Pameran Kolektif “Banda Indung #2” Menghadirkan Pengalaman dan Emosi Seniman
Pameran seni yang berjudul “Banda Indung #2” menampilkan karya-karya dari para seniman yang tergabung dalam kolektif Senimom. Kolektif ini terdiri dari Annisa Dyah Puspitasari, Ima Suswanto, Jian Al Ma’arij, Lasmini, Relli Tardiyani, Ratna M. Dinangrit, Tami Yuliana Dahyar, dan Wulan Sri Wahyuni. Setiap karya yang ditampilkan menggambarkan perasaan, pengalaman, dan kekhawatiran yang muncul dari kehidupan sehari-hari.
Pameran ini berlangsung di Artspace de Braga by Artotel, Jalan Braga, Kota Bandung, dari tanggal 24 Januari hingga 15 Februari 2026. Setiap karya yang dipajang merupakan hasil dari pengolahan pengalaman, keresahan, perjalanan artistik, estetika, dan emosional para seniman. Dengan berbagai medium dan teknik yang digunakan, karya-karya ini memberikan wawasan tentang bagaimana seniman memproses perasaan mereka menjadi ekspresi visual.
Konsep “Banda Indung”
Tajuk “Banda Indung” berasal dari bahasa Sunda yang artinya adalah bekal dari ibu. Dalam konteks seni, “Banda Indung” dapat diartikan sebagai kumpulan bekal rasa, pengalaman, dan gagasan yang terkait dengan banyak kisah dalam kehidupan. Konsep ini mencerminkan ketulusan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Kurator Anton Susanto menjelaskan bahwa “Banda” merujuk pada konten yang melatarbelakangi kehadiran setiap karya. Banda adalah hasil elaborasi pengalaman, gagasan, keahlian, kecenderungan, serta artikulasi yang diejawantahkan menjadi karya. Sementara itu, “Indung” bukan hanya merujuk pada identitas sosial dan biologis para seniman sebagai perempuan dan ibu. Namun, indung juga sebagai konsep rasa dan ekspresi karena karya yang dibuat berlandaskan modus yang melibatkan faktor kepekaan rasa, estetis, emosi, serta ekspresi.
Anton menyampaikan bahwa dengan rasa keibuan tersebut, setiap karya yang hadir bisa memiliki berbagai ekspresi dan dampak, namun tetap dapat terlacak sebagai kerja kreatif dan artistik. Seperti segala tindakan ibu yang kadang lembut, kadang keras, kadang rewel, dan kadang seperti yang tidak paham, tapi semua itu selalu didasari sebagai bentuk kasih sayang.
Dimensi Identitas Perempuan
Anton mengungkapkan bahwa identifikasi terhadap diri setiap perempuan seniman memiliki beberapa dimensi yang membentuk kedirian sebagai seniman. Identitas mereka merupakan para perempuan, sekaligus anak, istri, dan juga ibu yang semuanya berdomisili di Kota Bandung. Semua identitas, dimensi, dan fungsi sosial mereka menjadi motif utama yang menjadikan mereka sebagai subjek dalam modus kekayaan masing-masing.
Di pameran “Banda Indung #2”, kata Anton, para seniman ingin menghadirkan suara-suara yang berasal dari inner-self mereka. Menurut Anton, dari karya-karya mereka, apresiator bisa melacak bagaimana kecenderungan seniman saat ini yang bekerja pada wilayah tubuh, dan pengalaman domestik sebagai medan produksi menjadi pengetahuan visual. Pandangan, gagasan, dan pengalaman kolektif mereka hadirkan menjadi karya seni sebagai pembacaan ulang tentang relasi antara ingatan, tubuh, alam, dan tradisi.
Aktualisasi Diri dan Pendekatan Karya
Selain itu, ada kesadaran dari diri mereka dalam menjalani karier kesenirupa di ranah seni rupa sebagai pilihan aktualisasi diri dan dalam dinamika sosial.
Misalnya, pendekatan medium batik yang dihadirkan Jian Al Ma’arij. Dia menunjukkan cara berpikirnya dengan kemahiran merancang motif batik. Pendekatan teknik batik menjadi metode bagaimana Jian mencoba menawarkan konsep filosofis hidup tentang siklus dan poros dalam perjalanan hidup sebagai ajaran dari leluhur.
Kemudian, ada pula medium dan teknis lukis yang disajikan oleh Wulan Sri Wahyuni, Ima Suswanto, Tami Yuliana Dahyar, dan Relli Tardiyani. Mereka meng eksplorasi beragam ide dan gaya melukis.
Misalnya, Tami Yuliana Dahyar yang memakai metode lukis apropriasi dari sampul-sampul kaset zaman dahulu. Tami mengartikulasikan gagasan dan memori-nya tentang seni tradisional yang membentuk diri dan menjadi memori kolektif masyarakat Sunda.
Ekspresi gagasan karya Ratna M Dinangrit dikuatkan dengan penggunaan teknis dan medium drawing yang menggunakan tinta di atas kertas. Untuk karyanya, Ratna memakai konsep ilustratif.
Melalui pameran “Banda Indung #2” para seniman berangkat dari hal-hal yang dekat di dalam kehidupannya, baik dalam bentuk kesadaran atau sebagai arketip. Berbagai pengalaman atau ingatan kolektif sebagai perempuan yang dibagikan dan direproduksi secara artistik dan estetik kepada publik.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











