya terdengar oleh seorang pangeran dari Surakarta. Pangeran tersebut bersedia menjadi ayah angkat Cip dan menanggung biaya sekolahnya selama di Breda. Namun, Cip menolak tawaran tersebut karena tidak ingin menyusahkan hati orang lain.
Akhirnya, Cip memilih masuk sekolah kedokteran. Meski tidak berminat, ia kuliah selama dua tahun. Di sana, ia mengenal Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, asisten dosen dalam ilmu Faal (ilmu fisiologi). Dari dialah Cip mendapat informasi penting untuk memasuki sekolah penerbangan.
Menjadi Pilot dan Berjuang untuk Kemerdekaan
Cip adalah pemuda yang ulet dan pantang menyerah. Dia mendaftar di Sekolah Penerbangan, lulus testing, tetapi ditolak karena belum mendapatkan izin orangtua. Tidak mudah menyerah, Cip mendaftar kembali setahun kemudian. Kali ini, ia membawa surat tembusan kepada asisten residen yang dikenal baik oleh ayahnya. Setelah yakin, ayah Cip akhirnya memberikan izin.
Pendidikan yang seharusnya tiga tahun berhasil diselesaikan dalam dua tahun dengan hasil memuaskan. Pertama kali Cip bertugas di Skuadron Pengintai di Jawa dengan pangkat Letnan Muda.
Selama pendudukan Jepang, semua penerbang bekas KNIL dibebastugaskan. Cip pulang ke rumah orangtuanya di Salatiga. Setelah menganggur beberapa lama, ia bekerja sebagai juru tulis di perusahaan angkutan bus. Meski bekerja pada perusahaan Jepang, Cip tidak memihak mereka.
Pendiriannya tidak goyah, bahkan ketika Jepang berhalo-halo akan menyekolahkan pemuda Indonesia ke Tokyo. Cip yakin bahwa Jepang tidak akan bertahan lama di bumi Indonesia. “Saya tahu itu, karena tiap malam saya mengikuti berita radio dengan pemancar gelap,” ujar Cip.
Tiga bulan sebelum Jepang menyerah pada Sekutu, Cip sempat melangsungkan pernikahannya dengan S Rahayu, masih keluarga dekat.
Membentuk Sekolah Penerbangan dan Berjuang untuk Negara
Setelah proklamasi kemerdekaan, Cip aktif menghimpun pemuda-pemuda dari Salatiga dan Ambarawa. Mereka bergabung dalam BKR. Ketika Cip mendengar proklamasi melalui radio, dia mulai bergerak. Pertama adalah mengambil alih perusahaan milik Jepang tempatnya bekerja dan mengibarkan bendera Merah Putih.
Suryadarma, yang kemudian menjadi Kepala Staf TKR Jawatan Penerbangan, mengutus Tarsono Rujito mayor TKR teman Cip di Militaire Luchtvaart untuk mendirikan Jawatan Penerbangan di Yogyakarta. Cip menanggapi panggilan itu. Tugas berat yang dilakukannya adalah memperbaiki pesawat-pesawat peninggalan Jepang.
Di lapangan udara Maguwo ada sekitar 50 buah pesawat dari berbagai jenis. Hampir semua bisa diperbaiki meskipun kekurangan biaya dan tenaga ahli. Pesawat yang telah direparasi ini menjadi modal perjuangan membela tanah air. Bagian Tehnik Udara mulai mendidik dan melatih para calon penerbang. Adisucipto menjadi instruktur dan kadet-kadet pertamanya di antaranya adalah Iswahyudi dan Imam Wiryosaputro.
Meninggal dalam Perjuangan
Cip bekerja keras, hampir tak kenal istirahat. Tenaganya dibutuhkan negara dan istrinya menyadari bahwa dia harus bisa menyesuaikan diri dengan tugas suami. Seringkali pesawat yang sudah direparasi rusak lagi. Sangat memprihatinkan karena suku cadang sulit diperoleh.
Pernah suatu ketika Cip mengalami kecelakaan dalam penerbangan. Pesawat yang dikemudikannya menabrak pohon kelapa, Cip selamat, namun Tarsono Rujito temannya tewas. Meski menelan korban, pesawat yang seharusnya masuk museum ini, di antaranya adalah Cureng buatan tahun 1933, ikut berjuang membantu mengadakan serangan balasan atas kota Ambarawa dan Salatiga.
Sekolah Penerbangan yang pertama didirikan Indonesia pada 15 November 1945 juga atas prakarsa pemuda Adisucipto. Sekolah itulah yang kelak melahirkan pilot-pilot tangguh, yang menjadi embrio Akademi Angkatan Udara. Cip menjadi pendidik dan pelatih. Dia pun mendapat sebutan Bapak Penerbang Indonesia.
Kehilangan yang Mendalam
Yang dipakai latihan tetap pesawat jenis Cureng, hasil reparasian yang saat itu amat berguna. Tetapi bukannya tanpa resiko. Pesawat tua ini kondisinya tidak prima. Calon penerbang kita saat itu selain harus memiliki mental dan fisik yang kuat, juga rela mempertaruhkan nyawa. Berkat gemblengan Cip, dihasilkan berpuluh-puluh ‘Gatotkaca’ Indonesia. Semboyan Rasa Cinta Udara menjadi terkenal di kalangan pemuda-pemuda Indonesia.
Sebagai pimpinan Sekolah Penerbangan Cip berusaha menambah jumlah pesawat. Dia pun mengadakan malam hiburan amal untuk mencari dana. Yang diundang tokoh-tokoh, pengusaha dan dermawan. Salah satunya dinamakan ‘Malam Pembeli Bomber’.
Selain itu dia juga mencari bantuan ke luar negeri. Untuk meninggalkan Indonesia dia harus mempertaruhkan nyawa menembus blokade musuh. Salah satunya bantuan yang diperoleh dalam perjalanan diplomasinya, bahan obat-obatan, senjata, dan tenaga pelatih.
Di India, Cip berkenalan dengan seorang industriawan Patnaik. Orang ini memiliki pesawat Dakota VT-CLA. Dia mengizinkan Cip dan Iswahyudi belajar mengemudikan pesawatnya dan akhirnya setuju meminjamkan pesawat itu kepada Cip. Pesawat Patnaik ini memberi warna sendiri di lembaran hidup Cip.
Cip bersama Prof. Dr. Abdulrachman, yang kini jadi teman karibnya, menuju India untuk membawa pesawat yang dijanjikan Patnaik itu. Dari India mereka singgah di Singapura. Pada 29 Juli 1947 pesawat ini bertolak dari Singapura mengangkut obat-obatan, bantuan Palang Merah Malaya kepada PMI.
Perjalanan berlangsung mulus. Sesaat sebelum mengadakan pendaratan pesawat berputar mengelilingi landasan. Di luar dugaan dari arah utara muncul dua buah pesawat pemburu jenis Kittyhawk milik Belanda yang langsung menyerang Dakota VT-CLA yang tidak bersenjata. Pendaratan darurat gagal, pesawat terus meluncur menabrak sebatang pohon dan jatuh terbakar. Peristiwanya terjadi di Jatingarang dekat Kali Code. Dan dari sembilan penumpangnya, delapan gugur, termasuk Cip dan Prof. Dr. Abdulrachman Saleh.
Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto (Marsekal Muda TNI Anumerta) gugur dalam usia 31 tahun dengan meninggalkan janji tak terpenuhi pada istrinya. “Kalau ada waktu nanti, aku kembali dari India, kamu dan Tody saya jemput.” Begitu janjinya.
Bapak Penerbang Indonesia telah gugur. Dia meninggalkan istri dan seorang putra yang baru berusia sembilan bulan. Yang kehilangan bukan hanya keluarganya, tetapi juga rakyat Indonesia terutama AURI.












