Reza Rahadian Kembali Berperan di Film Horor
Reza Rahadian, salah satu aktor ternama di tanah air, kembali mengambil peran dalam film horor. Proyek terbarunya adalah Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, yang disutradai oleh Azhar Kinoi Lubis dan akan dirilis pada Lebaran 2026. Nama Reza Rahadian memang sudah tidak asing lagi di dunia perfilman Indonesia. Ia telah terlibat dalam berbagai proyek film, mulai dari romansa, komedi, keluarga hingga sejarah. Namun, ia jarang muncul dalam film horor, sehingga penampilannya kali ini sangat dinantikan oleh para penggemarnya.
Ini menjadi proyek Reza Rahadian setelah 13 tahun bekerja sama dengan Soraya Intercine Films. Selain itu, ini juga merupakan kembalinya aktor tersebut ke genre film horor setelah sebelumnya terakhir kali tampil dalam film horor pada 2024 lalu. Berikut beberapa alasan mengapa Reza Rahadian tertarik untuk kembali bermain dalam film horor.
Reza Rahadian Cukup ‘Pilih-Pilih’ Proyek Film Horor
Meskipun telah banyak membintangi film layar lebar di Indonesia, Reza Rahadian masih cukup selektif dalam memilih proyek yang akan diperankannya, khususnya untuk film horor dan thriller. Ia mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menolak genre tersebut secara keseluruhan, tetapi lebih mempertimbangkan bagaimana cerita akan dikemas dan pesan apa yang ingin disampaikan.
“Saya gak pernah anti pada genre-nya gitu ya, nggak pernah sama sekali, saya hanya memang ketika ini film genre-nya horor atau thriller gitu, saya memang cukup agak pertimbangannya banyak untuk mengambil atau mengatakan iya atau tidak untuk terlibat,” ujarnya.
Tertarik Karena Cerita yang Diangkat dan Penyampaian Karakter Suzzanna Berbeda
Cerita yang menarik dan penyampaian karakter Suzzanna yang berbeda dari sebelumnya membuat Reza Rahadian akhirnya tertarik untuk berperan dalam proyek ini. Ia menilai Suzzanna yang digambarkan sebagai manusia cukup menarik untuk ditonton.
“Suzzanna yang tidak menjadi hantu itu menjadi suatu yang menarik tuh. Biasanya kan kita selalu terbiasa menonton Suzzanna yang menjadi hantu, Nyi Blorong atau siapa gitu. Nah kali ini Suzzanna menjadi manusia, menjadi dukun santet gitu ya,” tutur Reza.
Selain karena latar belakang cerita yang disampaikan, pesan dan isu yang diangkat dalam film ini membuat Reza Rahadian akhirnya tertarik untuk terlibat dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa setelah sempat dua kali menolak sebelumnya.
“Kita ingin membicarakan bahwa ketika ada sebuah ketidakadilan yang terjadi secara berulang-ulang, tentu efek dominonya adalah menimbulkan satu kemarahan. Bentuk perlawanan yang terjadi itu kita gak pernah bisa bayangkan seperti apa, langkah yang diambil oleh Suzzanna adalah langkah yang ekstrim gitu ya dan itu membawa sebuah perubahan besar,” jelasnya.
Chemistry dengan Luna Maya Sudah Klop Juga Jadi Alasan
Pengalaman jam terbang yang sudah tidak diragukan lagi membuat Reza Rahadian tidak butuh waktu lama untuk membangun chemistry dengan lawan mainnya. Dalam sebuah wawancara eksklusif, aktor berdarah Maluku tersebut bahkan mengungkapkan dirinya dan Luna Maya yang berperan sebagai Suzzanna sekaligus lawan mainnya tidak pernah bertemu saat reading, bahkan dibangun langsung saat adegan.
Sebelumnya, Reza dan Luna memang sudah saling mengenal secara individu sehingga sudah tidak butuh waktu perkenalan. Selain itu, ia juga percaya bahwa chemistry pada dasarnya dapat diciptakan lewat keterbukaan dan profesionalisme sebagai seorang aktor.
“Saya tidak percaya ada formula khusus untuk membangun chemistry, tapi chemistry itu terjadi dari bagaimana keterbukaan satu sama lain dan profesionalisme dalam bekerja,” jelas Reza.
Menonton Film Suzzanna Saat Kecil, Reza Menilai Film Ini Cukup Segar
Semasa kecil, Reza Rahadian rupanya juga menonton berbagai seri film Suzzanna yang legendaris. Sebagai penonton setia, ia menilai Suzzanna yang reborn ini cukup segar dengan unsur modernitas yang disampaikan lewat cerita, efek, hingga set yang ditampilkan.
“Yang membedakan hari ini adalah tentu efek visualnya yang berbeda, pengalaman menontonnya tentu berbeda. Ada kesegaran baru yang ditawarkan dan bukan hanya mengenai mysticism-nya aja, tapi juga bagaimana pengadeganan dan efek visualnya ditawarkan lewat masing-masing judul yang sudah pernah tayang,” tuturnya.



Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











