Aksi Wakil Wali Kota Bogor dalam Mengatasi Kemacetan
Aksi Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, yang turun dari kendaraannya dan berjalan kaki menyusuri antrean kendaraan di Jalan Dr Sumeru menjadi sorotan. Kejadian ini terjadi pada Sabtu (7/2/2026), ketika ia melihat langsung situasi kemacetan yang terjadi di wilayah Kecamatan Bogor Barat.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @jenalmutaqin_17, terlihat kepadatan kendaraan dari simpang RSUD Bogor hingga RS Marzoeki Mahdi. Jenal, yang mengenakan kemeja putih, tampak berjalan menyusuri kemacetan sambil memperhatikan kondisi lalu lintas.
Mendekati RS Marzoeki Mahdi, Jenal mendatangi mobil Xpander Cross berwarna putih yang parkir di bahu jalan. Ia mengetuk bodi mobil dan meminta pengemudi segera melajukan kendaraannya karena menyebabkan macet. Di tengah peninjauan, Jenal menegur pengemudi mobil yang berhenti di bahu jalan karena dinilai memperparah kemacetan.
“Bu maju macet sampai belakang, bu semua dapat hak bu,” ucap Jenal dalam video tersebut. Tak lama kemudian, mobil tersebut kemudian melaju. Namun, sambil berjalan menjauh, pengemudi mobil sempat meminta agar dirinya menegur dengan cara yang lebih biasa dan tidak bernada keras. Jenal pun bereaksi dengan nada tinggi.
“Udah salah ngotot,” teriak Jenal. Dikonfirmasi terpisah, Jenal menjelaskan bahwa kemacetan sudah terasa sejak Jalan Loji menuju RSUD Kota Bogor. Rasa penasaran membuatnya memilih berjalan kaki menelusuri kepadatan hingga ke RS Marzoeki Mahdi.
“Tadi habis giat dari Bubulak melewati Jalan Loji jembatan sebelum RSUD dan kondisi macet,” ujar Jenal. “Saking padatnya, saya jalan kaki melihat situasi di atas, setelah RSUD arah Marzoeki Mahdi,” imbuhnya.
Menurut dia, lampu lalu lintas berfungsi normal. Namun, volume kendaraan yang tinggi serta kendaraan yang saling memotong jalur membuat arus tersendat. Keberadaan mobil parkir di bahu jalan turut memperburuk kondisi. “Lampu merah normal, tapi karena saking padatnya mobil, semuanya jadi crossing. Kebetulan ada mobil yang parkir di bahu jalan, saya tegur dengan nada keras karena lelah jalan kaki dan sempat mengatur di lampu merah,” jelasnya.
Jenal juga mengakui cara menegurnya kurang tepat dan membuka kemungkinan meminta maaf jika bertemu kembali dengan pengemudi tersebut. “Yang bersangkutan tidak terima dan bilang, ‘Yang sopan dong pak, jangan teriak-teriak’. Saya sampaikan lihat ke belakang, macet dan semua punya hak. Mungkin memang cara saya yang salah dan kalau diberi kesempatan bertemu lagi, saya mau minta maaf,” ucapnya.
Di balik peristiwa itu, Pemerintah Kota Bogor menyiapkan langkah jangka panjang berupa pelebaran Jalan Dr Sumeru. Fokusnya berada di segmen Jalan Mawar menuju Gunung Batu di depan RSUD agar kendaraan tidak lagi tertahan di persimpangan lampu lalu lintas. “Mesti pelebaran jalan, terutama dari arah Mawar belok Gunung Batu di depan RSUD supaya tidak tertahan lampu merah,” ujar Jenal.
Namun, rencana tersebut belum masuk pembahasan tahun ini karena pemerintah daerah masih memprioritaskan program lain serta menghadapi keterbatasan anggaran. “Belum masuk pembahasan tahun ini karena prioritas lahan R3, R2, underpass, keterbatasan anggaran. Tapi minimal mitigasi, petugas akan saya instruksikan lebih sigap,” kata Jenal.
Sambil menunggu realisasi rencana itu, langkah jangka pendek dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan petugas lalu lintas, terutama saat jam padat. Jalan Dr Sumeru sendiri dikenal sebagai salah satu ruas utama Kota Bogor dengan tingkat kepadatan tinggi karena keberadaan rumah sakit dan persimpangan lampu lalu lintas di sekitarnya.
Solusi Macet Surabaya
Di sisi lain, salah satu solusi yang tidak bisa ditawar untuk menangani macet di Kota Surabaya dalam jangka panjang adalah beralihnya warga ke transportasi massal. Selama transportasi publik nyaman, efisien, dan tepat waktu, pengguna kendaraan akan sangat rasional. Transportasi publik ini harus menjangkau hingga tempat tugas/kerja.
Suroboyo Bus dan Wira Wiri saat ini tengah menuju ke tujuan utama transportasi publik ini. Apalagi nantinya, mulai tahun 2027 akan dikembangkan transportasi berbasis rel yang integratif. “Harus dibangun sistem transportasi publik yang bisa menjawab kebutuhan warga. Kami yakin, ke depan semua akan berpikir rasional,” kata Wakil Ketua DPRD Surabaya, Bahtiyar Rifai.
Selain volume kendaraan, penyebab kemacetan adanya adalah parkir sembarangan serta aktivitas bongkar muat di bahu jalan, terutama di kawasan niaga dan pertokoan. Pimpinan DPRD ini menyoroti kawasan Jalan Semut hingga Kembang Jepun yang kerap mengalami perlambatan arus lalu lintas akibat kendaraan angkutan barang yang berhenti di bahu jalan.
“Kendaraan sampai truk bongkar muat di bahu jalan. Ini jelas tidak dibenarkan. Dampaknya langsung terasa, kendaraan melambat, terjadi penumpukan kendaraan dan macet. Petugas harus tegas,” kata Bahtiyar. Dia mendorong penguatan pengawasan berbasis teknologi, khususnya melalui optimalisasi kamera pengawas lalu lintas (CCTV) di titik-titik rawan.
Petugas juga harus konsisten dan tegas. Tidak hanya mengandalkan rambu larangan, sosialisasi dan pengawasan harus dilakukan lebih terstruktur. Harus dibentuk tim khusus berdasarkan wilayah. “Bisa dibuat pembagian regu pengawasan per zona, supaya jelas siapa bertugas di mana. Dengan begitu, pengawasan tidak saling lempar dan lebih efektif,” katanya.











